Diposting oleh : AMS     Tanggal : 09 Februari 2017 07:02     Dibaca: 234 Pembaca

Bermanfaat Untuk Harokah wal Barokah

Hernoe Roesprijadji (Kanan) bersama Walikota Palembang, Harnojoyo dan Ketua DPRD Kota PAlembang, H Darmawan saat menyambyt "Kapsul Waktu" 2085, tahun 2015 lalu.

Mengenal Hernoe Roesprijadji, Koordinator Aliansi Relawan Palembang Emas

KIPRAH Hernoe Roesprijadji, SIP mulai dikenal publik ketika sukses menjadi koordinator gerakan ‘’Ayo Kerja’’ 70 tahun Indonesia merdeka (G-70) Sumsel, tahun 2015 lalu. Waktu itu, ia sukses menggelar serangkaian acara untuk menyambut kedatangan kapsul waktu 2085 dengan berbagai kegiatan. Diantaranya, Seminar 7 impian anak bangsa, bazar murah, parade mobil hias dan malam inagurasi.

----------------------------------

SEDIKIT bicara tapi banyak bekerja, itulah gambaran sosok Hernoe, begitu panggilan akrabnya. Meskipun telah menjadi pimpinan perusahaan, ia tetap mau turun ke lapangan, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial di masyarakat. Bahkan kini, ia aktif mendampingi walikota Palembang mensukseskan program gotong-royong, setiap Minggu pagi.

“Program Minggu Bersih inikan, relawan “Áyo Kerja” yang memulainya tahun 2015 lalu. Nah, sekarang dijadikan program rutin Pemkot Palembang. Sehingga kami tetap harus mendukung dan ikut mensukseskan program ini dengan melebur menjadi Aliansi Relawan Palembang Emas,” kata Hernoe saat dibincangi di ruang kerjanya, belum lama ini.

Tidak heran, jika setiap Minggu pagi selalu ada pasukan khusus dari Aliansi Relawan Palembang Emas ini ikut terjun mendampingi walikota Palembang membersihkan saluran air di setiap kelurahan. Sekalipun ia tidak ikut bergabung jika ada halangan, tapi relawan tetap ikut terjun tanpa komando karena sudah menjadi komitmen sejak awal.

“Saya melakukan ini sebenarnya sederhana, hanya ingin menjadi manusia yang bermanfaat, anfauhum linnas. Manusia itu, makhluk individu juga sosial, ada nuansa hablum minnas dan hablum minallah. Dan inilah yang saya lakukan untuk terus bergerak dalam kegiatan sosial,” tutur Hernoe dengan logat jawanya yang medok.

“Yang pasti, kita itu harus berbuat dengan niat yang tulus dan ikhlas, jangan diawali dengan kepentingan terlebih dahulu. Bahwa dari sikap kita ada efek positifnya, itulah berkah dari perbuatan kita,” katanya lagi.

Ansor Lima Zaman

Hernoe rupanya sudah lama bergelut di bidang sosial dan organisasi, sebelum ditugaskan di Bumi Sriwijaya, ayah tiga anak ini sudah aktif di PP Gerakan Pemuda Ansor. Dari organisasi inilah, ia mendalami nilai dasar pergerakan dengan menerapkan tawasut (Netral), tawazun (Seimbang), tasamuh (Toleransi).

“Jadi ketika saya dipercaya oleh Mensesneg sebagai Koordinator “Ayo Kerja” Sumsel, inilah yang saya terapkan. Dan Alhamdulillah semua elemen berkumpul menjadi satu, mulai pemuda islam, anak band, komunitas mobil dan motor, organisasi kepemudaan, eksekutif serta legislatif. Nilai universal menyatukan kita semua untuk bangsa dan negara,” papar Hernoe.

Pria kelahiran Blitar, 30 April 1966 ini diketahui, sudah aktif di Ansor sejak tahun 1990 saat ketua umumnya Iqbal Assegaf dan bergabung awalnya bukan karena pengkaderan, tapi karena kerjaan. Tapi seiiring berjalan waktu mengikuti dan menikmati pengkaderan ini. “Kebetulan tahun 1996 itu, sedikit kader yang menguasai komputer jadi saya dimasukkan pada bidang pemberdayaan ekonomi,” terangnya.

Selanjutnya, ia terus berkarir masuk dalam struktur organisasi dan dipercaya di departemen pemberdayaan ekonomi mendirikan koperasi, minimarket dan mengelola web Ansor di zaman kepengurusan Syaifullah Yusuf yang kini Wagub Jawa Timur dan Nusron Wahid kini Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan Bapilu DPP Golkar. “Jadi jika dihitung memang saya ini, lama di Ansor, sampai lima zaman Presiden (Soeharto, Habibi, Gusdur, Megawati dan SBY),” ungkapnya.

Hernoe ternyata tidak aktif hanya di satu organisasi saja, sejak mahasiswa ia aktif di resimen mahasiswa (Menwa). Jenjang pengkaderannya juga sampai internasional, mulai Diksar Kursaua Provinsi dan Nasional. Kemudian, menjadi palapis pasukan latih pegawai simpanan. “Awalnya memang, cita-cita saya ingin menjadi tentara, tapi  gugur di kesehatan, tapi hikmahnya pasti ada dan sekarang saya bisa mengabdi di Sumsel,” katanya.

Hingga kini, ia tercatat menjabat di banyak organisasi kemasyarakatan. Selain sibuk bekerja sebagai Direktur PT. CNG Hilir Raya, perusahaan distributor gas dengan merek dagang Musi Gas, ia menjadi wakil ketua PWNU Sumsel, Sekretaris Pembina PWGP Ansor Sumsel, ketua Dewan Pakar Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Sumsel dan berbagai organisasi lainnya. “Saya ingin bermanfaat untuk harokah wal barokah. Selalu berbuat manfaat sekecil apapun, jika ini kita lakoni maka akan ada saja kesempatan untuk memberikan manfaat,” paparnya.

Berprestasi Sejak Kecil

Sejak umur 3 tahun, Hernoe sudah ditinggal ibunya karena wafat tahun 1969. Sejak itu, Hernoe kecil diasuh oleh kakek dan neneknya karena ayahnya harus merantau ke Denpasar, Bali mencari uang. “Ketemu dan mendapat sentuhan ayah hanya setahun sekali, saat idul fitri,” kenangnya. Keadaan inilah yang memaksa bungsu dari 3 bersaudara ini harus mandiri, dan sejak SMP sudah ngekos karena sekolah berada di pusat Kecamatan yang jauh jaraknya dari kampung halaman. “SMA saya di Srengat, pusat kota Blitar juga jauh dari rumah,”ungkapnya.

Sejak SD, Hernoe selalu berprestasi dan menajdi lulusan terbaik. Bahkan, saat SMA ia menjadi juara teladan SMA se-Jatim, padahal tahun 1984 itu, SMA tempat sekolahnya baru 2 tahun berdiri. Dan saat kuliah, Hernoe dapat diterima di Universitas Indonesia di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP UI). “Tahun 1993 saya menikah dengan bunga desa dan alhamdulillah, dikarunia 3 orang anak,” tuturnya.

Kedepan, Hernoe berobsesi ingin terus memberikan manfaat kepada sesama, karena jika ingin kuat, perbanyak kesempatan untuk bermanfaat dan membantu orang lain. (Dul)

  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Leave a Comment

*) Harus diisi

Refleksi