Diposting oleh : AMS     Tanggal : 30 Agustus 2017 19:31     Dibaca: 575 Pembaca

Pemilih Diminta Tak Mudah Percaya Rilis Hasil Survey

ilustrasi (Ist)

Palembang, DetikSumsel- Sejumlah lembaga survey mulai merilis elektabilitas bakal calon kepala daerah mendekati pesta demokrasi secara serentak tahun depan. Menariknya, setiap lembaga survey menyajikan data hasil survey yang berbeda sehingga menimbulkan respon beragam dari publik.

Direktur Utama Ipol Studies Institution for politicas adan law studies, Mulyono mengatakan, hasil survei merupakan produk ilmiah dan seharusnya juga dapat dipertangunggjawabkan secara ilmiah. “Ketika kita melihat adanya perbedaan yang signifikan antara hasil lembaga survei dengan lembaga survei lainnya, ini pasti ada penyelewengan ilmiah guna melakukan pengiringan publik,” kata Mulyono kepada awak media di Palembang, Rabu (30/8)

Ia menduga, ada lembaga survei yang segaja dimanfaatkan untuk melakukan pembunuhan karakter kandidat tertentu. Apalagi saat ini proses seleksi di partai politik sedang berjalan, sehingga ada dugaan hal ini segaja dilakukan untuk memperoleh dukungan dari partai politik tertentu. ”Hal ini adalah hal yang tidak sehat dalam pesta demokrasi,”ujarnya.

Mulyono mensinyalir, ada upaya kandidat tertentu yang melakukan cara-cara tidak elegen sehingga memaksa lembaga survei mengeluarkan hasil yang tidak sebenarnya, dan pada akhirnya melakukan pembodohan publik.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat agar bersama-sama mensukseskan Pilkada Gubernur yang akan berlangsung tahun depan dengan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan tertentu,” ajaknya.

Terpisah, pengamat politik Rektor Universitas Taman Siswa Palembang, Joko Siswanto mengatakan bahwa lembaga survei yang melakukan survei kandidat kepala daerah adalah lembaga yang kredibilitas, sehingga dengan itu maka dapat diepecaya oleh publik. “Yang kedua memiliki metodelogi yang sama ketika melakukan survei, dengan lembaga  survei lainnya, dalam merilis hasil survei kepada publik,” kata Joko.

Jika ada lembaga survei dengan lembaga survei lainnya hasilnya berbeda  jauh antar kandidat, maka diduga Lembaga tersebut dipesan oleh kelompok tertentu hasilnya akan memberikan keuntungan bagi kelompok tertentu. ”Kalau hasilnya berbeda jauh dikhawatirkan ada yang membayar," katanya.

Dalam melakukan Survei dirinya meminta untuk profesional sehingga hasil yang dihasilkan juga memberikan gambaran kepada publik, dan tentu dalam mengambil sampling jangan hanya fokus di daerah yang mendukung salah satu kandidat. “Namun dilakukan secara menyeluruh sehingga hasilnya akan lebih objektif,” pungkasnya. (Dul)

  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Leave a Comment

*) Harus diisi

Refleksi