Iklan Lucianty Pahri
Pemerintah Kabupaten Banyuasin
11 April 2018

Sosiologi dan Ekonomi: Beda Frase, Beda Makna

Sosiologi dan Ekonomi: Beda Frase, Beda Makna
Apriansyah Muslih*

SOSIOLOGI dan ekonomi mengalami disparitas lingkup studi selama beberapa dekade terakhir. Sosiologi dan ekonomi seolah menjadi dua disiplin yang tak berkaitan satu sama lain. Fenomena ini ternyata bisa diidentifikasi dengan jelas dari istilah-istilah yang digunakannya. Coba simak uraian berikut ini.

Disparitas sosiologi ekonomi field of study  sudah ada sejak ekonom klasik dan neoklasik mengembangkan teori-teori ekonomi tanpa institutional framework. Menurut Schumpeter, kesenjangan antara ekonomi dan sosiologi sudah dimulai sejak Adam Smith menulis ‘The Wealth of Nations’ yang hingga kini menjadi rujukan teori-teori ekonomi modern. Adalah Karl Marx yang menurutnya, menjadi ekonom paling berhasil menganalisis ekonomi secara sosiologis. Keberhasilan Marx terletak pada analisisnya tentang konflik struktur antar kelas. Torsten Veblen juga mengkritik ekonomi neoklasik yang bersifat utilitarian, mengasumsikan aktor ekonomi secara individualistik dan transaksional. Asumsi seperti itu, menurutnya, membuat ekonom neoklasik cenderung menjauhkan analisisnya dari realitas historis-empirisis menuju transaksi rasional yang individualistik. Padahal dalam tindakan transaksional, selau melibatkan dua individu atau lebih.

Perkembangan sosiologi ekonomi tentang social embeddedness dilakukan oleh Karl Polanyi pada 1950. Namun, Polanyi lebih banyak mengkaji aspek political economydari embeddedness ketimbang social embeddedness itu sendiri. Para pemikir strukturalis di Amerika juga mengembangkan sosiologi ekonomi yang mendekatkan antara Economy dan Society. Adalah Talcott Parson yang memberi banyak pengaruh pada sosiolog ekonomi sampai periode 1960-an. Tetapi, analisis pengikutnya yang terlalu bersifat institusionalis tidak diterima oleh para ekonom neoklasik pada waktu itu. Analisis itu juga dianggap oleh Granovetter sebagai cara pandang ‘oversocialized’ terhadap fenomena ekonomi.

Studi sosiologi ekonomi sempat mengalai vacuum sekitar tahun 1960-1970. Dalam arti, tidak ada karya intelektual yang memberi pengaruh signifikan terhadap sosiologi ekonomi. Sosiologi dan ekonomi seakan terpisah satu sama lain dengan segala persoalanya sendiri. Perkembangan sosiologi ekonomi mengalami kebangkitan kembali melaui artikel yang diterbitkan oleh ‘American Journal of Sociology’ pada 1985 “Economic Action and Social Structure: The Problem of Embeddedness“. Perkembangan teoritis tersebut menjadi awal dari studi yang kini dikenal sebagai ‘The New Economic Sociology’ itulah sepenggal uraian sejarah Sosiologi Ekonomi

Penulis mencoba masuk ke inti dari apa yang ingin disampaikan sering kali kita melihat sekelompok buruh turun ke jalan menuntut kenaikan upah. Ada beberapa analisis mengatakan ”mereka butuh lebih banyak uang”. Ada juga sekelompok Analisis lainnya mengatakan ”mereka ingin lebih banyak uang”. Di sini terlihat perbedaannya: kebutuhan atau keinginan, need or want. Mana yang lebih tepat? Mengapa beda analisis, beda istilah? Tebakannya mudah, karena mereka beda dalam memahami pengetahuan dan itu sah-sah saja selagi tidak jauh dari koridor sosiolog seutuhnya.

Contoh ketika di kampus kita lebih nyambung ngobrol atau berdiskusi isu-isu penting dengan teman atau kolega se-jurusan, se-departemen, se-fakultas. Ketika bertemu teman lain jurusan atau lain fakultas, atau dengan disiplin ilmu yang berbeda, kadang kita sulit memahami apa yang dimaksud lawan bicara kita. Hal ini bisa jadi karena perbedaan maksud dari istilah yang digunakan. Misalkan ada Dua mahasiswa PhD bidang sosiologi ekonomi dari Universitas Chicago, Jeffrey Smith dan Kermit Daniel membuat daftar contoh istilah membingungkan khususnya dalam bidang sosiologi ekonomi yang perlu klarifikasi agar pendengar tidak kebingungan. Di sini, akan sedikit aya tulis daftar istilah tersebut. Saya ambil dari ”Economic/Sociology Phrase Book” karya Smith dan Daniel yang saya interpretasi dan terjemahkan secara bebas, berikut beberapa istilah sosiologi dan ekonomi yang berbeda frase dan makna.

Kebutuhan >< Keinginan, perilaku rasional >< keputusan berdasarkan kalkulasi yang sistematis, perbedaan orientasi nilai >< kemalasan, Determinasi >< korelasi, kasualitas >< korelasi, analisis struktural >< analisis regresi, upah rendah >< produktivitas rendah, upah tinggi >< produktivitas tinggi, modal sosial >< teman.

Keterbatasan definisi istilah terdapat pada hampir semua bidang ilmu. Daftar diatas menunjukkan limitasi istilah Ekonomi. Maksudnya, ekonomi neoklasik. Maka tidak salah jika seseorang selalu meminta klarifikasi dari istilah yang dipakai lawan bicara ketika diskusi atau debat. Daftar istilah sosiologi diatas lebih beragam, kompleks, dan tentu saja terbuka untuk diperdebatkan dan dipertanyakan. Pada akhirnya klarifikasi istilah penting dalam diskursus terutama ilmu sosial. Kebingungan menjadi konsekuensi logis yang harus diterima dalam proses memahami. Resikonya bisa mengerti atau salah mengerti.

*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana UNSRI Konsentrasi BKU Sosiologi Lingkungan dan Aktivis HMI

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Website
  • Google+
  • Rss
  • Pinterest
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Vimeo
  • Youtube
  • Flickr
  • Email

Refleksi