Iklan Lucianty Pahri
Pemerintah Kabupaten Banyuasin
15 Mei 2018

Ramadhan Disambut Pengantin Baru

Ramadhan Disambut Pengantin Baru
Oleh H. Muhammad Syubli. LN*

Beberapa hari lagi kita akan berjumpa dengan bulan suci Romadhon, suroh yang berbicara tentang puasa secara lengkap hanyalah suroh Al Baqoroh 183-187. Tentu kita semua tahu bahkan hafal. Sekedar mengingatkan kita semua, akan kita bahas ayat tentang puasa ini, karena kita akan melaksanakan puasa Romadhon 1439 H. Mari kita baca;


183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, 184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) mem-bayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati me-ngerjakan kebajikan {Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari}, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui

Ayat ini (S.2:184) turun berkenaan dengan“maula”(Budak yang sudah dimerdekakan) Qais bin Assa-ib yang memaksakan diri berpuasa, padahal ia sudah tua sekali. Dengan turunnya ayat ini (S.2:184),ia berbuka dan membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin, selama ia tidak berpuasa itu.(HR.Ibnu Sa'd di kitab at-Thabaqat sumber dari Mujahid}.

 185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

186. Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdu’a bila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi semua perintah-Ku  dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran

{Ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi SAW yang bertanya: "Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?" Nabi Saw terdiam, hingga turunlah ayat ini (S. 2: 186) sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu. Menurut riwayat lain, ayat ini (S. 2: 186) turun sebagai jawaban terhadap beberapa shahabat yang bertanya kepada Nabi Saw: "Dimanakah Tuhan kita?" (HR 'Abdurrazzaq dari Hasan, ada sumber-sumber lain yang memperkuatnya. Hadits ini mursal)

Menurut riwayat lain, ayat ini (S.2:186) turun berkenaan dengan sabda Rasulullah Saw. "Janganlah kalian berkecil hati dalam berdu’a, karena Allah Swt, telah berfirman "Ud 'uuni astajib lakum"(artinya berdu’alah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya)(S.40.60). Berkata salah seorang di antara mereka: "Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar du’a kita atau bagaimana?" Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (S.2:186) (HR. oleh Ibnu 'Asakir bersumber dari Ali.) 

Riwayat lain lagi, setelah turun ayat "Waqoola rabbukum ud'uni astajib lakum" yang artinya berdu’alah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya (S.40:60), para shahabat tidak mengetahui bila saat yang tepat untuk berdu’a.Maka turunlah ayat ini (S.2:186) (HR.Ibnu Jarir dari 'Atho’ bin Abi Rabah}

187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf {I'tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat ibadah kepada Allah} dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa. 

Dari ayat ini kita ketahui bahwa bercampur suami isteri dibulan Ramadhan boleh, tentu saja pada malam hari, dan waktunyapun sebelum makan sahur. Tetapi bila terjadi juga sebelum Imsyak. Kalau sudah lewat dari waktu itu dikhawatirkan akan membatalkan puasa, apalagi “dikerjakan” sesudah Imsyak atau ketika sudah masuk waktu subuh. Inilah sebabnya orang-orang tua kita dahulu tidak mau menikahkan anak- anaknya pada bulan Rojab atau Sya’ban. Mereka khawatir hal-hal yang tak diingini terjadi.  

Ini peringatan untuk para pasangan muda atau penganten baru, yang menikah beberapa hari sebelum Romadhon terutama. Bila ini terjadi sengaja atau tidak sengaja, maka Kaffaratnya wajib puasa dua bulan berturut-turut, tidak boleh batal seharipun. Ketentuan ini hanya berlaku bagi orang muslim tentunya, karena syari’at puasa hanya untuk orang-orang yang beriman kepada Allah. Mari kita sambut bulan suci Romadhon 1439 H ini dengan hati yang ikhlas agar kita betul-betul jadi insan yang bertaqwa sebagaimana dikehendaki Allah “…agar kamu bertakwa” ujung ayat 183 suroh kita bahas ini.


*Penulis adalah Majlis Mustasyar Dewan Masjid Indonesia SUMSEL

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi