08 Januari 2018

KELIRUMOLOGI TAHUN POLITIK..!!!

KELIRUMOLOGI TAHUN POLITIK..!!!
Oleh : Kurnio Cipto**

“Tahun depan kita juga perlu mengingatkan kita sudah masuk ke Tahun Politik, sehingga kebijakan apapun dapat secara signifikan memberikan pengaruh” (Ir. Joko Widodo)

“Menghadapi Tahun Politik kedepan, para Komandan Korem (Danrem) dan Komandan Kodim (Dandim) harus dapat mewaspadai potensi konflik di wilayah, seperti gesekan antar masyarakat, konflik antar agama maupun kelompok, karena indikasi ini sudah mulai ada” (Jend. purn. Gatot Nurmantyo)

Ya komentar kedua tokoh diatas hanya sedikit dari komentar mengenai tahun 2018, yang sering di klaim sebagai tahun politik tahun diselenggarakannya pemilu, mungkin akan sah-sah saja jika klaim tersebut melihat di pertengahan tahun nanti akan ada 171 daerah yang diantaranya 17 prvinsi, 39 kota dan 115 kabupaten akan melaksanakan hajatan akbar sebagai salah satu manifesto dalam berdemokrasi.

Namun mari kita lihat lebih dalam lagi, sudah tepatkah istilah Tahun Politik  ini disematkan melihat rangkaian peristiwa politik yang akan menghiasi tahun 2018 ini? Ada banyak terminologi politik yang berkembang tentang politik. Secara etimologi politik berasal dari bahasa yunani yaitu “Polis” yang berarti “Kota”. Pada awalnya politik digunakan sebagai ilmu untuk mengatur kota-kota di Yunani, khususnya kota Athena. Ada juga etimologi lain yaitu “Politikos” yang berarti dari, untuk atau yang berkaitan dengan warga negara (wikipedia.org) atau secara terminologi yang lebih luas dikatakan bahwa “Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik aristoteles)”. Dari beberapa artian diatas hakikat politik adalah  menentukan sesuatu untuk mengembangkan kehidupan orang lain (Paul Wellstone, senator AS), dikatakan juga bahwa politik adalah sebuah seni kepemimpinan untuk mengarahkan kepada sebuah tujuan yang dikehendaki.

Politik tidak bisa dipandang secara parsial semata, bahwa politik adalah sesuatu yang bersifat universal dan komprehensif yang berkaitan dengan kehidupansehari-hari, sebagai contoh  pemilihan kepala daerah atupun Anggota Dewan, kelompok diskusi dan komunitas pun bisa disebut politik, memilih ketua kelas juga disebut berpolitik, mengikuti upacara bendera pun termasuk kegiatan politik, dalam sholat berjamaah pun kita berpolitik, transaksi tawar menawar harga dengan penjual sayur pun disebut politik, kegiatan contek mencontek pun kegiatan politik, bahkan PDKT kepada doi pun disebut berpolitik lebih jauh lagi adalah kontoversi dari pernyataan presiden AS Donald Trump terhadap pengakuan tentang yerussalem ibukota israel adalah bicara politik.

Namun dewasa ini istilah kata politik seolah diartikan dalam artian yang sempit yaitu Pemilihan Umum, sehingga ditahun 2018 ini sebanyak 171 daerah mengadakan pemilu dengan mudah kita katakan ini tahun politik. Tentu pengistilahan Tahun Politik yang hanya berdasarkan pada penyelenggaraan pemilu dikurang lebih setengah dari warga republik ini saya rasa adalah sebuah pengistilahan yang keliru. Politik yang hanya diartikan dalam sebuah bilik berukuran 3x1 meter adalah pengerdilan makna  dari politik itu sendiri. Jika demikian kita menginterpretasikan makna politik, akan berdampak cukup signifikan kepada khalayak luas. Sebagai contoh sering kita lihat  berbagai aktivitas politik berupa persaingan paslon (pasangan calon), black campaign atau kampanye hitam, konspirasi politik, pencitraan yang semakin intens menjelang pemilu, perampokan anggarann daerah untuk biaya politik, money politic, politik dinasti. Seolah hanya aktivitas-aktivitas seperti itulah yang menjadi hakikat politik. Tak bermaksud berlebihan,  tetapi term “Tahun Politik” patut digugat karena akan akan menimbulkan kesesatan terhadap cara memandang politik, impilkasinya yaitu matinya pemahaman politik dari orang awam, politik akan diartikan sebatas pemilihan umum dengan berbagai tindak kotor yang ada didalamnya sehingga akan muncul sebuah propaganda bahwa POLITIK ITU KOTOR, lebih jauh lagi masyarakat akan bersikap antipati terhadap politik sehingga angka partisipasi pemilih dalam pemilu yang akan berkurang.

Politik bukanlah hanya sebatas lokalisasi bilik suara, ia punya bahasan dan aktivitas yang luas. Bahkan ia hidup berjejaring dengan “bilik hidup” lainnya ruangannya tidak sesempit bilik suara yang hanya berukuran 3x1 meter saja. Politik bukan semata soal kompetisi mencari suara pemilih, politik juga bukan kontestasi bak ajang pencarian bakat proses politik mencakup banyak hal, segala hal yang menyangkut masalah publik, agama, polusi, banjir, harga makanan, pendidikan, transportasi dan sebagainya. Puncak politik bukan pemilu, namun lebih daripada itu puncak politik adalah ketika tercapainya maksud kebenaran politik yaitu mencapai kebermanfaatan bersama, tidak ada lagi rasa lapar, supremasi hukum yang berkeadilan, kesejahteraan rakyat, pembangunan yang merata, rasa aman, negeri yang diberkahi Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Sebuah KELIRUMOLOGI yang wajib kita tuntaskan agar kita lebih cermat dalam menelaah sebuah istilah yang disematkan untuk suku kata karena bisa jadi akan menimbulkan kesesatan dalam berfikir dan berimplikasi yang fatal. Namun menurut pendapat pribadi bahwa 2018 bukanlah tahun politik sebagaimana yang telah kita uraikan diatas, tapi 2018 adalah Tahun Piala Dunia, iya karena sebentar lagi piala dunia akan dihelat di Rusia 2 minggu sebelum Pilkada bulan juni nanti. Bravo Sepakbola..!!!

  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi