Iklan Lucianty Pahri
Pilgub Sumsel 2018
31 Desember 2017

Selamat Datang Tahun Politik

Selamat Datang Tahun Politik
Oleh Abdul Malik Syafei, SHI.,MH

TAHUN 2018 menjadi tahun krusial bagi Sumsel, Kota Palembang khususnya. Sebab, tahun ini merupakan momentum pesta demokrasi rakyat. Tahun dimana roda pemerintahan harus berganti dalam periode kepemimpinan. Secara aturan, Gubernur Sumsel Alex Noerdin tidak dapat mencalonkan lagi, maka dipastikan Sumsel akan mendapatkan gubernur baru. Nasib 8,16 juta jiwa penduduk Sumsel (data BPS per Juni 2016) dipertaruhkan di tahun politik ini.

Tentunya Pesta rakyat tahun ini akan berbeda dengan lima tahun lalu, sebab pemungutan suara yang dijadwalkan pada 27 Juni 2018 nanti, tidak hanya akan melakukan pemilihan gubernur dan wakil gubernur saja, namun juga serentak dengan pemilihan kepala daerah di 9 kabupaten/kota lainnya yakni, Palembang, OKI, Prabumulih, Muaraenim, Lahat, Pagaralam, Empat Lawang, Banyuasin dan Lubuk Linggau. Jelas ini akan menguras tenaga secara politik, karena peta dukungan partai dipastikan terbelah antara Pilgub dan Pilkada kabupaten/kota mengingat politik lokal tidak semuanya selaras dengan Provinsi dan bahkan politik nasional.

Pilkada Palembang misalnya yang merupakan lumbung suara Pilgub Sumsel karena pemilih terbesar mencapai 1,1 juta pemilih dari 5,8 juta daftar pemilih tetap (DPT) Pilres Sumsel sangat menentukan kemenangan, faktanya tidak selaras dengan Pilgub. Seperti Harnojoyo yang diusung Demokrat, jelas tidak akan melanggar perintah partai jika Demokrat nantinya mengusung Ishak Mekki. Sementara ia pun terikat dengan PDI Perjuangan yang mengusung pasangannya Fitrianti Agustinda, harus mem-back up calon gubernur dari PDI Perjuangan yang akan digandeng kader Golkar, Dodi Reza Alex. Begitu juga dengan dukungan partai pada kandidat lainnya di kabupaten/kota lainnya. Inilah kenapa tahun politik 2018 ini akan menguras tenaga ekstra sehingga akan berbeda dengan Pilkada periode-periode sebelumnya.

Mulai Perang Terbuka

Semarak menyambut pesta demokrasi sebenarnya telah dimulai sejak Oktober tahun 2017 lalu, tapi secara terang-terangan akan ditentukan pada bulan ini, bertepatan dengan pendaftaran pasangan calon kepala daerah di Komisi Pemilihan Umum (KPU), tanggal 8-10 Januari. Konstalasi iklim pemetaan calon akan berakhir menyusul mulai tampaknya kandidat secara berpasangan. Selanjutnya, mulailah perang terbuka antar kandidat mengadu program, mengambil perhatian masyarakat, melakukan segala cara untuk meraup suara kemenangan. Disnilah pertarungan sebenarnya dimulai, di tahun inilah Sumsel mulai dipertaruhkan karena tensi politik akan mempengaruhi segala aspek kepentingan, baik ekonomi, keamanan, dan bahkan keagamaan serta pemerintahan.

Pilgub sendiri diprediksi bakal diikuti 3-4 pasangan calon, saat ini baru Herman Deru-Mawardi Yahya (HD-MY) yang positif berpasangan. Keduanyapun sudah cukup syarat dukungan partai (Nasdem 5 kursi, PAN 6 kursi dan Hanura 5 kursi) dan bakal menggelar deklarasi 7 Januarui nanti. Prediksi calon lainnya yang juga sudah cukup dukungan Dodi Reza Alex yang akan mengggandeng Giri Ramandha (Golkar 10 kursi dan PKB 6 kursi), kini sedang menunggu dukungan resmi PDI Perjuangan (13) yang akan diumumkan 4 Januari nanti. Lalu, pasangan Ishak Mekki-Eddy Santana (Demokrat, PPP dan PPP total 15 kursi) dan Aswari Rivai-Irwansyah, Gerindra plus PKS (15 kursi). Iklim pemetaan politik ini akan berakhir pada saat pendaftaran nanti, siapa yang akan bertarung, berpasangan dengan siapa, dan partai apa pendukungnya, kita nantikan saja 8-10 Januari nanti di KPU.

Tugas Berat Penyelanggara dan Kepolisian

Suksesnya Pilkada tahun ini tidak terlepas dari integritas dan profesionalitas penyelenggara Pemilu, baik KPU maupun Bawaslu. Pilkada serentak Pilgub plus 9 kabupaten/kota harus dipersiapkan dengan matang hingga ke petugas tingkat bawah (Tempat Pemungutan Suara). Biasanya penyelanggara ini bukan saja disorot pada saat pelaksanaan pemungutan suara, tapi juga sebelum dan sesudah pelaksanaan. Sebelum pelaksanaan, DPT akan menjadi bahan klasik yang diperdebatkan, data ganda dan eksodus pemilih di daerah perbatas harus diantisipasi sejak dini jika tidak ingin menjadi problem. Begitu juga dengan logistik, persiapan yang matang surat suara, distribusinya hingga memastikan warga yang berhak dapat menyalurkan suaranya. Begitu juga pasca Pilkada, kekuatan kuasa hukum menjadi penting untuk menangkal argumen pihak yang tidak puas. Tapi, semua ini akan happy ending jika memang KPU hadir melayani dengan profesionalitas dan integritas, kita awasi bersama.

Sementara bagi kepolisian, tentu Pilkada tahun ini sudah harus dipersiapkan dengan matang, kita pun yakin ini sudah diantisipasi oleh kepolisan dan TNI yang akan mem back up. Sebenarnya, yang menjadi perhatian utama bukanlah di Pilkada serentaknya, tapi waktu yang sangat berbedekatan dengan persiapan dan pelaksanaan Asian Games. Sukses dan tidaknya pengamanan Pilkada di Sumsel, khususnya di Palembang ini akan menentukan kesuksesan pesta olahraga terbesar di Asia tersebut, bulan Agustus nanti. Kuncinya, tentu sebagai warga Sumsel menginginkan Sumsel Sukses Pilkada dan Sukses Asian Games, karena ini akan membawa nama provinsi ini harum ke dunia internasional.

Sumsel Harus Lebih Baik

Siapapun yang terpilih nanti, kita berharap adalah pemimpin yang dapat menakhodahi Sumsel lebih baik kedepan. Nama-nama yang sekarang muncul sebagai calon gubernur adalah putera terbaik daerah. Penting bagi pemilih melihat treck record calon, baik secara integritas maupun pengalaman dalam kepemimpinan. Apakah Provinsi ini akan lebih baik pemerintahannya kedepan? atau malah stagnan? atau bahkan menurun kualitasnya? Masyarakat Sumsel-lah yang menentukannya, pergantian kepala daerah tahun ini, akan menentukan hajat orang banyak, seiiring efek simultan yang dihasilkannya. (*)

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi