Banyuasin Siap Sukseskan Asian Games Tahun 2018
Pasang Iklan di DetikSumsel.com
24 Juni 2018

Panggung Milik Paslon Akbar-Hernoe

Panggung Milik Paslon Akbar-Hernoe
Oleh: Bagindo Togar Bb*

MENILAI debat Pilkada Palembang secara obyektif harus diakui bahwa Paslon walikota dan wakil walikota Palembang, M Akbar Alfaro-Hernoe Roesprijadji tampil meyakinkan panelis dan masyarakat kota Palembang. Atau bisa dikatakan, debat kandidat Jum'at malam (22/6) kemarin, adalah panggungnya pasangan satu-satunya dari jalur independen tersebut. 


Meskipun begitu apresiasi juga patut diberikan kepada paslon nomor urut 2, Sarimuda-Rozak yang lebih tenang dan argumentatif dalam memaparkan visi-misi dan menjawab pertanyaan. 

Berbeda dengan incumbent, meskipun telah mengawali debat kandidat dengan baik, sayangnya tidak bertahan lama sampai ke segmen berikutnya. Kondisi serupa juga terlihat pada Paslon 4, Mularis-Syaidina Ali. Penjelasan yang terlalu banyak berputar-putar dan mengulang mengakibatkan konten pesan yang ingin disampaikan menjadi tak jelas. Belum lagi beberapa kali paslon nomor urut 4 terlihat keliru dalam memahami konsep yang diajukan panelis. Seperti tentang indikator IPM yang ditanyakan paslon nomor urut 1 yang dijawab dengan penjelasan berulang tentang ASN oleh paslon nomur urut 4. Juga jawaban Saidina Ali paslon nomor urut 4 yang menyebutkan bahwa taxi online termasuk moda transportasi massal menunjukkan kegamangan paslon ini dalam menghadapi acara debat ini. Boleh jadi menunjukkan kurangnya persiapan.

Dalam hal cara penyampaian seperti akses, intonasi dan power suara, justru cawako termuda Akbar Alfaro terlihat paling menguasai panggung. Mengejutkan memang, Akbar yang praktis merupakan paslon paling minim pengalaman di bidang pemerintahan mampu menyampaikan pesan-pesan tentang program-programnya dalam nada suara yang tegas, lantang dan lugas serta tidak terlihat membaca. 

Sebaliknya paslon Sarimuda-Rozak walaupun tidak terlalu menonjol dalam cara penyampaian tapi berhasil menyampaikan pesan-pesannya secara lebih lengkap dalam acara debat ini. Paslon Sarimuda-Rozak mampu memanfaatkan waktu yang tersedia dalam acara debat ini untuk menyampaikan visi dan misi nya secara lebih konkrit dan terlebaorasi dengan baik. 

Paslon ini tidak hanya sekedar menyampaikan tentang visi Palembang Gemilang Darusalam yang ditunjukkan dengan infraastruktur yang baik, masyarakat yang sejahtera, tata kelola pemerintahan yang amanah, jujur dan bebas suap tetapi juga meberikan cara-cara untuk mencapai cita-cita tersebut memalui sejumlah program yang disampaikan berkali-kali dalam setiap segmen debat kandidat.

Debat Kandidat Setengah Hati

Kompetisi pemilihan walikota-wakil walikota Palembang seharusnya menjadi pesta rakyat yang seru, mengingat pertarungan ini terjadi di ibu kota propinsi Sumatera Selatan dan menjadi barometer kompetisi pimpinan daerah lainnya di propinsi ini. 

Karakteristik perkotaan yang ditandai dengan para pemilih yang rasional dan realtif memiliki tingkat pendidikan lebih memadai seyogyanya menyediakan akses yang luas terhadap visi, misi dan program yang akan diusung oleh para paslon. Debat kandidat seyogyanya merupakan media yang efektif untuk akses warga kota terutama para pemilih rasionalnya terhadap informasi visi, misi dan program-program yang diusung masing-masing paslon. 

Ironisnya, apa yang terjadi di pilwako Palembang tidak menggambarkan hal tersebut. Acara debat hanya dilangsungkan satu kali bandingkan dengan beberapa daerah lain yang umumnya menyelenggarakan dua kali bahkan ada yang sampai tiga kali acara debat. Itu pun dilaksanakan di ujung masa kampanye. 

Pesan apa yang dapat disampaikan dalam acara debat yang hanya satu kali ini jika dibandingkan dengan permasalahan kota yang kompleks? Artinya, debat yang seharusnya dapat menfasilitasi paslon dan warga untuk berbagi informasi sekaligus komitmen paslon terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh warga kota jelas jauh dari harapan itu. Sejumlah pertanyaan dapat muncul akibatnya. Seperti, apakah karakteristik warga kota yang cerdas dan rasional tidak menjadi pertimbangan utama dari penyelenggara pilkada sehingga hanya menyelenggarakan acara debat ini satu kali dan itu pun di jelang akhir masa kampanye? 

Pertanyaan ini akan bertambah jika melihat disaign panggung yang menyediakan podium mini dan pengeras suara yang melekat di podium sehingga kurang memberikan kesempatan kepada paslon yang kebetulan memiliki kemampuan panggung dan oratoris untuk memanfaatkan panggung. Jelas mereka tidak dapat menarik keuntungan dari kemampuannya tersebut. 

Pertanyaan yang mungkin muncul adalah apakah ini disengaja untuk menguntungkan paslon tertentu? Tentu saja kecurigaan ini mungkin berlebihan. Tetapi yang paling jelas terlihat adalah tidak jelasnya efektivitas yang diharapkan dari penyelenggaraan debat ini hanya satu kali dan jelang akhir masa kampanye. Pesan-pesan program dari para paslon jelas tidak mungkin terelaborasi dengan lebih baik, Singkatnya, kesan penyelenggaraan debat yang setengah hati menjadi sulit terelakkan.

Jangan Golput, Tentukan Pilihan 

Terlepas dari semuanya, debat kandidat yang disiarkan Live TVRI Sumsel dan PALTV tersebut, tentu menjadi catatan pemilih dalam memputuskan pilihan, terlebih untuk masa mengambang yang masih galau. Kualitas pasangan calon sudah terlihat, siapa yang sebenarnya benar-benar menguasai persoalan dan solusi untuk kota Palembang. Silahkan tentukan pilihan, tanggal 27 Juni datang ke TPS (tempat pemungutan suara), janhan sampai GOLPUT. 


*Pemerhati Politik/ Forum Demokrasi Sriwijaya ( ForDes)

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi