Diposting oleh : Butet Kertaradjasa     Tanggal : 13 September 2017 17:16     Dibaca: 110 Pembaca

Cegah Karhutla, Ini yang Dilakukan Minamas

Presiden Direktur PT Minamas Gemilang Haryanto Tedjawidjaja, Asisten Deputi Tata Kelola Kehutanan Kemenko Bidang Perekonomian, Prabianto Mukti Wibowo, Rektor Unsri Prof Dr Ir Anis Saggaff MSCE, dan Kapolda Sumsel saat menandatangani MoU.

Palembang, Detik Sumsel- Komitmen penanganan pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tampaknya tidak hanya fokus dilakukan Pemerintah, tetapi stakeholder lainnya juga sangat serius melakukan antisipasi.
Misalnya saja yang dilakukan Minimas Plantation yang tengah melaksanakan program pencegahan kebakaran berbasis masyarakat bekerja sama dengan akademisi, membentuk Desa Mandiri Cegah Api. Dalam hal ini, Minamas Plantation menggandeng Universitas Sriwijaya.

Program ini merupakan kali kelima bagi Minamas Plantation, dalam upaya perusahaan untuk bersama-sama dengan masyarakat, Pemerintah dan akademisi dalam mengurangi kasus kebakaran hutan dan Iahan di beberapa wilayah sekitar konsesi perusahaan, yang tersebar di Sumatra dan Kalimantan Selatan. 

Presiden Direktur PT Minamas Gemilang, Haryanto Tedjawidjaja mengatakan, dengan menggandeng Universitas Sriwijaya, PT Guthrie Pecconina Indonesia yang merupakan anak perusahaan Minamas Plantation di Kabupaten Musi Banyuasin, akan memberdayakan 5 Desa, yaitu Desa Rantau Panjang, Desa Karang Ringin II, Desa Ulak Seberau dan Desa Karang Anyar di Kecamatan Lawang Wetan, serta Desa Gajah Mati di Kecamatan Sungai Keruh. 

"Para peneliti dan ilmuwan dari Universitas Sriwijaya akan berbagi pengetahuan dan keahlian dalam menemukan solusi tuntas bencana asap. Mereka akan melakukan kegiatan pendampingan dan hidup di tengah-tengah masyarakat, mengidentifikasi daerah rawan kebakaran dan faktor-faktor terjadinya pembakaran Iahan setiap tahunnya, sehingga diharapkan pada akhir program akan ditemukan pendekatan yang tepat sasaran dan dapat diterapkan sebagai solusi jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," terangnya.

Keberhasilan yang dicapai sebelumnya dengan Universitas Riau dan Universitas Lambung Mangkurat dalam membina 15 Desa di Riau dan Kalimantan Selatan sehingga tercapai zero-burning, mendorong Minamas Plantation untuk terus membina desa-desa lain, khususnya di sekitar konsesi perusahaan. 

Perubahan perilaku masyarakat dalam membuka iahan terlihat pada programprogram sebelumnya. Sehingga para akademisi dan tim pendamping dari Universitas ingin memperluas cakupan dengan memberikan pemahaman karlahut (kebakaran Iahan dan hutan) sejak di bangku sekolah.

"Mereka akan bergantian memberikan pemaparan dan penjelasan ke sekolah-sekolah di 5 Desa. Pentingnya pendidikan sejak dini mengenai karlahut secara tidak langsung membentuk perilaku anak-anak sehingga ketika mereka dewasa, pemikiran mengenai tata kelola Iahan berkelanjutan dengan metode zero-burning sudah menjadi pengetahuan mendasar yang mereka miliki,” ujar dia.

Disamping itu, program tersebut sejalan dengan Program Pencegahan Kebakaran Hutan Berbasis Klaster yang sedang digalakkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian baru-baru ini. 

Diakuinya, Pulau Sumatera dan Kalimantan dibagi menjadi beberapa klaster untuk memudahkan penanganan kebakaran. Klaster-klaster tersebut terdiri dari beberapa desa rawan kebakaran yang dipimpin oieh Leader (perusahaan yang memiliki konsesi terbesar di wilayah yang bersangkutan).

Meski PT Guthrie Pecconina Indonesia tidak ditunjuk sebagai Leader, namun mengingat kelima desa yang mengikuti Program Desa Mandiri Cegah Api kali ini, masuk kedalam klaster 8 di wilayah Sumatra Selatan, maka program ini juga sekaligus sejalan dengan program penanganan kebakaran yang digulirkan oleh Pemerintah pusat. 

Ditambahkan, Asisten Deputi Tata Kelola Kehutanan Kemenko Bidang Perekonomian, Prabianto Mukti Wibowo menambahkan, pola pendekatan yang harus dilakukan bersama antara perusahaan yang berada di lokasi desa rawan kebakaran yakni dengan mengoptimalkan program patroli terpadu. Selain itu juga dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa, dan soliasisasi secara massif, dengan melibatkan peran lintas perusahaan dan partisipasi desa/masyarakat dalam tiap klaster pencegahan kebakaran.

"Ini dilakukan untuk mencegah kebakaran dan memadamkan api secara dini," terang dia. Rektor Unsri, Anis Saggaff mengatakan, Minamas Plantation dan Unsri sudah melakukan kerjasama untuk melaksanakan program pencegahan kebakaran berbasis masyarakat dimana membentuk Desa Mandiri Cegah Api. Minamas Plantation merupakan mitra korporasi pertama bagi Unsri dalam mengatasi masalah karhutla.

"Nantinya kita akan melakukan sosialisasi dan pembinaan serta penyuluhan kepada masyarakat desa untuk menghentikan kebiasaan membakar lahan demi membuka lahan pertanian. Unsri akan menyediakan SDM untuk bisa terjun ke masyarakat dan bersentuhan langsung," jelasnya.

Ia menuturkan, penyuluhan dilakukan khusus untuk daerah yang rawan terbakar. Adapun SDM yang diterjunkan adalah mahasiswa yang aktif dan ingin bersumbangsih demi negara.

"Unsri memiliki ahli dan semua yang diperlukan, tinggal bagaimana implementasi di lapangan. Kami menyakini dengan adanya kerjasama ini, akan menurunkan kebiasaan masyarakat membakar lahan," tutur dia.

Sementara itu, Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengatakan, upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumsel menjadi skala prioritas dari kepolisian saat ini. "Semua yang kita lakukan ini, bukan karena ancaman bakal dicopot, namun karena memang kita peduli. Jika terjadi kebakaran hutan dan lahan maka kita semua yang akan rugi, lingkungan dan masyarakat sendiri juga akan merasakannya," kata dia.

Ia mengakui berbagai upaya preventif dan persuasif telah dilakukan Polri sebagai upaya meminimalisir karhutla. Diantaranya dengan pembangunan embung dan sekat kanal, hingga penyebaran-penyebaran pamplet dan maklumat larangan membakar hutan dan lahan.

"Ada ancaman hukumannya, karena itu tidak boleh membakar hutan dan lahan apapun alasannya," kata dia. Bahkan bukan hanya ditujukan kepada perorangan, aturan serupa juga diterapkan bagi perusahaan-perusahaan.

Pihaknya meminta kepada perusahaan agar juga turut serta dalam upaya tersebut diantaranya dengan melengkapi alat-alat pemadaman kebakaran. Seperti Minamas Plantation yang cukup mendukung upaya zero fire di Sumsel, yakni dengan memberikan bantuan kepada berbagai pihak, salah satunya motor pemadam kebakaran (damkar) sebanyak 4 unit kepada Polda Sumsel.

"Ini akan ditempatkan dan dipergunakan sebagaimana fungsi dan manfaatnya. Ini diharapkan akan membantu memaksimalkan zero fire di Sumsel," tandasnya.(tet)

 

  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Leave a Comment

*) Harus diisi

Refleksi