Banyuasin Siap Sukseskan Asian Games Tahun 2018
Pasang Iklan di DetikSumsel.com
12 Juni 2018

Mengkritisi Hasil Survey Menjelang Pilkada Sumsel

Mengkritisi Hasil Survey Menjelang Pilkada Sumsel
Oleh: Bagindo Togar Bb*

TIDAK lama lagi beberapa daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah Serentak,tepatnya Rabu 27 Juni 2018. Ada 171 daerah; 17 Provinsi, 39 Kota dan 115 kabupaten. Di Daerah Kita, ada 1 Provinsi, 3 Kota dan 5 Kabupaten. 


Dalam Konteks ini, publik cenderung melirik perkembangan atau dinamika sosial ditataran kontestasi Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan. Tentu saja diwajarkan, bila beragam upaya atau instrumen dikerahkan oleh Para Paslon atau Pegiat Politik mengamatinya,agar memperoleh deskripsi, Progseifitas konstituen,  polarisasi dukungan dan  juga elaktibilitas Paslon yang tengah berkompetisi.

Beberapa hari silam, tepatnya tanggal 8 Juni 2018, satu dari Wadah Jajak Pendapat, yaitu Lingkaran Survey Indonesia ( LSI) atau lebih popular dengan LSI Denny JA, mempublikasi Hasil Survei yang dilakukan rentang waktu 1- 5 Juni untuk pemilihan Gubernur Sumatera Selatan di Hotel berbintang diKota ini. LSI Denny JA cukup berpengalaman dan kesohor diNegeri ini,dimana sebelumnya Denny JA PhD berjuang bersama dgn Dr Saiiful Mujani dalam Organisasi Lembaga Survei Indonesia ( LSI - juga ), yang pecah Kongsi pada Tahun 2004 dikarenakan perbedaan Orientasi maupun Persepsi atas Tujuan atas gagasan keberadaan atau Pendirian Organisasi profesional di bidang jajak Pendapat ( Survei ), Tahun 2005 Lingkaran Survei Indonesia resmi berdiri dan Denny JA pisah dari Saiful Mujani.

LSI SM tergabung dalam Asosiasi Persepi ( Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia),sedangkan LSI Denny JA tergabung dalam AROPi ( Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia ) dan juga ada Asosiasi sejenis seperti ALSCHI. Padahal kedua Pionir Profesional Survei berasal dari Alumni yang sama, asuhan Prof Dr  William Lidle di Ohio State University, USA.

Kembali dalam Konteks Pilkada Sumsel, LSI Denny JA menyebutkan bahwa hasil surveinya menyebutkan bahwa Paslon Gubernur nomor urut 4 Dodi-Giri akhirnya lebih berpeluang untuk memenangkan Pilkada yang beberapa hari dilaksanakan, dengan perolehan dukungan 27,7 persen menyalip Paslon No 1 Herman Deru-Mawardi Yahya (23,2 persen). Sedangkan Paslon No 3, Ishak Mekki-Yudha Mahyudin (18,4 persen) dan No 2 Aswari Rivai-M Irwansyah (8,6 persen) serta Swing Voters 22,1 persen.  

Ada kejanggalan yang terfokus pada jumlah Pemilih yang belum menentukan Paslon Pilihannya dengan Persentase yang Sangat Besar, yaitu 22,1 persen tadi. Tatkala Pelaksanaan Pilkada, efektif hitungan hari lagi. Tidak menjadi hal yang Utama, trend Paslon mana yang menguat untuk memenangkan Pemilihan Gubernur nanti, tetapi tidaklah etis juga tidak beralasan Rilis resmi Hasil Survei seperti tersebut diatas disampaikan mendekati Hari Pencoblosan dengan Swing Voters yang tergolong tinggi, di atas 20 persen, lazimnya tak lebih dari 10 persen , lebih pantas bila hasil survei sperti itu dilaksanakan ketika  para Paslon Kepala daerah baru saja ditetapkan oleh KPUD sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu, publik kan memaklumi masih besarnya jumlah Pemilih yang belum bersikap.

Kemudian, jelas disampaikan bahwa Paslon Nomor 4 " Hanya" menganggap  Kompetitor sejatinya adalah Paslon Nomor 1, ada kesan Paslon Nomor lainnya "Bukan Rival Sepadannya" ? Ditambah lagi upaya khusus meremind publik untuk menyoroti kasus asusila atas Paslon tertentu yang telah dilupakan masyarakat,sungguh berjarak dengan tatakrama kepatutan. Selanjutnya, ada indikasi upaya "Branding & Driving Opinion" bahwa Paslon Nomor tertentu lebih berpeluang memenangkan pertarungan Pilgub Sumsel.

Secara psikososial, masyarakat yg blm menentukan sikapnya  Cenderung akan mengarahkan pilihannya terhadap Paslon yang berpeluang, serta Para Pemilih yang telah bersikap akan menguatkan Pilihannya.

Tak bisa dihindari "Tarung Opini " antar Paslon yg berkompetisi, akan lebih " Humble & Wise" bila Ada Paslon yang Terusik dgn Rilis Survei ini untuk Meresponnya dengan melakukan aksi Konseptual Kuantitatif sebagai Kontra Opini yang mampu menyajikan Data juga Fakta yang lebih Rasional, Teruji serta Akuntabel. Bukan juga dengan bereaksi melakukan  Publikasi Jajak Pendapat oleh lembaga sejenis yakni 'Konsep Indonesia' yakni mengunggulkan Paslon tertentu selisih 6,3 persen, hanya 620 responden dan swing voters nyaris 30 persen. 

Untuk kedepannya diharapkan lembaga survei yang berfungsi sebagai barometer aspirasi sosial kemasyarakatan agar lebih Wareness dan selektif dalam merepresentasikan kinerja institusinnya, apa lagi yang bersentuhan terhadap aktifitas maupun sketsa  politik warga. Akhirnya "kecerdasan & ketangkasan" masyarakat Sumatera Selatan diyakini mampu menyikapi publikasi hasil hasil Survei aktifitas berdemokrasi terkait Pilkada, tentu saja dari Paslon dituntut untuk tak hanya siap sebagai Sang Pemenang, tetapi juga mampu bersikap Satria bila Belum Layak untuk jadi Penerima Amanah dari Rakyat;   Sang Pemegang Kedaulatan.


*Pemerhati Politik/ Forum Demokrasi Sriwijaya (ForDeS)

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi