Detik Sumsel Goes to Campus
Pemerintah Kabupaten Banyuasin
10 Oktober 2017

Menguatnya Pragmatisme Politik dan Defisit Demokrasi dalam Pilkada Palembang

Menguatnya Pragmatisme Politik dan Defisit Demokrasi dalam Pilkada Palembang
Oleh Bagindo Togar Bb

MENJELANG Pilkada Kota Palembang Tahun depan, beragam upaya dan strategi digulirkan oeh Para Bakal Calon untuk lolos menjadi Calon yang kelak dikontestasikan serta dirancang untuk dipermudah ruang dan jalannya menjadi Pemenang atau Berkuasa di Palembang.

Mulai jelas tersiar bahwa Pejabat Walikota/ Wawako saat ini Harno-Finda diprediksi berpeluang besar menang secara mulus alias tanpa perlawanan berarti dengan menggerus Kekuatan Partai Politik yang bakal mendukung  Pesaingnya. Seperti membangun koalisi besar dgn menghimpun Parpol, baik itu partai papan atas,enengah maupun papan bawah. 

Secara yuridis formal dalam Koridor  regulasi Pemilukada, hal tersebut diperkenankan, tetapi dalam tatanan persepsi, substansi juga etika berdemokrasi sangatlah Jauh dari nilai nilai kepantasan. Bahkan, lebih ironi lagi ada indikasi mengarahkan Pasangan Incumbent bakal "Diadu vs Kotak Kosong" Fenomena Politik apa ini??

Palembang adalah Ibukota Provinsi Sumsel, Provinsi yang tergolong memiliki potensi luar biasa di Republik ini. Dalam Konteks ini adalah Sumber Daya Manusianya, apakah Daerah ini mengalami Krisiis SDM yang memiliki Kapabilitas Kepemimpinan? Sehingga dalam ajang Pencarian Pemimpin dalam Pemilukada, kesulitan dalam menampilkan para Figur/ Sosoknya ( Kader) kepada Publik?

Dalam kasus Pilkada Kota Palembang, nyaris tak terdengar Parpol papan atas seperti Golkar, PDIP, Papan menengah Gerindra dan juga papan bawah yang menonjolkan maupun mendorong kadernya untuk bernyali maju bertarung vs Petahana. Aneh, secara nalar Politik tidak logis selevel Partai Golkar dan PDIP yang sangat Senior serta berpengalaman seperti "terdegradasi Marwah Politiknya ketika berhadapan "Penguasa Kota" saat ini.  

Kemana fungsi Parpol yang dijalankan selama ini? Lagipula, menurut pengamatan saya, pasangan petahana saat ini belum mampu menunjukkan kinerja pemerintahan plus pembangunan yang terukur lebih Baik dari Pemerintahan kota dari era sebelumnya. Bahkan cenderung hanya mengandalkan Pencitraan.

Bila kondisi ini berkelanjutan, maka Iklim dan aktifitas Demokrasi di Kota ini menjadi tidak menarik & tidak dinamis lagi. Rangkaian upaya kapitalisasi Parpol pengusung/Pendukung terhadap Petahana saat ini mengisyaratkan terjadinya Defisit Demokrasi dalam tubuh Parpol (khususnya Parpol papan atas). Artinya, pantas diappresiasi Partai menengah seperi Demokrat dan Nasdem, berani menetapkan Kadernya untuk didukung bertarung dalam Pemilhan Walikota/wawako juni mendatang.

Juga Parpol Papan bawah (kurang dari 5 kursi) akan lebih bermartabat, bila menggaungkan kesadaran kolektif, dengan mengeliminasi egoisme Politiknya melakukan "Merger Elektoral" agar bisa mengedepankan Pasangan Calonnya.

Pada sisi lain, mulai terdeteksi secara jelas ada usaha atau gerakan Politik yang disusun oleh Pasangan Petahana dgn "Memborong Parpol"  adalah bagian dari menekan peluang gagal sebagai Pemenang, dengan mempersempit kanal dan jaringan terhadap lawan politiknya. 

Hal ini bisa saja dimaknai, sebagai Kepanikan atau ketidaksiapan ketika akan berlaga veraua pesaing sepadan dengan cara berkolaborasi dengan Parpol2 ( Besar). Mungkin saja ini memcoba "mencopy paste" realitas politik pilkada yg pernah berlansung di Kab. Muba (?). Yang Penting Menang & berkuasa lagi. Tanpa mempedulikan Suasana Kebatinan Masyarakat, yang tidak kita sadari kelak merendahkan derajat mutu pendidikan demokrasi, yang sesungguhnya peran dan harapan Konstituen tak Layak untuk dipertaruhkan? Peran, Policy juga Moralitas para " Petinggi dan Pegiat Parpol suatu saat yang tepat akan dituntut tanggung jawabnya oleh Rakyat.

Penulis adalah Pemerhati Politik dan juga ketua IKA FISiP UnSri

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi