03 Juli 2017

Politik Islam Suatu Keharusan

Politik Islam Suatu Keharusan
Oleh Bambang Irawan*

SEMARAK bau dunia perpolitikan kian makin mendekat. Dalam hitungan beberapa bulan kedepan Rakyat Kota Palembang akan memilih pemimpin baru melalui mekanisme pilkada serentak 2018. Para pendukung masing-masing kandidat terus bergencar mempromosikan kandidatnya. Pola kandidat yang dimainkan oleh sebagian para pendukung kandidatnya masih bisa dikatagorikan jauh dari kata 'sehat'. Hal tersebut masih banyak kita temukan di berbagai media sosial.

Dalam potret kacamata Islam dinamika politik sudah diatur sedemikian rupa dan gamblang. Seperti yang dijelaskan Imam Mawardi dalam kitabnya Adab Ad-dunya wa Ad-din (Tata krama kehidupan politik/duniawi dan Agamawi) disebutkan etika religius dan etika sosial merupakan salah satu alternatif untuk membina dam mengembangkan etika moral dewasa ini sebagai masalah dekadensi. Harus ada konsep yang menjadi benteng pondasi yang kuat saat merebaknya krisis moral dalam dunia perpolitikan tanah air saat pesta demokrasi berlangsung. Salah satu alternatif tersebut yakni konsep muru'ah yang saat ini sedang mengalami islamisasi diberbagai bidang kehidupan rakyat Indonesia.

Muru’ah dalam perspektif Imam Mawardi adalah menjaga kepribadian atau akhlak yang paling utama sehingga tidak kelihatan pada diri seseorang sesuatu yang buruk atau hina.

Dikatakan pula oleh Abdullah al-Anshari al-Harawi seorang tokoh mazhab Hambali, bahwa orang dapat dikatakan memiliki muru’ah apabila akalnya dapat mengendalikan syahwatnya

Imam Al-Mawardi memandang bahwa sikap muru’ah merupakan perhiasan pribadi seorang Muslim : Menjadi bukti keutamaan budi dan menjadi tanda kemuliaannya. Seperti yang telah dicontohkan Baginda Rasulullah SAW.

Sayyid Qutb dalam Fii Zhilalil Qur’an menafsirkan Q.S. Al-Imron 110 bahwa yang layak menjadi pemimpin umat manusia hanyalah "orang-orang yang berpredikat terbaik". Karena ingin meraih predikat umat terbaik itulah, umat Islam terdahulu tidak pernah berhenti ataupun lemah semangatnya dalam perjuangan menyebarkan risalah Islam ke seluruh permukaan bumi dan sekarang masih ada beberapa politisi muslim yang melakukan hal tersebut dalam dunia politik tanah air. Mereka yakin bahwa metode untuk mewujudkan kebangkitan Islam hanyalah dengan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup yang lengkap. Islam dijadikan sebagai pola kehidupan yang menyeluruh. Umat Islam percaya dan yakin bahwa hanya Islam yang mampu memecahkan seluruh urusan manusia secara sempurna, menyeluruh, praktis dan sesuai dengan fitrah kemanusiaan.

Namun saat ini umat Islam berada dalam kondisi dan situasi yang lemah serta paling rendah dalam memahami Islam. Kondisi ini telah terbukti menyebabkan segala bentuk pemikiran-pemikiran yang merusak menyusup kedalam tubuh umat Islam. Hal inilah yang mengakibatkan munculnya berbagai gangguan dan keresahan. Umat Islam cenderung mudah mengabaikan hukum-hukum Islam. Akhirnya kehidupan mereka merosot sampai ke taraf rendah. Dalam kondisi ini, umat Islam tidak memiliki peranan lagi dalam percaturan politik internasional.

Dalam konteks Indonesia, korelasi Islam dan politik juga menjadi jelas dalam penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Ini bukan berarti menghapus cita-cita Islam dan melenyapkan unsur Islam dalam percaturan politik di tanah air. Sejauh mana unsur Islam mampu memberikan inspirasi dalam percaturan politik, bergantung pada sejauh mana kalangan muslimin mampu tampil dengan gaya baru yang dapat mengembangkan kekayaan pengetahuan sosial dan politik untuk memetakan dan menganalisis transformasi sosial.

Politik Islam tidak identik dengan rebutan kedudukan dan kekuasaaan semata akan tetapi sejauh mana seorang pemimpin atau pemerintah mampu memperbagus permasalahan rakyat dan mereka dengan cara membimbing mereka untuk mereka dengan sebab ketaatan mereka terhadap pemerintah. Dalam hal ini, maka bagi Islam politik itu sangat diprioritaskan.

Hadirnya politik dalam bingkai Islam dapat menjadikan arah politik bisa mengayomi, memelihara dan mengatur segala lini kehidupan secara berkeadilan dan mensejahterakan rakyatnya. Oleh karena itu, sangat penting menyatukan Islam dan Politik sebab Imam Al Ghazali mengatakan "agama dan negara tidak bisa dipisahkan, agama adalah pondasi sedangkan Pemerintahan adalah penjaga."

Pesta demokrasi adalah ajang untuk mencari ridhai Illahi sebagai investasi akhirat. Sayogianya calon pemimpin masa depan ini harus lebih memperkuat pondasi individu masing agar nantinya terhindar dari pratik korupsi yang sudah menjadi bahaya laten bangsa ini dan calon pemimpin masa depan ini untuk lebih jauh memahami tugas dan fungsi mereka sebagai pemimpin akan datang dengan memadukan teori-teori para ulama terdahulu diberbagai kitab karanganya yang telah mengatur percaturan politik dalam Islam dengan kearifan lokak bangsa Indonesia ini.

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Fatah Palembang dan merupakan Ketua Bidang Pemberdayaan Umat HMI Cabang Palembang 2015-2017.

  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi