Banyuasin Siap Sukseskan Asian Games Tahun 2018
Pasang Iklan di DetikSumsel.com
Diposting oleh : Poetra     Tanggal : 09 Agustus 2018 20:13     Dibaca: 271 Pembaca

Aborsi, Izin Praktik Dicabut, dr.Wim Dituntut 6 Tahun Bui

dr.wim Ghazali pelaku Praktik Aborsi saat menjalani sidang di PN klas 1 A khusus Palembang.

Palembang, Detik Sumsel,-Jaksa Penuntut Umum (JPU) Purnama Sofyan SH MH menuntut dr Wim Ghazali (72) terdakwa pelaku aborsi dengan pidana penjara selama 6 tahun. Dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) klas 1A khusus Palembang,Kamis (9/8).

Dalam tuntutannya JPU Purnama menerangkan, hal memberatkan perbuatan terdakwa tidak sesuai dengan sumpah kode etik terdakwa sebagai dokter dimana perbuatan terdakwa berisiko mengakibatkan keguguran dan kematian.

Selain itu didalam persidangan terdakwa telah mengakui telah menjalani praktek dokter sejak tahun 1972 dan dimuka persidangan mengaku sering ketemu menjalani praktek aborsi dan tidak ingat lagi berapa kali melakukan praktek aborsi sedangkan hal meringankan kata JPU Purnama, tidak ada.

"Menyatakan terdakwa dr Wim Ghazali telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana percobaan aborsi.Sesuai dengan perumusan didalam dakwaan Pasal kedua 77A Undang Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo.Pasal 53 Ayat (1) KUHP. Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa dr Wim Ghazali selama 6 tahun dikurangi selama terdakwa menjalani masa tahanan.Menjatuhkan pidana tambahan berupa mencabut izin praktik terdakwa sebagai dokter dan dokter gigi atas nama dr Wim Ghazali yang ditandatangani dan dikeluarkan atas nama Walikota Palembang dan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu,"ujarnya.

Usai mendengarkan tuntutan dari JPU Purnama Sofyan,majelis hakim yang diketuai Yohanes SH menunda jalanya persidangan hingga pekan depan dengan agenda pembacaan pledoi dari kuasa hukum terdakwa.

Disisi lain usai persidangan, Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati Sumsel, Dr.Reda Mantovani SH MH LLM menerangkan, hukuman tambahan selain pidana penjara terhadap terdakwa dr Wim Ghazali berupa pencabutan izin praktik merupakan tanda keseriusan pihaknya untuk memberikan efek jera terhadap pelaku kejahatan seperti ini.

"Artinya, Kejaksaan atau PU telah berupaya melihat fakta fakta didalam persidangan sehingga hukuman tambahan berupa pencabutan ijin praktek Kedokteran setelah terdakwa selesai menjalani pidana penjara,"jelas Reda.

Terkait mengapa setelah selesai pidana penjara malah dicabut izin praktiknya, masih diterangkan mantan Kejari Jakarta Barat ini, untuk mencegah terdakwa melakukan kembali praktik aborsi setelah bebas dari penjara."Kalau didalam penjara terdakwa jelas sulit melakukan praktik aborsi namun dikhawatirkan diluar penjara terdakwa bebas melakukannya kembali. Untuk itu, kita melakukan pidana tambahan dengan pencabutan izin praktek dokter Wim,"tegasnya.

Dalam dakwan JPU sebelumnya, perbuatan terdakwa bermula pada hari Selasa tanggal 05 Desember 2017 sekira pukul 18.00 WIB, saat Terdakwa sedang praktek di Yayasan Dr. Muhammad Ali Lantai 2 di Jalan Sudirman No. 102 Palembang, datang Nurmiyati Alias Mia Binti Jon Hendri (penuntutan dilakukan terpisah) sebagai pasien Terdakwa, saat itu Nurmiyati Alias Mia mengatakan kepada terdakwa bahwa ia telah hamil dan ingin menggugurkan kandungannya, dan Terdakwa pun menyanggupi permintaan Nurmiyati Alias Mia untuk menggugurkan kandungannya dengan tarif sebesar Rp 2,3 juta.

Kemudian setelah bersepakat, lalu terdakwa meminta Nurmiyati untuk berbaring di tempat tidur pasien lalu memeriksa kondisi kesehatan Nurmiyati berupa pengecekan kondisi tensi darah dan tekanan darah, kondisi jantung dan paru-paru, juga riwayat penyakit Nurmiyati seperti penyakit jantung, maag dan keputihan namun Nurmiyati menyatakan bahwa dirinya tidak ada penyakit jantung dan maag hanya ada penyakit keputihan saja, lalu Terdakwa juga memeriksa kondisi kandungan Nurmiyati dan mengatakan bahwa saat itu kandungan Nurmiyati berusia kurang lebih 1 (satu) bulan dan dapat digugurkan dengan cara diberi suntikan, dan Nurmiyati tidak berkeberatan atas tindakan tersebut.

Kemudian Terdakwa memberikan vitamin melalui suntikan kepada Nurmiyati sebanyak dua kali yaitu di bagian pantat sebelah kiri dan sebelah kanan, selain itu terdakwa juga memberikan obat yang akan dimakan oleh Nurmiyati Alias Mia yaitu obat dengan merk tertentu yang dimasukkan ke dalam capsul obat warna hijau putih sebanyak sembilan butir yang dimakan pada pukul 20.00 WIB sebanyak tiga butir capsul, dan keesokan harinya pada pukul 07.00 WIB sebanyak tiga butir capsul dan siang harinya sebanyak tiga butir capsul dengan maksud agar dosisnya menjadi tinggi, obat merk lain sebanyak tiga butir capsul dan obat merk merk lainya sebanyak tiga butir capsul yang dimakan satu jam setelah makan obat sebelumnya masing-masing satu butir capsul.

Lalu, terdakwa mengatakan bahwa dengan suntikan dan obat-obatan yang diberikan kepada Nurmiyati akan mengeluarkan gumpalan darah atau janin melalui alat kelamin Nurmiyati, namun jika sampai keesokan harinya belum ada gumpalan darah yang keluar maka terdakwa meminta agar Nurmiyati harus datang kembali ke tempat praktek Terdakwa. Selanjutnya pada hari Rabu tanggal 6 Desember 2017, setelah semua obat yang diberikan oleh terdakwa dimakan oleh Nurmiyati namun tidak ada gumpalan darah yang keluar.

Kemudian sekira pukul 17.30 WIB, Nurmiyati kembali datang ke tempat praktek terdakwa, dan saat itu Nurmiyati mengatakan bahwa ia telah memakan semua obat yang diberikan kepadanya sesuai dengan petunjuk terdakwa namun darah yang keluar hanya sedikit.

Lalu terdakwa meminta Nurmiyati untuk berbaring di tempat tidur pasien dan memeriksa kembali kondisi kandungan Nurmiyati dengan cara meraba perut atau kandungan Nurmiyati kemudian mengatakan bahwa janin Nurmiyati masih ada, lalu terdakwa akan menyuntikkan kembali vitamin, namun sebelumnya Terdakwa meminta Nurmiyati untuk buang air kecil, tiba-tiba datang Anggota Kepolisian dari Polda Sumsel yang diantaranya Beben Bentar Hery Sutrisno, M. Dwi Satria Pahlevi dan Daniel Nataldo Lubis yang langsung mengamankan terdakwa dan Nurmiyati yang sedang berusaha menggugurkan kandungan.

Selanjutnya terdakwa, Nurmiyati bersama dengan barang bukti dibawa ke Polda Sumsel untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bahwa berdasarkan keterangan Ahli M. Asrul, SSI Apoteker yang merupakan Ketua Ikatan Apoteker Indonesia, menyatakan bahwa obat yang diberikan merupakanobat tukak lambung yang termasuk kategori obat keras yang digunakan untuk orang yang sakit maag, yang tidak boleh dikonsumsi oleh seorang ibu hamil karena memiliki kontra indikasi membuat keguguran meskipun dengan dosis terapi atau satu tablet. Keterangan Ahli M. Asrul, SSI Apoteker ini sejalan dengan pendapat dr. H. M. Zailani, Sp. OG yang menyatakan bahwa efek samping Cytosol Misoprostol adalah perasaan demam, menggigil, nyeri perut hebat, pendarahan pervaginam, abortus lengkap atau tidak lengkap serta sesak nafas berat, dan ibu hamil muda yang mengkonsumsi obat tersebut akan mengakibatkan keguguran.(vot)


  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Tinggalkan Komentar

*) Harus diisi

Refleksi