Diposting oleh : DP     Tanggal : 10 Agustus 2017 08:41     Dibaca: 161 Pembaca

Rawan Kejahatan, Jamaah Haji Diminta Waspada

Layanan mobil golf untuk jemaah haji lanjut usia atau lansia. (Istimewa)

DETIK SUMSEL - Sejumlah peristiwa yang merugikan jemaah calon haji Indonesia mulai bermunculan di Mekah, Arab Saudi. Mulai dari tindak kriminal sampai kasus penipuan terkait jasa dorong kursi roda.

Oleh karena itu, Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) meminta jemaah selalu waspada dan berkoordinasi dengan petugas mengenai kendala yang dihadapi.

Berdasarkan data-data yang masuk melalui Kasie Perlindungan Jemaah (Linjam) PPIH Daerah Kerja Mekah Letkol Rijal Kani, setidaknya ada dua kasus pencopetan dan lima kasus penipuan terkait jasa dorong kursi roda. Pelaku adalah mukimin yang tidak bertanggungjawab dan mencari keuntungan dari jemaah.

Untuk itu, guna memberi keamanan dan kenyaman, Rijal Kani telah meminta kepada seluruh personel Linjam di setiap sektor untuk waspada dengan orang-orang tidak dikenal yang masuk ke hotel.

"Sudah banyak yang kita tangkap, dari sektor 2, 5, 6 dan 8. Mereka ini mukimin, yang menawarkan jasa dorong kursi roda. Sudah kita data semua, yang memiliki surat resmi (iqomah) kita beri peringatan dan yang tidak berizin akan kita serahkan kepada pihak keamanan di Arab Saudi," kata Rijal di Mekah, Rabu (9/8/2017) waktu setempat.

Rijal menegaskan, kejadian ini tidak bisa dibiarkan. Untuk itu, dibutuhkan koordinasi dengan petugas, agar mereka yang memiliki niat baik membantu meski mendapat bayar tetap harus didata.

"Kementerian haji Arab Saudi sebenarnya sudah siapkan petugas jasa dorong bagi jemaah lansia untuk tawaf dan sai. Harganya saat ini mencapai 250 real," ucap dia.

Pelaksana Linjam Mayor Reza Fajar Lesmana menambahkan, penertiban terhadap oknum mukimin di pemondokan jemaah akan terus dilakukan. Perlindungan demi memberi rasa aman kepada jemaah harus diutamakan.

"Kita akan pantau terus keberadaan mereka di pemondokan jemaah. Karena itu jemaah, jangan mudah percaya sebelum berkoordinasi dengan petugas," kata Reza.

Reza menceritakan, sebelumnya ada jemaah yang mengeluarkan uang sampai 1.000 real dan Rp 1,8 juta sebagai jasa dorong untuk tawaf dan sai. Meski oknum ini menyelesaikan tugasnya, harga yang diambil sangat tidak wajar.

"Kami mengimbau agar jemaah selalu berkoordinasi dan jangan mudah percaya begitu saja," imbau Reza. (net)

  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Leave a Comment

*) Harus diisi

Refleksi