Banyuasin Siap Sukseskan Asian Games Tahun 2018
Pasang Iklan di DetikSumsel.com
07 Agustus 2018

Isyarat Qur'an Tentang Merdekanya Nusantara

Isyarat Qur'an Tentang Merdekanya Nusantara
H. Muhammad Syubli. LN

Kita sudah berada dibulan Agustus, beberapa hari lagi kita akan ketemu tanggal 17 Agustus 2018, yang kita peringati sebagai HUT Proklamasi Kemerdekaan RI dan tahun ini ke 73.  Sesuai dengan judul di atas, mau tidak mau tulisan ini dikaitkan dengan ayat Al Qur’an, yaitu suroh Al Anfaal.


Dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang karena kata Al Anfaal terdapat pada permulaan suroh ini dan juga persoalan yang menonjol dalam suroh ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya. Dan ini adalah sesuatu   yang relevan dengan situasi kita sekarang ini.

Sesungguhnya Allah telah ikut “campur tangan” dalam proses kemerdekaan Nusantara ini, sebagai bukti Allah telah memberi isyarat dalam Al Qur’an suroh Al Anfaal artinya “Rampasan Perang” (suroh ke 8), ayat 17 dan ayat 45. Hari ini akan kita bahas dari ayat 15 sampai 17 dan ayat 45. Ayat-ayat itu mengandung makna yang sangat relevan dengan peristiwa Kemerdekaan Indonesia, mari kita baca ;

15. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).16. Bagi siapa yang mem-belakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak meng-gabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempat-nya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.

17. “Maka yang sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah yang mem-bunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. Allah berbuat demikian itu untuk membinasakan mereka, dan untuk memberi kemenangan kepada orang orang mukmin dengan kemenangan yang baik. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi maha mengetahui”.

Setiap kali kita memperingati HUT Kemerdekaan RI tgl. 17 Agustus, kita tidak boleh melupakan sejarah perjuangan yang  dilakukan oleh para pejuang pada masa itu.Kalau kita kaji lagi sejarah perjuang-an merebut  kemerdekaan itu betapa pilu rasa hati kita, sebab bukan cuma air mata, keringat dan darah yang dikorbankan oleh bangsa kita. Tetapi  berbagai penderitaan lain masih banyak dialami, seperti kerja paksa bagi para lelaki,  jika mereka tidak mau bekerja atau melawan, maka mereka akan dibunuh oleh  penjajah.  Artinya nyawapun mereka korbankan demi kemerdekaan Indonesia.

Kalau kita kaji lagi sejarah perjuangan memperebutkan kemerdekaan itu betapa bangganya kita, sebab cuma dengan senjata apa adanya, seperti keris, pedang dan tombak serta bambu runcing bangsa kita  berani melawan sang penjajah, dan akhirnya bisa menang. Tetapi tidak sedikit diantara mereka yang jadi korban dan gugur sebagai pahlawan tak dikenal. Untuk mereka sepantasnya kita du’akan kiranya Allah akan menerima amal bakti mereka dan menempatkannya ditempat yang layak disisi-Nya.

Bila kita bicara tentang pejuang dan pahlawan, pastilah akan dihubungkan dengan para pahlawan yang gagah berani dan telah gugur itu, kadang mereka dipuja-puji sedemikian rupa oleh generasi berikutnya, termasuk oleh orang sekarang. Kadang pujian itu terlalu berlebihan, sehingga melupakan siapa sesungguhnya yang memberikan bantuan kekuatan kepada manusia, yakni Allah Swt.

Cobalah kita perhatikan arti dari  ayat 45 dari suroh ke 8 itu maknanya sebagai berikut :  “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu, dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya, agar kamu beruntung...” (QS.Al Anfaal, 45)

Dari ayat ini dapat kita ambil contoh ketika para pejuang maju ke medan laga selalu meneriakkan takbir berulang-ulang, memuji kebesaran Allah dan memohon bantuan dari-Nya. Mereka menghunus senjata keris dan pedang, mereka melemparkan tombak dan bambu runcing, mereka dapat membunuh musuh, lalu kita menang. Sangat wajar kita menang, karena memang Allah yang “ikut campur tangan” dalam proses perjuangan  dan Kemerdekaan bangsa Indonesia. Apalagi para pejuang itu selalu memohon pertolongan dari Allah  Swt. 

Dan pada waktu itu para pejuang kita bersungguh-sungguh untuk membela tanah air ini dari penjajahan kaum kafir, terutama kaum  Nasroni apakah dia dari Belanda, Inggeris, Francis, Portugis,  Artinya juga mereka membela Agama Allah.Oleh  karenanya, tidaklah keliru rasanya kalau setiap kali kita memperingati HUT Kemer-dekaan RI dibacakan ayat-ayat suci  Al Qur’an, sebagai tanda syukur kita kepada Allah Swt.

Sekarang ini perlu kita waspadai ada musuh dalam selimut yang mungkin mengancam  NKRI keutuhan bangsa kita setiap waktu dari dalam negeri, terutama dari pihak Nasroni dan bersama dengan kaum “Munafik”, dengan segala cara mereka halalkan dan mereka laksanakan. Termasuk melalui Medsos  dan sebagainya. Kita jangan sampai terlena oleh figur tokoh dan “fantasi”, kalau ternyata dibalik itu semua akan menjerumuskan kita.

Para pendiri bangsa ini mengakui bahwa kita merdeka memang  Allah yang “ikut campur tangan” Coba kita perhatikan isi Pembukaan UUD’45 alinea ketiga : “Atas berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa, dan di-dorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menya-takan dengan ini kemerdekaannya...”  Akan tetapi sangat disayangkan, sebagian besar bangsa kita sudah tidak lagi memperhatikan nilai nilai historis yang “religius” itu.

Kebanyakan mewujudkan rasa syukur dengan luapan gembira yang berlebihan dan berbagai aktifitas yang mubazir, hanya mengutamakan unsur “pesta/kemeriahan” untuk merayakan tanggal 17 Agustus. Dan yang membuat kita prihatin adalah, “17 Agustus diagungkan, sementara 17 Rokaat sholat sehari-se-malam diabaikan.

Buktikanlah, karena kesibukan panitia 17 Agustus-an dari pagi sampai sore dan malam  hari, sampai-sampai mengabaikan dan meninggalkan Sholat lima waktu yang 17 rokaat.

Apalagi tahun 2018 ini, Palembang sebagai tuan rumah Asian Games semakin bertambah lagi kesibukan.  Bahkan lebih dari itu, karena kegiatan HUTRI ada yang  saling bunuh di arena panggung hiburan. Seperti itukah wujud rasa syukur kita atas ni’mat kemerdekaan ini? (*)

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi