Diposting oleh : AMS     Tanggal : 21 Februari 2017 08:32     Dibaca: 731 Pembaca

Ancam Ekologi, Palembang Darurat Sampah

Sampah Menggunung di TPA Sukawitan Mencemari Lingkungan dan Berdampak pada Kesehatan Masyarakat Sekitar. (Foto/epen)

Palembang, DetikSumsel- Persoalan sampah di kota Palembang masuk kategori darurat. Pasalnya, seiring dengan meningkatnya jumlah kepadatan penduduk membuat produksi sampah bertambah di kota ini menumpuk, sementara lahan untuk menampung sisa konsumsi mulai terbatas.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota (DLHKK) kota Palembang dalam sehari kota Palembang menghasilkan 600-700 ton sampah. Bahkan saat weekendbisa mencapai 900 ton per hari. Sungguh jumlah yang fantastis yang jika dibiarkan akan menjadi ancaman bagi kota ini. Mengingat dampaknya yang sangat serius bagi kesehatan dan lingkungan. 

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel menyoroti persoalan ini lantaran telah menjadi salah satu ancaman bencana ekologis di kota Palembang. Sebab, dampak yang akan terjadi berupa kerusakan dan menurunkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.  "Pihak yang paling dirugikan adalah masyarakat dan lingkungan hidup,” kata Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, Hadi Jatmiko kepada DetikSumsel.Com, Senin (20/2)

Terlebih, kata Hadi, alasan penggunaan kemasan plastik oleh produsen sebagai satu-satunya cara paling efisien dalam produksi adalah pandangan yang sangat dangkal, sementara dampak besar yang dihasilkan tidak diperhitungkan. “Pemerintah seolah tidak pernah belajar dari kasus-kasus sebelumnya, dan justru melahirkan kebijakan-kebijakan yang menambah beban masalah. Salah satunya adalah mereduksi sampah melalui tekhnologi incinerator dan membiarkan produsen tidak mentaati peraturan perundang-undangan," sebutnya.

Penyelesaian persampahan, katanya, tidak selesai pada perubahan gaya hidup masyarakat, tanpa ada tanggung jawab yang berarti dari “pencipta sampah” yakni para produsen. Undang-Undang No 18 tahun 2008 telah mengamanatkan bahwa, Produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam”.

Selain itu, Peraturan Pemerintah No 81 Tahun 2012 secara tekhnis sudah mewajibkan bahwa Produsen wajib melakukan pembatasan timbulan sampah, salah satunya adalah dengan menghasilkan produk dengan menggunakan kemasan yang mudah diurai oleh proses alam dan yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin.

"Faktanya adalah adakah peraturan tersebut dijalankan sebagai mana mestinya? Pemerintah juga tidak sepatutnya lebih banyak melakukan aksi kampanye tentang pentingnya masyarakat mengurusi sampahnya sendiri, sementara yang berkewajiban mengelola dan mereduksi yakni produsen tidak pernah ditekan secara serius. Uujungnya adalah seolah-olah bahwa masyarakatlah yang paling bertanggung jawab," sebutnya.

Lalat Sampai Rumah, Masyarakat Hanya Bisa Pasrah

Tingginya intensitas komsumsi masyarakat Palembang membuat sampah menjadi menumpuk. Pantauan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan, saking banyaknya sampah menjadi menggunung. Terhadap kondisi ini, warga sekitar hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Yani, salah satu warga RT 8 Kel. Sukajaya Kec. Sukarame mengaku, sudah biasa dengan aroma tidak sedap dari tumpukan sampah. Bahkan, ia bersama keluarga mencari makan dari sampah yang menggunung tersebut. "Mau tidak mau, karena kehidupan kami berasal dari tumpukan sampah," keluhnya.

Hal senada yang diungkapkan Reno. Warga RT 68 ini mengaku sudah tahun tinggal di sini (TPA, red). Tapi tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menikmati. Apalagi setiap tahunnya sampah semakin banyak dan semakin tidak karuan baunya. "Awal terganggu, sekarang sudah terbiasa. Yang jadi masalah jika musim hujan, tumpukan sampah bisa mendatangkan banyak lalat. Jadi terpaksa kami menutup rapat rumah," ungkapnya.

Sebabkan Diare dan DBD

Persoalan sampah ini ternyata tidak hanya berakibat pada lingkungan, tapi juga pada kesehatan masyarakat. Kasi Pengendalian Pencegahan Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kota Palembang Yudi Setiawan SKM M.Epid menerangkan, warga sekitar tumpukan sampah sangat rentan terkena diare dan DBD.

“Dari sampah akan menimbulkan lalat, dari lalat yang akan menghinggap ke makanan itulah yang membuat diare. Sementara sampah yang terdapat genangan air dapat menjadi sarang jentik nyamuk," jelasnya.

Yudi mengajak, masyarakat agar dapat memilah dan memilih sampah sehingga dapat bermanfaat. Seperti sampah plastik, selain bisa didaur ulang masyarakat juga dapat menjual nya kepada pengepul sehingga dapat menambah perekonomian. Lalu, untuk sampah basah bisa diolah masyarakat agar menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman. “Jadi sampah tidak menjadi penyakit, tapi manfaat,” himbaunya.

Gunakan Teknologi Incinerator

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota (DLHKK) kota Palembang Drs. Faizal, AR., M.Si mengaku, Pemkot Palembang sedang menjajaki dan membentuk tim untuk menggunakan Teknologi incinerator dalam rangka menyelesaikan persoalan sampah di Metropolis.

"Kalau menggunakan incinerator berapapun banyaknya sampah tidak masalah. Tetapi kita harapkan juga masyarakat harus sadar, bahwa untuk mengurangi banyaknya sampah harus di awali terlebih dahulu oleh masyarakat itu sendiri,” kata Faizal.

Diketahui, Teknologi incinerator bekerja dengan cara membakar sampah secara optimal dengan pembakaran sempurna hingga sampah menjadi abu yang ramah lingkungan. Incinerator telah banyak digunakan di berbagai kota di Indonesia.

Tidak hanya itu, Faizal mengaku sudah menggandeng Unsri untuk melakukan penelitian terhadap sampah di kota ini agar bisa bermanfaat dan bukan menjadi bahanya lingkungan dan kesehatan. Misalnya, dengan cara mengubah sampah menjadi tenaga listrik. “Sehingga kota Palembang ini tidak lagi kekurangan listrik,” pungkasnya. (Fir/Wira/Pen)

  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Leave a Comment

*) Harus diisi

Refleksi