Iklan Lucianty Pahri
Pemerintah Kabupaten Banyuasin
Diposting oleh : Wirangga     Tanggal : 23 Juli 2017 08:01     Dibaca: 411 Pembaca

Sarjan: Ajari Anak Tentang Agama dan Budaya

Sarjan Tahir di tengah anak-anak pemenang lomba yang sedang berbahagia

Palembang, DetikSumsel- Anak merupakan generasi penerus bangsa. Anak merupakan aset yang berharga bagi masa depan bangsa. Mereka sebagai tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa harus diasuh, dilindungi, dan dididik dengan baik.

"Oleh karena itu, setiap anak berhak dan harus mendapatkan bekal agama, kepribadian, kecerdasan, keterampilan dan semangat kebangsaan serta kesehatan, perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi," kata Dirut Patani saat dimintai pendapat hari anak nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli.

Sarjan menuturkan, Anak-anak khususnya di Sumsel harus dijaga terutama dari budaya bangsa asing yang bisa menyebabkan anak tersebut rusak dan mengakibatkan rusaknya negara sendiri. "Anak-anak juga harus diajari tentang agama dan budaya," ungkapnya.

"Pemerintah daerah harus lebih intensif lagi memperhatikan program pembangunan anak-anak baik itu yang masih memiliki orang tua, berkebutuhan khusus, maupun anak-anak terlantar," sambungnya.

Menurut politisi Demokrat ini, fenomena saat ini cukup menghawatirkan, dimana Anak-anak cenderung gampang dipengaruhi terhadap orang dan hal  yang bersifat merusak, seperti peredaran obat-obatan terlarang dalam bentuk permen, video asusila di internet yang bisa merusak moral anak-anak serta maraknya kasus bullying di kalangan anak, remaja, sampai mahasiswa.

"Itu tentu saja berita yang sangat menyedihkan. sari anak-anak  saja sudah belajar tentang kekerasan , bagaimana jika iya sudah besar nanti? mungkin ia tidak segan untuk menyakiti orang lain. Aksi Bullying dapat terjadi dimana saja kapan saja dan oleh siapa saja,"

Lanjutnya, penyebab kekerasan anak di sekolah kebanyakan datang dari teman sebaya atau kakak tingkat yang melalui intimidasi terhadap pihak yang lemah. "Karena Bullying tidak lepas dari adanya kesenjangan power/kekuatan antara korban dan perilakuserta diikuti pola repetisi (pengulangan perilaku)," sebutnya.

Ditambahkan, aktifitas bullying bukanlah muncul secara tiba-tiba, tapi ada proses panjang yang melatar belakanginya dan jika dibiarkan akan dapat menjadi ‘malapetaka moral’ yang dapat menghancurkan akibat Meningkatnya kekerasan di kalangan anak-anak, remaja hingga mahasiswa. "Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk tindak kekerasan. Meningkatnya perilaku yang merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan perilaku seks bebas, menjauhnya anak-anak dari agama, Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk," tuturnya.

Pendidikan Karakter Berkelanjutan dan Peran Orang Tua

Masih menurut Sarjan, etos kerja semakin rendahnya rasa hormat pada orangtua dan guru. Rendahnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara. Membudayanya ketidakjujuran. Dan Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. "Untuk mengatasinya, maka perlu penanganan yang komprehensif- dengan pendekatan holistik.  Salah satu cara untuk adalah ‘pendidikan karakter’ dan dengan pendidikan agama yang berkelanjutan," katanya.

Diakui oleh Sarjan, bahwa implementasinya di lapangan memang masih cukup lemah. Internalisasi nilai-nilai karakter yang semestinya dimiliki oleh anak-anak  generasi penerus bangsa- masih bersifat parsial.  "Untuk itu Pemerintah harus hadir dan lebih serius lagi menata sistem pendidikan karakter bagi generasi muda ini, agar dapat melakukan deteksi dini dan pencegahan terhadap kasus kasus bulying tersebut di masa datang,"

Tidak kalah penting lagi, lanjutnya, adalah peran orang tua dalam institusi kecil bernama keluarga yang menjadi faktor kunci terhadap pendidikan karakter dan agama pada  anak-anak. “Orang tua tidak boleh melepaskan begitu saja dari tanggung jawab. Bagaimanapun, komunikasi dan pola didik orang tua akan sangat berpengaruh terhadap kejiwaan dan masa depan anak,” ungkapnya.

Sarjan Tahir juga menyampaikan bahwa, faktor dukungan dari pemerintah daerah kedepan harus hadir melalui kebijakan, regulasi, dan anggaran untuk menjadikan pendidikan karakter ini sebagai salah satu program unggulan sehingga kasus-kasus bullying dan kekerasan lainnya tidak akan terjadi lagi terhadap anak-anak khususnya di Sumsel. 

"Untuk itu Kita Tidak usah saling menyalahkan karena semua pihak harus bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan sekolah dan pendidikan yang aman, nyaman, bersahabat, dan menyenangkan bagi anak," pungakasnga aembari mengucapkan selamat hari Anak Nasional 2017, Semoga Anak-anak Sumsel menjadi generasi masa depan sumsel yang berkualitas  dan dapat mewujudkan Sumsel terdepan dan berkeadilan. (Wira)

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Tinggalkan Komentar

*) Harus diisi

Refleksi