02 Januari 2018

Harapan Baru Masyarakat Kota Lubuklinggau dalam Pergantian Masa Kepemimpinan

Harapan Baru Masyarakat Kota Lubuklinggau dalam Pergantian Masa Kepemimpinan
Oleh : PRASETYO NUGRAHA

PESTA musik dan gelegar kemeriahan mercon pergantian tahun seakan menjadi isyarat ditabuhkan genderang politik 2018, gendre yang dimainkan mengarah kepada brandmark tertentu, mulai dari branding muka manis, pribadi santun, perilaku yang penuh keakraban dan sifat pengayom serta peduli sesama, upaya demikian dilakukan menuju barometer penguatan kemistri agar dapat menetukan siapa kawan duet dan lawan duel termasuk penetapan koalisi parpol juga tidak terelakkan menjadi kunci menjelang pemilihan umum agar sang maestro dapat mengatur ritme permainan dan menang di saat hari pemilihan. 

Dalam praktik politik terdapat tiga teori koalisi, yaitu; minority coalition, minimal winning coalition, dan majority coalition. Dalam konteks demokrasi Indonesia pilihan koalisi pertama dan terakhir adalah prototype koalisi yang kurang tepat. Ketidaktepatan tipe pertama sulit diterapkan karena batas minimum dukungan dan yang tipe koalisi terakhir adalah tipe koalisi yang besar dan kurang sehat, karena dinilai syarat transaksional dan ketika saatnya menang dan berkuasa kursi pemerintahan diisi oleh para elit parpol – dinilai bertentangan dengan semangat check and balances, sistem perimbangan.

Konsep koalisi ramping dan sehat adalah “tipe koalisi tengah”, minimal winning coalition dimaksudkan agar publik dapat disajikan lebih banyak varian calon pemimpin alternatif, serta selanjutnya diharapkan dengan sistem koalisi ramping tersebut pemerintah terpilih dapat berjalan efektif dengan pengontrolan ketat oleh lembaga legislatif. Singkat kata, hal tersebut perlu dipertimbangkan dalam rangka membangun varian, pemimpin alternatif bagi masyarakat dalam membangun kota Lubuklinggau.

Di balik proses politik tersebut sampai dibukanya pendaftran calon kepala daerah oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 8-10 Januari 2018 mendatang, sebaiknya berbagai persoalan kota lima tahun ke belakang dan solusi berupa program untuk lima tahun ke depan menjadi perhatian juga bagi mereka yang berniat memimpin Lubuklinggau. Sebab, walikota dan wakil walikota Lubuklinggau adalah tempat masyarakat menaruhkan harapannya.

Rakyat menaruh harapan besar dalam tiap pergantian kepemimpinan, yakni harapan akan terjadinya suatu kemajuan, suatu perubahan. Oleh karena itu warga juga menaruh harapan akan Lubuklinggau yang lebih baik di tangan pemimpin baru, walikota dan wakil walikota Lubuklinggau 2018-2023. 

Permasalahan Kota

Lima tahun ke belakang kota Lubuklinggau mengalami bonus demografi dalam tiap tahunnya, dalam data BPS misalnya menunjukkan bahwa jumlah penduduk tahun 2013 sebanyak 208.893 jiwa, mengalami peningkatan di tahun 2014 sebanyak 216.270 jiwa, tahun 2015 mencapai 219.471 jiwa, terus meningkat pada tahun 2016 sebanyak 222.870 jiwa dan 226.002 jiwa di tahun 2017. 

Dengan adanya pertumbuhan penduduk di atas memang lumrahnya masyarakat perkotaan yang memberikan bonus positif terhadap berbagai aspek kehidupan di Lubuklinggau, implikasinya terlihat pada aspek sosial ekonomi, pendidikan, kesehatan, kesedian pangan, lokasi pemukiman, maupun sebagainya.

Di tengah bonus demografi yang berlimpah di kota Lubuklinggau, berbagai persoalan lain tidak kalah penting untuk dijadikan fokus perhatian. Misalnya angka partisipasi kasar (APK) SD sederajat, SMP sederajat dan SMA sederajat dalam wilayah kota Lubuklinggau. Tahun 2014 APK SD sebesar 121,41 dan SMP sebesar 80,42 lalu terus menurun di tingkat SMA sebesar 62,87. Tidak jauh berbeda dengan data pada tahun berikutnya, tahun 2015 angka partisipasi kasar (APK) SD sebesar 106,08 kemudian SMP sebesar 90,60 dan SMA sebesar 81,75. 

Dan tahun 2016 APK SD sederajat jika dibandingkan ditahun sebelumnya menurun dengan jumlah 101,51 dan APK SMP sederajat sebesar 93,80 serta APK SMA sederajat meningkat sebesar 96,24. Data ini dari segi eksplisit memberikan gambaran dinamis bagi pertumbuhan kota Lubuklinggau. Namun dari segi implisit cukup menyedihkan, data ini memberikan gambaran yang ironis, dengan artian masih tingginya angka anak putus sekolah di kota Lubuklinggau. 

Tingkat indeks pembangunan manusia (IPM) Lubuklinggau dalam lima tahun ke belakang berkutat pada katagori sedang dan nampak sulit untuk ditingkatkan, masalah lain adalah pengangguran yang mecapai 4.00 dan parahnya dalam Musrenbang rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) tahun 2018 Lubuklinggau di posisikan peringkat ke lima daerah termiskin dan atau peringakat pertama kota termiskin dalam Provinsi Sumatera Selatan dengan persentase 15.16 persen.

Lubuklinggau dengan sederet masalahnya, banyak lagi yang bisa disajikan, sebut saja kasus pertanahan, dimana Lubuklinggau termasuk katagori wilayah konflik agraria. Teranyar adalah sengketa lahan warga Air Kuti dengan Perum Damri yang pada 20 desember 2017 lalu baru saja dieksekusi atau selanjutnya adalah masalah hak asasi manusia (HAM) dan kriminalisasi warga yang masih sumir diperdengarkan. 

Menaruh Harapan

Bagamaimana dengan Lubuklinggau lima tahun ke depan? Apakah kondisinya bisa berubah lebih baik atau sebaliknya? Ini pertanyaan yang harus dijawab oleh mereka yang akan maju pada pemilihan walikota dan wakil walikota pada 27 Juni 2018 nanti.

Rakyat menaruh harapan kepada walikota dan wakil walikota Lubuklinggau 2018-2023 untuk menjadikan berbagai persoalan saat ini sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pembangunan Lubuklinggau lima tahun ke depan.

Terlalu banyak rakyat miskin, sudah tidak bisa terhitung kerugian materil dan non materil rakyat yang digusur, ratusan anak putus sekolah dan ribuan orang tua tidak bisa memberi penghidupan layak kepada keluarganya (standar KHL). Mereka tidak butuh janji-janji politik, yakni janji yang sekedar slogan belaka dan menyenangkan hati sesaat.

Rakyat menginginkan walikota dan wakil walikota Lubuklinggau lima tahun ke depan bisa memberi solusi dalam persoalan kemiskinan. Bisa memberikan jawaban terhadap semua permasalahan dan peduli serta berjuang untuk perbaikan nasib rakyat yang dipimpinnya.

Kita semua berharap agar momentum pemilihan walikota dan wakil walikota kali ini benar-benar bisa menjawab harapan dan keinginan masyarakat, yakni mewujudkan Lubuklinggau yang lebih maju dan lebih baik. (*)

  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi