Iklan Lucianty Pahri
Pemerintah Kabupaten Banyuasin
30 April 2018

Penghidupan Berkelanjutan Pasca Tambang Bagi Masyarakat di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim

Penghidupan Berkelanjutan Pasca Tambang Bagi Masyarakat di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim
Oleh: Dyah Indraswari

SEJAK adanya kegiatan tambang batubara di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, mata pencaharian masyarakat Tanjung Enim bergeser dari bertani dan berkebun menjadi pegawai bagi kegiatan pertambangan di sana. Tanjung Enim di bawah naungan PT. Bukit Asam merupakan salah satu lokasi tambang batubara terbesar di Indonesia saat ini.

Peduli dengan kesejahteraan masyarakat lokal, PT. Bukit Asam menyerap tenaga kerja lokal untuk mendukung berjalannya kegiatan tambang. Tenaga kerja yang diserap dimaksimalkan dari sekitar Tanjung Enim, paling jauh hanya dari Palembang.

Namun tidak berbeda dari lokasi tambang lainnya, dalam jangka waktu panjang batubara di Tanjung Enim akan habis jika terus dilakukan penambangan. Apabila kegiatan tambang di Tanjung Enim telah selesai, dikhawatirkan tenaga kerja yang semula terserap di kegiatan tambang akan menganggur karena tidak memiliki keterampilan untuk mengerjakan mata pencaharian lain, terutama tenaga kerja berusia muda yang pekerjaan pertamanya adalah melakukan kegiatan tambang. Mengantisipasi kondisi ini, PT. Bukit Asam melakukan berbagai hal untuk mengolah lahan bekas tambang agar bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar di masa yang akan datang. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu menjadikan Tanjung Enim sebagai kota wisata di atas lahan bekas tambang. Kota wisata tersebut sedang dalam tahap perencanaan di tahun ini dan diharapkan dapat mulai beroperasi di tahun 2019.

Dalam pandangan saya PT. Bukit Asam sudah menunjukkan itikad baik untuk tidak meninggalkan area bekas tambang begitu saja. Namun agar masyarakat Tanjung Enim siap untuk menjalankan kota wisata ini, sebaiknya dari sekarang masyarakat diberikan edukasi formal mengenai pariwisata dan penyelenggaraannya, seperti dengan mengadakan pelatihan atau dengan membuka sekolah khusus pariwisata. Selain itu masyarakat juga perlu edukasi untuk penyediaan fasilitas dan jasa lain pendukung kegiatan wisata seperti akomodasi, trasnportasi, tempat makan, souvenir, pemandu, dan lain-lain. Karena berjalannya kota wisata tidak akan berkelanjutan jika tidak didukung dengan fasilitas dan jasa lain yang memadai. Saya berharap ke depannya PT. Bukit Asam dapat mempersiapkan Tanjung Enim untuk kondisi pasca tambang, bukan hanya dari segi kesiapan infrastruktur tetapi juga dari segi kesiapan masyarakatnya agar penghidupan masyarakat di Tanjung Enim dapat berkelanjutan.

*Penulis adalah Mahasiswa Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota ITB

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi