Banyuasin Siap Sukseskan Asian Games Tahun 2018
Pasang Iklan di DetikSumsel.com
26 Juni 2018

Pemenang Pilkada Sumsel adalah Alex Noerdin

Pemenang Pilkada Sumsel adalah Alex Noerdin
Oleh: MH. Al-Haffafah

Menyoroti Pilkada Sumsel, posisi Elit hari ini lebih condong ke Dodi Reza. Kalaupun ada yang mengatakan Incumbent itu adalah Ishak Mekki, tetapi arah elit (pemerintah yang berkuasa) lebih besar ke Dodi ketimbang Ke Ishak. Dalam permainan catur, kunci kemenangan permainan adalah rajanya harus tumbang. Jika dalam Pilkada Sumsel Raja (Alex Noerdin) masih kuat, strukturnya benteng (PDIP), kuda (partai2 pendukung), pion (ASN dan Birokrat) dan peluncur (PJS Bupati/ Walikota) masih begitu lengkap


Di pembukaan awal, peluncur diturunkan di Prabumulih (PJS Walikota) serangan dimulai dengan menggalang gerakan “Pilih Kotak Kosong” kemudian dilanjutkan peluncur kedua di Palembang. Namun dalam Pilkada, memenangkan kursi Gubernur tak sesederhana permainan catur. Pilkada memungkinkan  semuanya bisa keluar masuk, timses bisa saja pindah atau keluar sebagai pengkhianat. Bukan hanya itu dalam Pilkada juga melibatkan pemilik modal, kelas menengah, rakyat kecil dan kekuatan-kekuatan politik lain yang memungkinkan.

Kenapa harus Alex? Bukan karena kandidat yang ada tidak menarik, tapi hemat saya yang bertarung dalam Pilkada tahun ini adalah Alex VS Deru. Alex + PDIP dan Deru + Eks Kader Golkar. Saya ingin mencoba menyoroti Alex Noerdin yang saya posisikan sebagai elit, catatan menunjukan Alex Noerdin adalah Gubernur pertama yang menang dua kali dalam Rezim Pilkada. Sehingga sosok ini yang berpengalaman memahamai seluk beluk pemilih di Sumatera-Selatan.

Konsep Gaetano Mosca (orang yang pertama kali menyusun ilmu politik baru berdasarkan kelompok elit dan massa) meringkas konsep umumnya dengan mengatakan di semua masyarakat terdapat satu hal yang menonjol, yakni dua kelas, kelas yang berkuasa dan kelas yang dikuasai. Dalam konsep ini saya ingin memasukan Alex Noerdin kedalam posisi sebagai Elit (posisi yang berkuasa).

Kembali pada lokus, sikap elit hari ini sangat menentukan hasil kotak suara. Konteks Pilkada Sumsel saya menganalisis bahwa Dodi akan menang tipis atas Deru atau jika tidak Deru yang menang tipis atas Dodi.

Analisisnya? Pertama di Sumsel tidak ada problem idiologis, dalam sejarah (konteks rezim pilkada) belum pernah terjadi disumsel gesekan antara satu partai dengan partai lain yang disebabkan masalah idiologi, tidak juga masalah SARA, kalaupun muncul aksi yang membawa tema-tema agama itupun sifatnya temporer tidak dalam nuansa Pilkada. Berbeda dengan DKI atau wilayah lain yang memiliki potensi gesekan, hal ini hemat saya yang menguntungkan Dodi Reza. Apapun penilaian orang terhadap kepemimpinan Sumsel itu akan melekat citra Dodi didalamnya, Dodi diuntungkan karena kemungkinan untuk muncul isu idiologi (perbedaan garis ide, idiologi partai atau isu agama) tidak ada. 

Kedua, di Sumsel tidak ada “Oposisi Loyal” (Istilah oposisi loyal merupakan gagasan Nurcholis Madjid yang memandang dalam Orba perlu ada kekuatan penyeimbang). Asumsinya basis masyarakat Sumsel itu adalah pedesaan, kulturnya petani, wataknya tradisional dan konservatif (bukan masyarakat progresif dan revolusioner). Kemungkinan untuk terbangunnya konsolidasi oposisi tidak terjadi didalam tubuh Pilkada Sumsel. Terbukti ada empat calon dalam Pilkada Sumsel kali ini, kandidat lain yang tampil sebagai penantang (terlihat sebagai oposisi) hanyalah Deru. Tidak dengan kandidat lain (Ishak dan Aswari) apalagi jika membenarkan asumsi bahwa Ishak dan Aswari pernah menjadi bagian dari satu tim yang sama dengan Alex Noerdin. Analisis kedua ini juga menguntungkan Dodi Reza karena konsolidasi oposisi sulit terbangun.

Ketiga, posisi kelas menengah. Dalam segi ekonomi, pertumbuhan ekonomi di Sumsel trennya baik diatas 5%. Konteks ini menunjukan iklim usaha berjalan dengan cukup baik. Pembangunan dan infrastruktur berjalan kelindan dengan iklim investasi yang mengundang minat pemilik modal. Dari sini saya melihat bahwa hubungan pelaku bisnis dan pemerintah Sumsel berjalan baik.

Kesimpulan saya, tidak ada kepentingan kelas menengah yang terganggu selama kepemimpinan Alex Noerdin. Sejarah menunjukan perubahan politik besar selalu diperankan oleh kelas menengah didalamnya, Revolusi perancis misal adalah perubahan yang terjadi karena kelompok proletar dan kelas menengahnya bersatu. Di Sumsel kelas menengahnya tidak bersatu dengan proletar, justru kelas menengahnya bersahabat dengan pemerintah sehingga hubungan yang baik ini memungkinan terbukanya peluang untuk mendapatkan  modal dan akses untuk memperoleh kekusaan kembali (menangnya Dodi-Giri) sangat terbuka.

Keempat, Sikap Alex Noerdin sendiri (dalam posisi sebagai elit).  Sikap elit hari ini mendukung penuh Dodi-Giri. Perlu diingat selain posisi Alex Noerdin sebagai Gubernur yang sedang menjabat yang berarti posisinya harus netral, ia juga merupakan ketua partai Golkar yang memiliki tugas untuk memenangkan kandidatnya yang dalam hal ini adalah anak sendiri. Jika kita ingat, Alex Noerdin waktu itu pernah maju sebagai Gubernur DKI tapi kemudian kalah. Isu penghianatan Alex Noerdin (karena dianggap meninggalkan rakyat Sumsel saat maju sebagai Gubernur DKI) itu kemudian bergulir ditataran elit menjadi gerakan “ABA” (Asal Bukan Alex) pada Pilkada Sumsel 2013. Tapi kemudian Alex bisa tetap keluar sebagai pemenang Pilkada, waktu itu posisi Alex Noerdin sebagai incumbent yang harus melepaskan jabatan saat ingin maju lagi sebagai kandidat. Hari ini Alex tidak melepaskan jabatan, tapi Justru ialah yang menjadi panglima komando memimpin kemenangan Dodi-Giri.

Dari sini saya menganalisa jika besok pemenangnya Dodi Giri, indikator diataslah paling tidak menjadi parameter atau sebab kenapa Dodi akan menang. Tapi jika Deru yang keluar sebagai pemenang, artinya konsolidasi proletar diam-diam terbangun diakar rumput. Keberadaan Deru juga bisa dinilai sebagai antitesa dari Alex Noerdin yang dinilai sebagai model pemimpin yang “formalistik”.


*Pemerhati Politik, Ketua IKA FIISP Bidang Politik-Pengembangan Demokrasi

 

 

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi