Diposting oleh : AMS     Tanggal : 15 Maret 2017 18:44     Dibaca: 253 Pembaca

Aswari: Peran Pers adalah melawan Hoax

Aswari dalam sambutan di acara pelantikan Pengurus PWI Kab. Lahat masa Bhakti 2016 - 2019.

LAHAT, DetikSumsel- Kebebasan Informasi! Itulah yang selalu kita kumandangkan selama ini. Sejak era reformasi, pers menjadi avant garde (garda depan dalam hal menyuarakan aspirasi masyarakat). 

Bupati Lahat, Aswari Rivai mengatakan saat inu Pers telah tumbuh menjadi industri, bak jamur di musim hujan, berbagai media bermunculan, bahkan untuk membuat media massa, siapapun bisa, tanpa perlu mendapatkan izin departemen penerangan

Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat Informasi. Di era Keterbukaan Informasi publik yang di amanatkan pemerintah RI dalam UU No.14 tahun 2008 telah membawa angin  Berbagai macam informasi masuk kedalam otak kita setiap hari.

"Tantangan kedepan adalah terkait pemberitaan, mengingat masyarakat saat ini mulai cerdas menyikapi setiap konten yang termuat dalam media. Hiruk pikuk berita bohong (hoax) adalah tantangan terbesar di industri media mainstream" ujar Aswari dalam sambutan di acara pelantikan Pengurus PWI Kab. Lahat masa Bhakti 2016 - 2019, 14 Maret 2017

Fungsi Pers, menurut Aswari adalah mengendalikan diri supaya informasi yang masuk, adalah informasi yang baik. Informasi yang bisa mengubah diri dan dunia kita menjadi lebih baik. Informasi yang membuka wawasan kita tentang kecanggihan teknologi supaya kita tidak menjadi manusia gaptek. Informasi yang bisa menjadikan kita manusia yang lebih open minded, dan bahkan bisa menggerakkan hati kita untuk bermanfaat untuk orang lain.

Aswari menambahkan trend pemberitaan saat ini juga mulai bergeser dari media mainstream ke media non mainstream yakni Sosial media. 

"Kita mengenal Istilah Netizen (internet dan citizen) yang berarti warganya. Artinya, mereka yang lahir sejak tahun 1990 masuk dalam kelompok masyarakat yang terbuka terhadap informasi.

Internet merubah pola pikir. Sosial media, sebut saja demikian karena internet yang paling dekat dengan kita adalah ini. Darinya, semua informasi bisa masuk bebas 24 jam. Entah itu baik dan buruk. 

"Timeline facebook saya saat ini penuh dengan berbagai berita yang saya sendiri tidak tahu kebenaran dan keshahihannya. Link berita yang saya baca dari media online itu memang salah, karena sosial media tujuannya memang diciptakan untuk saling bersosialisasi dan sharing everything meski terkadang saya merasa timeline kita seperti sampah" ujarnya. 

"Masyarakat harus mereduksi dan memiliki filter dalam menghadapi serangan informasi ini. Melalui acara ini, saya berharap PWI Lahat sebagai garda depan pemberitaan memiliki sikap yang kritis namun konstruktif" ujarnya. 

Rekan pers sebagai pilar demokrasi, lanjut Aswari, sebaiknya tidak perlu jumawa karena yang seharusnya kita lakukan adalah membuat Benteng Informasi agar tidak terjerumus kedalam jurang keterbukaan informasi. 

"Tugas berat dari forum ini adalah mengedukasi masyarakat agar bisa membedakan mana ranah privat dan publik. Sehingga pers nantinya tak terjebak dan malah ikut menyebarkan berita hoax" ujarnya kepada wartawan di Pendapa, Kab.Lahat.

Aswari berpesan jika bukan KEBENARAN, bukan KEBAIKAN, dan tidak ada KEGUNAAN, maka tidak perlu kita terima atau kita sampaikan . dan apabila kita terlanjur mendengarnya, jangan sampaikan pada orang lain, dan sebaiknya informasi tidak menyakiti hati orang lain (cyber bullying). (Ril/Dul)

  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Leave a Comment

*) Harus diisi

Refleksi