Banyuasin Siap Sukseskan Asian Games Tahun 2018
Pasang Iklan di DetikSumsel.com
10 Juni 2018

Menakar Elektabilitas Kandidat Pilkada Palembang di Jejaring Sosial

Menakar Elektabilitas Kandidat Pilkada Palembang di Jejaring Sosial
Oleh: Ahmad Isnaini Sugiarta

TIDAK lama lagi pergelaran pilkada kota Palembang akan dilaksanakan pada  tanggal 27 Juni nanti, survei dari berbagai lembaga independenpun bermunculan mengenai elektabilitas dan popularitas para kandidat yang menjadikontestasi untuk meraih suara pemilih.


Survei-survei tersebut menggunakan data sebaran, dengan mengumpulkan  informasi dari kelompok-kelompok tertentu yang mewakili populasi (responden). Jika survei adalah metode data yang bersifat real, maka berbeda dengan teknik analisa di jejaring sosial, data-data yang ada pada jejaring sosial bersifat dinamis sehingga untuk melihat popularitas maupun  elektabilitas kandidat pada dunia maya maka dapat menggunakan metode SNA (Social Network Analysis). Freeman (1979) mendefinisikan SNA sebagai teknik yang fokus mempelajari pola interaksi pada manusia yang tidak terlihat secara eksplisit. Scott (1992) mendefinisikan sebagai sekumpulan metode untuk menginvestigasi aspek relasi pada struktur sosial. Berdasarkan dari beberapa definisi tersebut, secara fundamental memiliki kesamaan makna, yaitu mengarah pada proses analisis jaringan social yang berkaitan dengan bentuk struktur dan pola interaksi entitas di dalamnya. Hal demikian bila  di representasikan dalam struktur jaringan politik dapat di asumsikan  sejauh mana kandidat tersebut memiliki interaksi komunikasi politik pada  jejaring sosial.

Dalam jejaring sosial kita mengenal istilah Social Networking Site (SNSs). SNSs merupakan salah satu kategori media sosial yang membangun komunitas pertemanan atau jaringan pertemanan individual (simpul) dan hubungan sosial (relationship) yang memungkinkan penggunanya untuk saling berkomunikasi dan berbagi konten. SNS yang populer saat ini adalah facebook, twiteer, youtube dan sebagainya.

Berdasarkan data APJII (2016), total pengguna Internet 132.7 Juta. Sebesar 54 % (71.6) media sosial yang sering di kunjungi adalah facebook. Bahkan 100.3 juta (75.6%) media sosial digunakan untuk tujuan berpolitik. Menurut McGraw Hill dictionary, media sosial adalah sarana yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi satu sama lain dengan cara menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi dan gagasan dalam sebuah jaringan dan komunitas virtual. Media sosial juga sebagai media komunikasi interaktif yang memungkinkan terjadinya interaksi dua arah dan umpan balik.

Hubungan Jejaring Sosial terhadap peluang kemenangan Calon Kepala Derah

Terlepas dari hasil survei-survei independen seperti LSI, LKPI,  Indobarometer, Kuadran dan sebagainya seperti akhir Mei 2018 menggunakan metodelogi statistik. Analisa di jejaring sosial, perhitungan tidak menggunakan data responden. Sehingga peluang kemenangan calon kepala daerah memiliki hubungan erat dengan jejaring sosial di media sosial seperti facebook, twiteer dan lain-lain. Dalam studi kasus pilkada kota Palembang, dapat dilakukan dengan pendekatan metode SNA. 

Kandidat-kandidat calon walikota kota Palembang sudah memliki public pages sebagai media komunikasi politik. public page masing-masing calon kepala  daerah dapat di analisa dengan teknik crawling data menggunakan tools yaitu berupa software Rstudio. Data-data dari public page yang didapatkan dari hasil crawling berbentuk dataset, kemudian di olah serta di analisa sehingga mendapatkan pengetahuan.

Sampel data public page facebook pada masing-masing kandidat pilkada kota Palembang yang diolah adalah dari 1 April 2018 s.d 4 Juni 2018. Data yang dimunculkan berdasarkan banyaknya jumlah like, komentar dan berbagi kontent. Semakin tinggi interaksi public page facebook kandidat dalam komunikasi politik, maka akan terjadi feedback dan komunikasi dua arah dengan para netizen. Ketika netizen mendapatkan pesan yang di tulis pada dinding pages kandidat logis (masuk akal), maka tidak menutup kemungkinan tingkat intestitas berbagi konten akan semakin tinggi.

Untuk berbagi kontent komunikasi politik masih di kuasai oleh incumbent (petahana), dari April s.d Juni terdapat 155 kontent komunikasi politik yang di bagikan oleh pendukung di sosial media facebook pada public page Harnojoyo-Fitri, setelah itu di urutan ke dua Sarimuda-A.Rozak, 124 kontent komunikasi yang dibagikan, urutan ke tiga Akbar Alfaro-Herno  Roespriadji, sebagai calon independen tanpa mesin partai interaksi di sosial media cukup singifikan dalam hal kontent komunikasi politik yang dibagikan oleh pendukung berjumlah 70. Dan yang terakhir Mularis-Syaidina Ali, 45 kontent komunikasi politik yang dibagikan oleh pendukung.

Jika dilihat dari grafik interaksi komunikasi, Sarimuda-A.Rozak, 184. Harnojoyo-Fitri 140, Mularis-Syaidina Ali, 7 dan Akbar Alfaro-Hernoe  Roespriadji, 6. Jumlah interaksi ini berdasarkan komentar terbanyak dari pendukung, dimana pesan yang dibagikan mendapat respon dari para pendukung masing-masing.

Terakhir adalah grafik Likes terbanyak, Sarimuda-A.Rozak, 4663 dengan tipe kontent photo dan pesan yang dibagikan. Harnojoyo-Fitri, 3345 tipe kontent photo dan pesan. Mularis-Syaidina Ali, 126 dan  Akbar Alfaro-Hernoe  Roespriadji, 42. Jika melihat hasil dari analisa jejaring sosial dan berdasarkan grafik, maka Sarimuda-A. Rozak dan Harnojoyo-Fitri memiliki nilai popularitas dan elektabilitas yang lebih dominan. Siapa yang akan menang Pilkada Palembang nanti? Tentu kita menunggu real count dari KPU, tapi setidaknya analisas jejaring ini tidak jauh berbeda dengan survey dan ini juga menggambarkan peta elektoral sebenarnya.


* Praktisi IT/ Mahasiswa Pascasarjana Teknik Informatika, Konsentrasi Enterprise IT Infrastructure Universitas Binadarma Palembang 

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi