Iklan Lucianty Pahri
Pemerintah Kabupaten Banyuasin
08 Maret 2018

Gelombang Populisme Politik

Gelombang Populisme Politik
Oleh: Haekal Haffafah*

POPULISME merupakan perspektif yang tengah naik daun dewasa ini, terutama dikaitkan dengan bagaimana elite membawakan isu-isu populer yang dipandang krusial untuk mengambil hati masyarakat pemilih.  Ia diberangkatkan dari teori neo-Marxis atau tradisi Kiri dalam analisis kritis ilmu sosial. Namun demikian, populisme dewasa termasuk jenis populisme baru. Populisme masa kini, berkembang khususnya sebagai reaksi terhadap berbagai ketimpangan yang tajam dan dislokasi sosial akibat proses globalisasi neoliberal. Secara sederhana kebangkitan populisme ini, secara positif dapat dibaca sebagai lahirnya ketidakpercayaan terhadap sistem sosial dan kemapanan kapitalisme-neoliberal yang telah berlangsung sekian dekade sejak 1970-an. 

Dalam kasus Eropa, gejala populisme kanan bisa dijelaskan lebih luas dengan bangkitnya politik identitas yang memenangkan suara cukup besar dalam pemilu, keluarnya Inggris dari Uni Eropa mencatatkan perbedaan cukup tipis antara 51,89% yang memilih tinggalkan Uni Eropa dan 48,11% yang memilih tetap di Uni Eropa. Demikian halnya dengan kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton di Amerika Serikat yang segera diikuti dengan protes besar dari berbagai kalangan di sana.. Kebangkitan populisme ditandai dengan kegelisahan dan tuntutan, populisme kanan akan lebih membawa soal identitas kultural seperti ras, perbedaan agama, etnik adat dan kebiasaan. Sementara dalam populisme kiri lebih mebawa soal pembedaan “kita” dan “mereka” atau lebih menekankan pada persoalan ekonomi (kaya dan miskin).

Di wilayah Asia, fenomena populisme politik dijelaskan atas kemenangan Rodrigo Duterte dipemilu Filiphina. Dengan membawa isu hukuman keras pada pelaku tindak kriminal dan kejahatan, Duterte memenangkan hasil pemilu 38,68%. Keberadaan Duterte dituduh  sebagai ancaman bagi lawan politik  karena dianggap sebagai pemimpin yang membawa kepemimpinan kembali pada rezim otoriter seperti  pada kepemimpinan Ferdinand Marcos 1972 . Lewat kampanye “memberantas kejahatan” Duterte melanggeng kekursi Presiden pada pemilu 2016.  

Di Indonesia kemenangan  Jokowi atas Prabowo menjadi sorotan publik. lewat isu populis yang dikesankan dekat dengan rakyat, pembawaan blusukan, kehadiran Jokowi juga dinilai merupakan identitas tandingan  dari sosok  SBY yang dikesankan formal dan banyak pencitraan.  

Dalam kasus Pilkada DKI, kemenangan Anis-Sandi juga menarik disoroti karena kecenderungan model popolisme adalah populisme kanan, isu agama yang dibawa bersamaan dengan isu lain seperti ketidakadilan dan penggusuran membawa Anies  berhasil memenangkan pilkada putaran ke-2. Hasil Exit Poll yang dirilis Indikator Politik Indonesia pada 19 April 2017 secara khusus, dicatat bahwa alasan memilih karena “agama” lebih besar untuk pasangan Anies-Sandi (57%), ketimbang  Ahok-Djarot (2%). Jika dirinci, maka untuk Ahok-Djarot didukung oleh 35% responden yang beragama Islam dan 97% yang non-Muslim. Tetapi sebaliknya, Anis-Sandi didukung 65% pemilih Muslim dan hanya 3% pemilih non-Muslim.

Bagaimana dengan Sumsel?

Perhelatan Pilkada Sumsel sedang berlangsung, jika kita perhatikan ada 4 kandidat yang diputuskan KPU Sumsel, Saefuddin Aswari Rivai-Irwansyah, Ishak Mekki-Yuda Pratomo Mahyudin, Herman Deru-Mawardi Yahya, serta Dodi Reza Alex-  Giri Ramanda N Kiemas.  Dari segi pola kampenya semuanya sama-sama membawa isu populis dengan program- yang relatif sama, Ishak Mekki membawa tagline “Sumsel Lebih Baik, Makin Gemilang”, Dodi membawa Tagline “2 Tahun Bisa” Herman-Deru membawa tagline “Sumsel Maju” dan Aswari membawa isu yang berusaha mengadopsi program Oke-Oce Anies-Sandi pada Pilkada Jakarta 2017 lalu.

Hal menarik untuk disoroti adalah bagaimana sikap elit provinsi, keberhasilan pemerintah Sumsel dari segi pembangunan infrasturuktur dengan  membawa proyek-proyek besar dikota palembang seperti: Jakabaring Sport City (JSC) , Light Rail Transit (LRT), dan pembangunan Masjid Sriwijaya terbesar se-Asia yang masuk dalam Master Plan Pembangunan Sumatera-Selatan. Event-event Internasional seperti Sea Games, Asean University Games , Islamic Solidarity Games (ISG) dan Asean Games yang akan berlangsung Agustus ini, menjadi “primadona kampanye” untuk melanjutkan kesinambungan dalam keterpilihan Gubernur berikutnya. Hasil survei Populi Center bulan Desember lalu, merilis urutan hasil survei elektabilitas: Herman Deru 32,0 %, Dodi Reza Alex 21,4 %, Ishak Mekki 17,0 %, Saifudin Aswari Rivai 6,9 %. 

Dalam bacaan publik Herman Deru dan Dodi Reza bersaing ketat, mengingat Pilkada 2013 Alex Noerdin menang tipis atas Herman Deru. Jika dilihat dalam konteks ini semuanya bisa menggunakan isu populis untuk memenangkan hati rakyat. Hanya yang sudah terlihat mengunakan pola-pola politik populis dan kencang membangun identitas tandingan adalah Herman Deru, isu-isu seperti pemerataan pembangunan, politik dinasti dan kemisikinan.

Dalam istilah Castells (1997:8) adalah identitas yang melegitimasi (legitimizing identity) sebuah identitas yang digunakan oleh institusi dominan, identitas ini digunakan oleh Dodi Reza dengan membangun tema-tema optimisme. Sebetulnya istilah “Identitas Legitimasi” dalam penjelasan Castells lebih cocok pada Ishak Mekki selaku incumbent, tetapi karena Dodi Reza merupakan anak Alex N sebagai Gubernur aktif maka istilah ini lebih pas pada Dodi.  Yang menarik, dalam pandangan Huntington (2004:21-24), identitas bukanlah konsep yang statis, melainkan dinamis, dalam pengertian dapat dibentuk. Sehingga siapapun calonnnya selain perlu membentuk infrastruktur tim yang kuat dan massif, juga penting dalam melihat tema-tema populis apa  yang menjadi pendorong untuk memenangkan simpati rakyat. 

Tinggal kita lihat apakah kandidat yang menggunkan tema-tema populisme dalam Pilkada Sumsel akan keluar sebagai pemenang, lalu apakah model atau tema-tema populisme ini sama seperti di DKI 2017,  Pilpres 2014, atau seperti kemenangan Trump dengan tema-tema konservatifnya.  Jika yang keluar sebagai pemenang adalah mereka yang mebawa tema-tema populis,  modelnya seperti apa atau seberapa tajam tema itu dibangun?. Yang jelas gelombang populisme telah menjadi fenomena di Eropa, Asia dan Negara-negara yang rakyatnya lahir atas dasar ketidakpercayaan terhadap kemapanan Kapitalisme. 

*Penulis merupakan Direktur Eksekutif Teras Indonesia dan Kandidat Magister Ilmu Politik Universitas Nasional

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi