Diposting oleh : AMS     Tanggal : 15 Februari 2017 10:25     Dibaca: 725 Pembaca

Anda Pecinta Kuliner? Ayo Kunjungi Waroeng Kopi Rumoh Atjeh Palembang

Owner Waroeng Kopi Rumoh Atjeh Palembang, Irwan Syaputra Menunjukkan Nasi Goreng Tsunami yang Menjadi salah satu menu Andalan .

ANDA orang perantauan tapi kangen dengan masakan Aceh, atau pecinta kuliner nusantara, tapi belum pernah mencicipi cita rasa khas Aceh? Tenang! Tak perlu jauh-jauh untuk langsung terbang ke kota yang dijuluki Serambi Mekah tersebut. Sebab, kini di Palembang telah hadir Waroeng Kopi Rumoh Atjeh Palembang di Jl Letnan Murod KM 5 Palembang.

Buka dari pukul 16.00 WIB-24.00 WIB, warung yang baru dilaunching sejak dua minggu terakhir ini menyajikan varian makanan khas Aceh, mulai dari Mie, Nasi Goreng dan Martabak Aceh. Tidak hanya itu, tersedia juga minuman khasnya, yaitu kopi dan teh tarik Aceh. 

"Ide awal membuat warung ini karena rindu akan cita rasa khas masakan Aceh," kata Owner Waroeng Kopi Rumoh Atjeh Palembang, Irwan Syaputra kepada DetikSumsel.Com, Selasa malam (14/2).

Pria kelahiran Kuala Simpang Aceh, Februari 1977 ini menerangkan, bisnis kuliner di Palembang sangat menjanjikan. Apalagi di kota ini banyak orang perantauan dari Aceh dan juga telah menjadi pusat kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. “Waroeng Kopi Rumoh Atjeh Palembang ini melanjutkan pengembangan punya saudara dari sebelumnya sudah sukses di Bengkulu,” terangnya.

Irwan menjelaskan, untuk menjaga cita rasa masakan khas Aceh ini, ia sengaja mendatangkan bumbu-bumbu khas dari Aceh secara langsung. Sebab, dalam varian makanan Aceh setidaknya terdapat campuran 14 rempah. “Jadi memang kelebihannya dibumbu, semuanya ada campuran semacam kare khas Aceh dan setiap makanan selalu dilengkapi dengan acar sengar,” jelasnya.

Ia membeberkan kelebihan apa saja yang dirasakan menikmati kuliner Waroeng Kopi Rumoh Atjeh Palembang. Mie Goreng, Misalnya ada Mie Kuah, Mie Basah dan Mie Goreng. Penyajiannya dapat dicampur dengan tambahan daging, udang dan atau gabungan. “Mie Aceh ini paling banyak permintaan dari konsumen karena memang menjadi menu utama. Terlebih, Kare yang menjadi ciri khas sangat terasa di lidah pelanggan,” katanya sembari mencicipi.

Lalu, ada juga Nasgor Tsunami yang juga menjadi menu andalan karena penyajiannya yang komplet dengan tekstur berantakan sebagai pengingat bencana alam yang pernah minmpah Provinsi di ujung Utara Sumatera itu. “Bedanya, Nasgor Aceh ini selain memang terasa bumbu khas rempah Acehnya, dalam pembuatannya dinuat dengan jumlah banyak. Sehingga pelanggan memesan tidak menunggu lama, penyajiannya cepat dan langsung tersaji,” sambungnya.

Satu lagi, menu khas Aceh yang sulit ditemui di daerah perantauan yaitu, Martabak Aceh. Saat pembuatannya, beda dengan Martabak India yang telornya utuh berada dalam tepung, kalau ini telornya dicampur sehingga melebur. “Dalam penyajiannya juga dilengkapi dengan kuah kare Aceh,” katanya.

Tidak hanya makanan, tapi juga minuman khas Aceh tersedia. Sebab, bicara Aceh sangat terkenal Kopi dan Teh Tariknya. Nah, dalam daftar menu terdapat sedikitnya empat jenis penyajian kopi. Yakni, kopi saring aceh, kopi sanger, kopi tubruk aceh, dan es kopi Aceh. “Kalau kopi Aceh ini proses penyaringan Kopi nya membuat tidak ada ampasnya. Selain enak dihidangkan dalam bentuk Panas, juga sangat segar jika dicampur Es,” ungkapnya.

Dari menu Kopi ini, yang paling laris adalah Kopi sanger, singkatan dari sama-sama ngerti. Artinya, menu ini memang paket untuk mahasiswa yang koceknya terbatas sehingga harus sama-sama ngerti baik penyajian dan uangnya. “Kalau di Aceh kopi ini menjadi tradisi, dimana setiap mau berangkat kerja atau dalam kondisi santai orang-orang nongkrong di Warung Kopi, sehingga wajar jika sangat terkenal kopinya,” ungkanya sembari menengkan menu lain sepert teh tarik dan kopi vietnam juga tersedia.

Soal harga? Irwan memastikan sangat bersahabat karena memang dibuat selain untuk keluarga, juga untuk anak muda nongkrong. Misalnya kopi, harganya mulai dari Rp8 ribu sampai Rp20 ribu. Lalu, Mie (Rp13 ribu-Rp40ribu), Nasgor (Rp15 ribu-Rp35ribu) dan Martabak (Rp15 ribu-20 ribu) “Saat menikmati santapan, pengunjung dimanjakan juga dengan live music, tontongan sejarah aceh, dan disediakan ruang meeting bagi yang ingin rapat,” kata alumni Fakultas Pertanian Unsri ini.

Kedepan, Irwan mengaku ada rencana untuk mengembangkan usaha Waroeng Kopi Rumoh Atjeh Palembang ini dengan menambah jam buka sejak pagi hari. Sebab, baru dua Minggu buka respon masyarakat sangat baik terbukti dengan banyaknya pelanggan. “Alhamdulillah, kedepan kita berencana buka cabang lagi, tapi sementara ini mau buka lebih pagi agar bisa menjadi menu sarapan dan juga makan siang alternatif bagi masyarakat yang bosan menu nasi,” pungkasnya. (Dul)

  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Leave a Comment

*) Harus diisi

Refleksi