Diposting oleh : Wirangga     Tanggal : 31 Agustus 2017 09:51     Dibaca: 333 Pembaca

Sarjan: Terdapat Dimensi Ibadah Spiritual dan Sosial dalam Ibadah Qurban

Sarjan TahirĀ  saat memberikan ceramah di Masjid

Palembang, DetikSumsel- Tanpa terasa hari raya Idul Adha kembali menghampiri kita. Idul Adha disebut juga Idul Qurban atau hari raya akbar. Disebut hari raya Qurban akan tiba, dimana esok hari umat Islam di syariatkan Allah Swt untuk menyembelih hewan Qurban.

Dirut Patani, Sarjan Tahir  mengatakan bahwa hari raya Qurban tidak bisa dilepaskan dari sosok nabi Ibrahim As. “Melalui pelaksanaan ibadah Qurban kita dapat meneladani nabi Ibrahim As dan anaknya Ismail As dengan megaktualisasikan makna ibadah qurban dalam kehidupan,” kata Sarjan saat dimintai keterangan makna hari raya qurban, Kamis (31/8).

Wakil ketua BPOKK Partai Demokrat ini menilai Idul Adha memiliki dua dimensi. Pertama, dimensi ibadah-spiritual dan kedua dimensi sosial. Dimana Ibadah Qurban merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah, bentuk ketaatan serta ditujukan sebagai sarana untuk melatih jiwa agar memiliki sikap dan daya juang yang tulus atau ikhlas, bukan sikap kejuangan atau kepahlawanan karena hanya mengharapkan tanda jasa, pujian atau reward lainnya yang bersifat duniawi semata.

“Sikap kejuangan atau kepahlawanan yang menjadi tujuan ibadah Qurban yang diisyaratkan al-Qurâan adalah mengangkat harkat dan martabat kaum lemah, kaum papa atau kaum miskin agar mereka dapat hidup dalam keadaan layak, aman dan damai,” sebutnya.

Bakal calon Gubernur Sumsel ini  mengatakan, banyak sekali makna yang tersirat pada pelaksanaan ibadah Qurban yang dapat diteladani. Baik tersirat maupun terusrat. Diantaranya  pertama sebagai Wujud rasa syukur atas karunia dan nikmat Allah Swt. Kedua, untuk memupuk semangat rela berkorban. Ketiga, Qurban juga menempah kita untuk memperoleh kesuksesan hidup. “Keempat, Qurban mengajarkan kita untuk bersikap dermawan, tidak tamak, rakus dan serakah. Kelima, secara simbolis qurban mendidik kita untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan,” sebutnya.

Dimensi ibadah dalam hari raya qurban, lanjutnya,  merupakan bentuk ketaatan hamba kepada Allah SWT. Ketaatan itu harus dilandasi dengan rasa ikhlas sepenuhnya, sehingga kita menjadi dekat dengan Allah SWT.  Dan secara sosial kemasyarakatan berkorban adalah agar tetap memiliki jiwa yang ikhlas dalam berjuang mewujudkan keamanan dan ketertiban yang betul-betul dibutuhkan masyarakat.

“Sehingga Hari Raya Qurban yang kita rayakan setiap tahun harus mampu dijadikan sebagai alat untuk memacu semangat pengabdian dan pengorbanan sesuai dengan profesi kita masing-masing. Selaras dengan perintah Allah kepada kita sebagai hamba-Nya untuk selalu mengharmonisasikan antara ibadah vertikal (hablum minallah) dan ibadah horizontal (hablum minannas). Keduanya harus berjalan beriringan tanpa ada sekat, tanpa batas serta harus senantiasa bermakna dalam menngarungi kehidupan di dunia ini untuk untuk menjadi umat yang terbaik (khaira ummah),” pungkasnya. (Wira)

  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Leave a Comment

*) Harus diisi

Refleksi