01 September 2017

Motivasi Qurban Untuk Membangun Peradaban Kemanusiaan

Motivasi Qurban Untuk Membangun Peradaban Kemanusiaan
Oleh : Dr. H. Muhammad Adil, M.A.*

Hadirin Jama'ah Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Pagi hari yang penuh barakah ini, kita berkumpuI untuk melaksanakan shalat 'Idul Adha.Ruku' dan sujud yang kita lakukan sebagai manifestasi taqwa kita kepada AIIah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan AIlah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti.Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung jiwa manusia yang beriman, bahwa Allah Maha Besar, Allah Maha Agung, tiada yang patut disembah kecuali Allah.  

Hadirin Jama'ah IduIAdha yang dimuliakan Allah, 

Inti dari ibadah kurban adaIah membentuk masyarakat yang bertaqwa lahir dan batin (zhahiran wa bathinan). Maksudnya adalah arang-orang yang menunaikan kurban pada saat idul qurban dan hari-hari tasyriq niatnya hanya mengharap ridha Allah SWT, bukan yang lain. Berapapun jumIah daging hewan yang dikurbankan adalah merupakan bentuk kepedulian sesama umat manusia. 

Dengan begitu, maka orang-orang yang bertaqwa adalah orang yang senantiasa berlaku baik kepada AlIah SWT, dan baik pula kepada manusia yang berada di sekitarnya. Inilah implementasi dari orang-orang yang disebut dengan hamba Allah SWT yang muttaqin, mereka yang menjadikantaqwa sebagai tujuan dari ibadah qurban. 

Firman Allah SWT QS. AIHajj, 22:37, Artinya: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untukkamu  supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu, dan berilah kabar gembira kepada orang-orangyang berbuat baik."

Manusia, dalam hidupnya cenderung sibuk dengan dirinya sendiri, kurang peduli dengan orang lain. Karenanya, melalui ibadah qurban diharapkan muncul gerakan bersama untuk saling meringankan kesulitan orang lain, memiIiki kepedulian sosiaI untuk kesejahteraan umat manusia. 

Ibadah qurban dapat menjadi sarana atau media saIing tegur sapa antar manusia dan saling berbagi, berlomba dalam kebaikan untuk memperkuat dan memperkokoh hubungan keumatan. Dengan begitu, umat tidak mudah disusupi oleh berbagai fihak yang memiliki kepentingan dan motif tertentu. 

Kalau ditanya tentang contoh bakti manusia kepada Tuhan tentang suatu pengorbanan, maka keluarga Nabi Ibrahim AS merupakan bukti paling otentik berupa bentuk ketulusan hamba kepada Tuhannya. Ketika mendapat perintah, dan perintah itu datangnya dari AIlah SWT, maka tanpa ada sedikitpun rasa ragu, bimbang dan takut. Bukan hanya Ibrahim AS, tapi juga istri, dan anaknya kompak berkeinginan yang sama dengan tekat bulat menyerahkan semuanya kepadaAlIah SWT.  

Hadirin Jama'ah Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Peradaban Mekkah dan keluarga Ibrahim Membangun sebuah peradaban besar yang monumental, terus-menerus hidup dalam masyarakat sampai sekarang, seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, tentu tidak instan, dibutuhkan proses yang sangat panjang. Orang-orang yang menjalaninya haruslah mereka yang memiliki mentaI dan fisik yang sangat baik dan kuat. Peradaban yang dibangun Ibrahim AS, tidak mungkin dapat dicapai, kalau keluargaIbrahim bukan orang yang bertaqwa.

Kunci dari ibadah qurban adalah menjadi bertaqwa. Hanya orang bertaqwalah yang mampu untuk memahami, mengamalkan dan mengimpIementasikan ajaran yanh diprektikkan oleh keIuarga lbrahim AS. Mulai dari proses yang tidak mudah dipahami oleh akal, dari Palestina, Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail (sedang menyusu) menunaikan perintah Allah SWT berjalam  menuju tempat yang sangat jauh. Begitu sampai di lembah yang sangat tandus, kering-kerontang, tidak terdapat tanda tanda kehidupan, tidak ada pepohonan yang tumbuh, tidak ada air yang mengalir, yang ada hanya terik sinar matahari, tiba-tiba mereka disuruh berhenti dan tinggal disana.

Perjalanan memilukan ini belum selesai, karena Siti Hajar harus terus bersabar, ternyata Ismail yang sedang menyusu dengannya, tidak lagi menghisap air susu, karen ASInya sudah mulai mengering. Ismail yang masih keciI itu, terus menangis, kemudian dia letakkan di atas tanah, sementara Siti Hajar  berjalan bolek-baIik (sa'i) mencari air, tetapi tidak ditemukan. Keajaiban datang, tiba-tiba, atas izin AlIah SWT dari hentakan kaki Ismail memancar air yang hingga sekarang dikenal dengan air zam-zam. 

Perjalanan menuju taqwa terus berlanjut, ketika usia Ismail sudah mulai besar, sekira 7 tahun, sedang lucu-Iucunya, mendapat kabar dari bapaknya Ibrahim bahwa dia diperintahkan untuk disembelih, dengan lantang, tanpa ragu, dia kemudian menyampaikan suara hatinya kepada sang ayah tentang kesiapannya untuk disembelih.

Meskipun, kala itu, iblis terus-menerus merongrong degan segala macam tipu muslihat supaya keluarga Ibrahim mengurungkan niatnya, namun mereka dengan hati yang mantap bahwa diperintah tuhan di atas segalanya. Ujian kemantapan iman dan taqwa keluarga Ibrahim berbuah manis, Ismail yang diminta untuk disembelih, digantikan oleh tuhan dengan kibas (Domba). Kondisi ini digbarkan oleh Allah dalam QS Ash-Shaffat 102-108.

Pelajarannya bahwa keIuarga Ibrahim layak dijadikan contoh, i'tibar, pelajaran bagi orang-orang kemudian, bahwa cinta kepada Allah SWT jauh lebih baik dan abadi dibandingkan dengan cinta kepada makhluk ciptaannya yang semu dan terbatas. Karenanya, wajar, kalau peradaban Mekkah yang dibangun Ibrahim, keluarga yang penuh iman dan taqwa itu kemudian dikenal menyejarah sampai sekarang. Peradaban Mekkah telah  meninggalkan berbagai macam kenangan dengan simbol-simbol peradaban tentang ketuhanan. Mekkah menjadi pusat ibadah umat manusia, ekonomi yang luar biasa maju, politik yang stabil, kondisi sosial masyarakatnya yang sangat baik, tempat bertemu manusia dari berbagai penjuru dunia, dari berbagai ras, etnik, warna kulit. Orang-orang yang datang ke sana kemudian adalah orang-orang yang bertaqwa, mereka datang dengan tidak mengharapkan yang lain, semua mengharapkan ridha Allah.        

Mekkah menjadi seperti sekarang, merupakan contoh dari doa orang yang bertaqwa, yaitu Ibrahim AS, yang kemudian diijabah (dikabulkan) oleh Allah SWT menjadi negeri yang seIalu ramai, orang-orang yang konsisten menunaikan shalat, buah- buahan datang dari berbagai penjuru dunia. Seperti firman AIlah SWT Q.S. al-Baqarah, 2:126 Artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdo'a : 

"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kiamat."

Dari ayat tersebut, kita memperoleh bukti yang jelas bahwa kota Makkah hingga saat ini memiliki kemakmuran yang melimpah. Jamaah haji datang dari seluruh penjuru dunia, memperoleh fasilitas yang cukup selama melakukan ibadah haji maupun umrah. Hal itu membuktikan tingkat kemakmuran modern, dalam tata pemerintahan dan ekonomi, serta keamanan, sebagai faktor utama kemakmuran rakyat yang mengagumkan. Semua itu menjadi dalil, bahwa do'a NabiIbrahim dikabulkan Allah SWT.

Hadirin jama'ah IduI Adha yang dimuliakan Allah. 

Nabi Muhammad SAW Membangun Perdaban Madinah, Peradaban Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW merupakan kelanjutan dari visi kenabian Ibrahim AS dalam rangka membangun peradaban umat manusia yang berketuhanan. Berproses dari Mekkah pindah menuju suatu tempat bemama Yastrib yang kemudian di dikenal sampai sekarang dengan Madinah.Mirip dengan kisah Ibrahim, karena dijalani oleh Nabi Muhammad SAW setapak demi setapak penuh dengan pengorbanan. Mekkah kala itu dianggap tidak kondusif, karena kuatnya rongrongan sukuisme orang-orang quraisy. Kekuatan suku menjadi sangat dominan, orang-orang lebih suka menuhankan suku, daripada menyembah Allah SWT.         

Ketika Nabi tinggal di Mekkah, yang dibangun olehnya adalah menjadikan para pengikutnya orang-orang yang memiliki iman yang kuat. Dengan begitu, apapun rintangannya akan dapat dihadapi secara bersama-sama. Tidak mudah menyadarkan orang-orang Mekkah supaya mereka bangun dari keterpurukan keimanannya,  dibutuhkan waktu yang sangat panjang. Bahkan supaya merek  semuanya beriman seperti harapan Ibrahim AS, Nabi Muhammad  SAW harus hijrah ke Madinah, untuk kemudian membangun  peradaban Madinah, setelah sukses, barulah dapat menjadikan  Mekkah sebagai kawasan bagi orang-orang yang beragana dan beriman.

Pembangunan pradaban kemanusiaan dimulai Nabi   Muhammad SAW ketika berada di Madinah. Sebagaimana kita   ketahui bahwa Madinah pada periode awal merupakan kumpuIan   berbagai peradaban yang memiliki basis yang sangat pluralistik (beragam); multi agama, multi ras, multi suku, dan muIti  bahasa. Mult'i agama, karena agama yang ada di Madinah saat itu adaIah Islam, Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabiin, Matsani, dIl. Multi ras, karena ras yang ada saat itu adalah ras orang-orang Arab yang   menurun dari Ismail, dan ras Israel yang menurun dari jalur Ishak. Multi suku, karena terdapat banyak suku saat itu, terdapat   orang-orang dari suku Quraisy, berasal dari Mekkah, mereka inilah  yang disebut dengan orang-orang muhajirin. Terdapat suku dari  bani Aus dan Khazraj, masyarakat asli Madinah yang kemudian  menjadi muslim, mereka inilah kemudian yang disebut dengan Anshar. Terdapat tiga suku besar orang-orang Yahudi yang sudah  Iama tinggal di Madinah, mereka adalah bani Qainuqa', Bani  Kuraidzah, dan bani Nadhir, juga terdapat orang-orang yang  berasal dari bani-bani orang-orang Nasrani. Multi bahasa, karena  terdapat banyak bahasa yang ada di Madinah antara lain bahasa Arab, bahasa Ibrani, bahasa Suryani, dll.

Terhadap fakta lapangan Madinah dengan basis  keberagaman seperti ini, maka Nabi Muhammad SAW sangat realistis daIam membuat kesepakatan bersama, yang kemudian dikenaldengan Kesepakatan Madinah (Mis taq al-Madinah). Pertama, meskipun terdapat beberapa agama, namun mereka bersepakat bahwa agama resmi adalah Islam, Yahudi, dan Nasrani. Kedua, meskipun terdapat beberapa bahasa yang digunakan, namun mereka bersepakat bahwa bahasa resmi adalah bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling banyak penutumya saat itu.Ketiga, mereka bersepakat untuk mendirikan-yang oleh para sejarawan-negara baru dengan nama "Madinah".

Kita tahu bahwa semula, nama wilayah ini bukanlah Madinah, tetapi Yatsrib. Nama Yastrib digunakan dan diambil dari nama pendirinya pada fase awal yaitu Yatsrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Imri bin Abil bin Sam bin Nuh.       

Untuk membangun sebuah negara baru dengan visi besar tentu nama menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dibahas dan disepakati ulang, jadilah mereka bersepakat dengan nama Madinah yang berarti kota.  

Menjatuhkan pilihan kepada nama Madinah bukan tanpa alasan. Karena Madinah lebih fleksibel, dianggap paling sesuai, berproses untuk meraih mimpi besar menjadi Madinah yang berketuhanan, persatuan, persaudaraan, kemanusiaan, adil, dan sejahtera. 

NiIai-nilai luhur inilah merupakan inti dari Piagama Madinah. Nilai-nilai fundamental seperti inilah   dalam perjalanannya menjadi bukti bahwa Madinah sebagai negara baru dapat berkembang dengan sangat cepat. Jawabannya antara lain adalah karena menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.  

Hadirin Jima'ah IduI Adha yang dimuliakan Allah, perdaban yang sedang dibangun oleh lndonesia Bukan bermaksud membandingkan negara kita Indonesia dengan negara Madinah yang dibangun oleh baginda Nabi SAW. Atau Mekkah yang peradabannya sudah dibangun sejak Nabi Ibrahim. Indonesia diprokIamirkan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada hari Jumat 17 Agustus 1945 saat umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa pada bulan suci Ramadhan. Bulan Ramadhan menjadi pilihan, tentu tidak sembarangan, hal ini terlihat dari bunyi pembukaan UUD 1945 yang menyebut, misalnya potongan kalimat "atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa..." Ini membuktikan bahwa puasa juga menjadi kesesuaian  waktu dalam rangka kemerdekaan Indonesia.

Sebelum merdeka, Indonesia juga multi agama, ras, suku, etnik. bahasa, dll. Mulai dari pemilihan nama menjadi Indonesia terdapat kemiripan prosesnya dengan ketika Nabi  SAW memilih Madinah menjadi nama negara yang baru. Menyepakati lima agama resmi negara juga agak mirip ketika Nabi SAW menyepakati Islam, Yahudi, dan Nasran sebagai agama resmi. Menyepakati bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara, juga agak mirip ketika Nabi SAW menyepakatibahasa Arab sebagai bahasa resmi. 

Memilih dan menyepakati nama Indonesia,  karena Indonesia terdiri dari banyak latar belakang suku seperti Jawa, Sunda, Kalimantan, Sulawesi, NTT, NTB, Sumatera, dll. Terdapat ratusan suku yang sudah hidup sejak lama sebelum Indonesia merdeka. Kemudian mereka dapat menyepakati bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara, karena terdapat tidak kurang dari 500 bahasa daerah. ada bahasa Palembang, Aceh, Minang, Jawa, Madura, Riau, Bugis, dll. Menyepakati lima agama resmi negara (Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha) saat merdeka, padahal di wilayah Nusantara terdapat ratusan agama lokal masyarakat antara lain; Sunda Wiwitan, agama Cigugur, Buhun, Kejawen, Parmalim, Kaharingan, Tonaas Walian, Tolottang, Aluk Todolo, Wetu Telu,  aurus, dll.           

Basis perbedaan yang sangat banyak itu kemudian dapat melebur menjadi Indonesia. Tentu ini merupakan sesuatu yang amat luar biasa. Ketika pidato pertama kali di depan sidang umum PBB, Presiden Soekarno dengan bangga dan sangat tegas menyebutkan dasar negara Indonesia sebagai negara baru, dengan menyebut: The Pancasila, panca means five, sila means principle: 1) belive in god, 2) nationality, 3) humanity, 4) democratie, 5) social justice. Dengan bentuk negara kesatuan, UUD 1945 sebagai konstitusi Negara, Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan perbedaan, jadilah kita Indonesia. Dan yang perlu kita ingat bahwa pilihan kesepakatan menyatakan Indonesia itu adalah anugrah yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita semua.  

Jika dikaitkan dengan perjuangan Ibrahim dalam  membangun peradaban umat manusia melalui Mekkah, Nabi Muhammad membangun peradaban Madinah, maka para pendiri  bangsa (founding fathers) telah bersepakat untuk membangun  peradaban manusia dengan nama Indonesia. OIeh Karena itu, patutlah jika kita jaga bangsa ini supaya menjadi bangsa yang  damai, aman tenteram, makmur, dan sejahtera. Kita terus menerus berdoa kepada AlIah SWT supaya peradaban kemanusiaan yang sedang kita bangun mendapat ridha dari-Nya. Sehingga kita bisa menggapai visi besar peradaban kemanusiaan yang disebut dalam Alquran Islam Rahmatan lil Alamin, baldatun thoyyibutun warabbun ghafur. Atau negara yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan kemanusian untuk menjadikan negara ini sebagai negara yang beradab, memiliki etika dan moral yang tinggi, menjadi negara yang sejahtera, adil, dan mamur,gemah ripah loh iinawi, toto tentrem karto rahajo. (Wirangga/DetikSumsel.Com)

*Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang

  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi