Iklan Lucianty Pahri
Pemerintah Kabupaten Banyuasin
24 April 2018

Budaya Baca dan Masa Depan Pembangunan Manusia

Budaya Baca dan Masa Depan Pembangunan Manusia
Oleh : Evi Rosiana, SST, M.Si*

SETIAP tahunnya, tanggal 23 April diperingati seluruh bangsa di dunia sebagai Hari Buku Sedunia. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)  yang merupakan Badan Khusus PBB menetapkan  Hari Buku Sedunia dengan tujuan memberi penghargaan kepada buku dan para penulis serta mempromosikan budaya membaca. Konon, pemilihan tanggal 23 April karena pada 23 April 1616 ada beberapa sastrawan besar dunia yang meninggal dunia, diantaranya adalah pujangga Shakespeare yang terkenal dengan karya Romeo dan Juliet nya. Selain itu tanggal 23 April juga juga adalah tanggal kelahiran para penulis besar dunia lainnya seperti Maurice Druon, Haldor K. Laxness, Vladimir Nabokov dan Manuel Mejía Vallejo.

Membicarakan buku tentu tidak lepas dari kegiatan membaca dan menulis. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh “Most Littered Nation In The World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. UNESCO juga mencatat hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang rajin membaca. Padahal berdasarkan fasilitas yang dimiliki, Indonesia menempati posisi 34 bahkan di atas negara sekelas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan rendahnya budaya baca di negeri kita. Salah satunya adalah tergesernya kegiatan membaca buku karena penggunaan gadget. Saat ini lebih dari seperempat penduduk Indonesia telah menggunakan internet. Penggunaan internet paling tinggi dengan menggunakan telepon genggam/HP dan tertinggi pada penduduk kelompok usia muda yaitu 15-24 tahun.

Minat Baca dan IPM

Tak pelak lagi bahwa salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam peningkatan kualitas manusia Indonesia adalah dengan memasyarakatkan budaya membaca. Ukuran kualitas manusia yang umum digunakan adalah Indeks Pembangunan Manusia. Menurut Human Development Report 2016 yang dikeluarkan oleh United Nations Development Programme (UNDP), Indeks Pembangunan Manusia Indonesia berada pada posisi “sedang” dan menempati peringkat 113 dari 188 negara. Posisi IPM Indonesia masih di bawah negara tetangga Malaysia (peringkat 59) dan Thailand (peringkat 87). Salah satu komponen yang menjadikan IPM Indonesia tertinggal dari negara lain adalah masih rendahnya rata-rata sekolah di negeri kita. Rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia adalah 7,9. Artinya penduduk Indonesia rata-rata bersekolah hingga kelas 2 SMP. Hal ini mungkin merupakan salah satu sebab minat baca kita hanya menempati peringkat ke-60 dari 61 negara, masih tertinggal dari Malaysia (peringkat  53) dan Thailand (peringkat  59).

Selain diperbandingkan antar negara, ranking dan kecepatan pertumbuhan IPM juga kerapkali dibandingkan antar provinsi. Baru-baru ini BPS merilis angka IPM seluruh provinsi di Indonesia. IPM dibentuk oleh tiga indeks yaitu indeks kesehatan, indeks pendidikan dan indeks pengeluaran. Nilai IPM dapat menggambarkan sejauhmana kualitas kesehatan, pendidikan dan daya beli masyarakat suatu wilayah.

Nilai IPM dibagi menjadi empat kategori yaitu IPM rendah (< 60), IPM sedang (60 s.d <70), IPM tinggi (70 s.d <80) dan IPM sangat tinggi (≥80). Data tahun 2017 menunjukkan terdapat satu provinsi yang masuk dalam kategori IPM sangat tinggi yaitu Provinsi DKI Jakarta dan satu provinsi yang masuk dalam IPM rendah yaitu Papua. Sementara 14 provinsi lainnya masuk dalam kategori IPM tinggi dan 18 provinsi termasuk kategori IPM sedang. Mencermati IPM DKI Jakarta, maka kita dapat melihat gambaran tingkat pendidikan masyarakat DKI Jakarta yang cukup tinggi. Salah satu komponen IPM yaitu rata-rata lama sekolah di DKI Jakarta menyentuh level 11,02. Artinya rata-rata penduduk DKI Jakarta bersekolah hingga kelas 2 SMU. Coba bandingkan dengan provinsi Papua yang memiliki IPM rendah. Rata-rata lama sekolah di provinsi Papua hanya 6,27, artinya rata-rata penduduk Papua sekolah hingga kelas 6 SD.

Umumnya tingginya pendidikan akan menjadikan seseorang lebih banyak membaca. Dengan banyak membaca diharapkan akan bertambah nuansa keilmuan sehingga meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Karena itu penanaman budaya membaca sejak dini perlu diterapkan. Pembiasaan membaca seyogyanya diterapkan dalam setiap bidang kehidupan. Dalam dunia pendidikan seharusnya dilakukan regulasi tentang kurikulum tugas membaca yang diberikan guru kepada siswanya. Dalam dunia kerja setiap karyawan seharusnya diberikan motivasi untuk tetap menguprade pengetahuannya dengan membaca. Dalam lingkungan keluarga pun menjadi kewajiban para orangtua menanamkan kebiasaan membaca kepada anak-anaknya.

Saat ini kebiasaan membaca bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dengan kecanggihan teknologi kita bisa membaca buku dalam bentuk digital. Untuk itu akan sangat bermanfaat untuk menyebarluaskan buku-buku yang bermanfaat dalam bentuk e-book. Jadi jika dahulunya untuk membaca buku kita perlu ke perpustakaan, alternatifnya pemerintah dapat menyebarluaskan budaya membaca buku dengan media gadget.

Perjuangan memupuk budaya membaca di negeri kita memerlukan sinergi dari berbagai pihak. Dari sisi pemerintah kita memerlukan regulasi yang mendukung terciptanya budaya membaca di setiap jenjang pendidikan. Dari para guru dan orangtua kita membutuhkan keteladanan untuk menjadi panutan generasi muda. Semoga dengan peringatan hari buku tahun ini, semangat membaca buku dan menggalakkan budaya membaca buku kembali tertanam. Dan semoga dengan budaya membaca buku, bangsa kita menjadi lebih berkualitas dengan capaian IPM yang tinggi di masa depan. Semoga!!

*Penulis adalah PNS pada Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi