Detik Sumsel Goes to Campus
Pemerintah Kabupaten Banyuasin
Diposting oleh : Puji     Tanggal : 20 Desember 2017 18:17     Dibaca: 409 Pembaca

Ratusan Kilogram Telur Belangkas Berhasil Diamankan Ditpolairud Polda Sumsel

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara saat memimpin pres rilis tangkapan telur belangkas di Mapolairud Polda Sumsel

Palembang, Detik Sumsel -- Telur Belangkas atau Ketam Tapak Kuda seberat 115,5 kilogram berhasil diamankan oleh petugas Direktorat Polair Polda Sumsel diperairan Sei Semilang, Desa Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin dari tangan tiga orang tersangka.

Ketiganya diketahui Amat Dani (49) warga Desa Sungsang IV, Nawi (63) warga Lorong Gelora RT2, Desa Sungsang II, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin yang ditangkap pada Rabu (13/12) lalu sekitar pukul 20.30, Muhammad Arif (31) warga Lorong Salak, RT12, Desa Sungsang II, Kecamatan Banyuasin II, Banyuasin, ditangkap satu hari setelah penangkapan Amat dan Nawi, Kamis (14/12) sekitar pukul 09.00.

Ketiganya ditangkap berawal dari kecurigaan anggota polisi Kapal Sei Rambang V-3004 dan Pangkalan Sandar Sei Semilang yang tengah melaksanakan patroli petugas melihat aktifitas mencurigakan di sebuah gudang di perairan Sei Semilang.

Benar saja saat masuk, didapati tersangka Amat dan Nawi tengah mengepak 15,5 kilogram telur belangkas beserta 59 ekor belangkas yang siap dijual.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dua orang tersangka tersangka mereka mendapat telur dan belangkas tersebut hendak dijual kepada tersangka Muhammad Arif.

Berdasarkan pengakuan dua tersangka itulah petugas melakukan pengembangan dan akhirnya menangkap Arif dengan barang bukti berupa 100 kilogram telur belangkas siap edar yang hendak dijual.

"Kami menjaring setiap hari di perairan itu. Selain dapat ikan, kami juga dapat blangkas dan telurnya. Kami pisahkan dan jual ke Arif. 15 Kg telur itu hasil menjaring empat hari," ujarnya Amat saat gelar perkara, Rabu (20/12).

Dirinya juga mengaku tidak tahu kalau telur belangkas yang akan dijual merupakan hewan yang dilindungi karena dia menyangka blangkas tidak dilindungi dan bisa ditangkap layaknya ikan sungai lainnya. Belangkas yang akan dijual Amat ke Arif harganya Rp5.000 per ekornya.

Sedangkan untuk telur dirinya menjual Rp50.000 per kilogram. Lain hal nya dengan pengakuan tersangka Arif dia sudah dua kali menjual telur belangkas dan belangkas hidup kepada seorang warga Medan, Sumatera Utara, berinisial YS (DPO). Dan rencananya telur belangkas tersebut akan dikirim ke Medan menggunakan jasa ekspedisi jalur darat.

"Saya beli dari nelayan seperti Amat dan Nawi sekilonya Rp50.000. saya jual lagi Rp80.000 jadi saya untung Rp30.000. sebelumnya saya sudah dua kali jual ke YS. Masing-masing kirim 60 kilogram," akunya.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara didampingi Direktur Polair Kombes Pol Robinson Siregar berujar, pihaknya menggagalkan penjualan sawa dan telur satwa dilindungi belangkas.

"Belangkas adalah satwa dilindungi. Sehingga perburuan terhadapnya dilarang dan termasuk tindak pidana," ujarnya.

Pihaknya masih mengejar satu tersangka lain yang merupakan warga Medan, Sumut yang berperan sebagai penadah. Pihaknya pun akan menelusuri alur distribusi penjualan satwa yang dimanfaatkan sebagai obat kuat tersebut, mulai dari sumber permintaan hingga pemenuhan.

Apakah ada indikasi permintaan dari luar negeri, pihaknya masih menelusuri hal tersebut. Pihaknya menyita barang bukti berupa 59 ekor belangkas, 54 hidup dan lima diantaranya mati serta 15,5 kilogram telur belangkas dari tersangka Amat dan Nawi. Sementara dari tersangka Arif disita 100 kilogram telur belangkas.

"Untuk ketiga tersangka akan diancam dengan pasal 21 ayat 2 Undang-undang tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan diancam dengan hukuman lima tahun penjara," ujarnya.

Sementara Kepala Urusan Perlindungan Pengamanan Kawasan Konservasi BKSDA Sumsel Muhammad Andreansyah mengatakan, perburuan ketam tapal kuda memang kerap terjadi karena seluruh bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh manusia, mulai dari daging, darah, dan telurnya.

"Telur dan dagingnya dikonsumsi, sedangkan darah digunakan untuk obat. Untuk perburuan telur sendiri biasanya pada saat musim tertentu saja. Namun apabila dibiarkan, dikhawatirkan akan mengganggu ekosistem ketam tapal kuda tersebut," ujarnya.

Andre meyakini, permintaan untuk pembelian telur tersebut terindikasi datang dari Negeri Jiran Malaysia, karena di Indonesia sendiri belum ada kebiasaan u tuk mengonsumsi telur belangkas. "Di sana harga telur ketam tapal kuda tinggi, bisa mencapai Rp500.000 per kilogramnya," ujarnya.(oji) 

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Tinggalkan Komentar

*) Harus diisi

Refleksi