Diposting oleh : Erizal Wandi     Tanggal : 23 Mei 2017 01:01     Dibaca: 258 Pembaca

Ini Alasan Disdukcapil Kota Prabumulih Belum Siap Terbitkan KIA

Salah satu warga saat membuat akte kelahiran di kantor Disdukcapil Kota Prabumulih

Prabumulih, Detik Sumsel - Meskipun beberapa daerah kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Selatan telah menjalankan program penerbitan Karti Identitas Anak (KIA), namun masih banyak daerah lainnya yang belum siap menjalankan program tersebut. Salah satunya yakni Kota Prabumulih yang hingga saat ini masih melakukan tahapan pengumpulan data.

Belum bisa dijalankannya program penerbitan KIA itu lantaran terkendala pada proses pengumpulan data akte kelahiran. Pasalnya, dari 69.322 jiwa penerbitan akte kelahiran usia 0-18 tahun, baru sekitar 27.516  akte yang sudah terinput dalam bentuk SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan).

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, M Effendy SH melalui Kabid Pelayanan Pencatatan Sipil Enny Susilawati SSos mengatakan, untuk bisa diterbitkannya KIA tersebut terlebih dahulu anak yang bersangkutan harus memiliki akte kelahiran. Pendataan sendiri dilakukan secara komputerisasi yang tersambung secara online melalui server Disdukcapil.

"Proses pendataan secara online ini yang menjadi hambatan bagi kita, karena masih banyak akte kelahiran dalam bentuk manual. Sehingga belum bisa di cek secara online karena tidak terkonverter ke server kita," ujar Susilawati kepada detiksumsel.com, Senin (22/5).

Untuk penerbitan KIA sendiri, setiap daerah harus mampu melakukan pengumpulan data akte kelahiran secara online hingga 80 persen. Sementara Disdukcapil Kota Prabumulih sendiri baru mampu mengumpulkan data akte kelahiran secara online sebesar 39,69 persen atau sekitar 27.516 jiwa. Sedangkan 41,806 akte kelahiran yang masih secara manual saat ini masih dalam proses entri untuk perubahan dari manual menjadi SIAK.

"Kalau capaian sebenarnya sudah lebih dari 80 persen. Namun itu bukan secara online. Untuk itu kita terus melakukan pendataan dengan cara jemput bola ke sekolah-sekolah untuk mencapai target 80 persen," terangnya.

Masih kata Susilawaty, dengan lambannya proses penginputan akta yang manual ke SIAK, Enny mengaku pihaknya sudah secara langsung mempertanyakan hal tersebut ke pusat.

"Tapi karena disana sibuk, sehingga data manual ke SIAK belum di konversi. Selain itu kita juga terkendala peralatan serta tenaga untuk melakukan pendataan ulang. Itu tidak hanya terjadi di kita rata-rata daerah lainpun masalahnya sama," pungkasnya. (Ichal)

  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Leave a Comment

*) Harus diisi

Refleksi