Diposting oleh : AMS     Tanggal : 09 Februari 2017 07:04     Dibaca: 290 Pembaca

Uang Jajan Sekolah Saya Dari Jualan Es dan Koran

Jimly Asshiddiqie, Pendekar Konstitusi dari Bumi Sriwijaya (Net)

Jimly Asshiddiqie, Pendekar Konstitusi dari Bumi Sriwijaya

SIAPA yang tidak kenal dengan Prof Dr Jimly Ahshiddiqie SH MH? namanya begitu terkenal sebagai ahli Hukum Tata Negara tanah air. Tapi, kesuksesannya sehingga mendapat julukan pendekar konstitusi dari Bumi Sriwijaya tidaklah mudah. Ia harus berjuang keras sejak kecil hidup mandiri. Seperti apa kisah inspirasinya?

—————–

RAMAH dan murah senyum, itulah kesan pertama setiap orang jika berbicara dengan Jimly. Meskipun berstatus pejabat negara, sebagai ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI ia tetap menyapa kepada setiap orang. Pendapat dan pemikirannya menjadi rujukan setiap orang terutama seputar konstitusi dan pemilu. Tak terhitung jumlah karya ilmiah yang ia tulis, baik dalam bentuk buku, makalah seminar, dan buah pemikiran dalam jurnal.

“Sedikitnya sudah 42 buku yang saya tulis. Satu diantaranya, buku “Menegakkan Konstitusi,” kata Jimly membuka pembicaraan dengan wartawan di ruang kerjanya DKPP RI, belum lama ini.

Banyak yang tidak tahu, bahwa untuk meraih segala kesuksesannya sekarang ini, pria kelahiran Palembang 17 April 1956 ini, sejak kecil harus hidup mandiri. Keterbataan orang tuanya yang hanya guru ngaji, dan bertani membuat ia harus mencari tambahan untuk bersekolah.

“Orang tua saya tidak miskin, tapi bukan orang berada. Mereka memiliki usaha membuat kantong plasti. Setiap habis subuh saya berepeda ke pasar dan menjual bungkus plastik ke tukang-tukang roti. Selesai berjualan barulah saya sekolah ke Madrasah Ibtidaiyah (MI),” tuturnya. Tidak hanya itu, Jimly kecil juga tak malu berjualan empek-empek, menjajakan koran dan es untuk membantu orang tua. “Uang jajan saya hasil berjualan es dan koran,” sambungnya.

Bungsu 12 bersaudara dari pasangan Asmuni Almansur dan Siti Nasaro ini juga sudah terkenal aktif berorganiasi sejak beranjak ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (SMP). Tercatat, ia aktif sebagai Pelajar Islam Indonesia (PII) dan pramuka. Hal serupa juga ia tekuni saat beranjak sekolah Madrasah Aliyah Islam Negeri (MAIN) Palembang. “Jadi saya ini basic-nya sekolah Agama,” katanya. Saat SMS, Jimly aktif belajar bahasa Inggris an mencari tambahan menjadi guru les di lembaga kurus bahasa di kota Pempek. “Salah satu murid saya Tantowi Yahya (presenter dan politukus),” kenangnya.

Setelah tamat Madrasah Aliyah (SMA) ayah lima orang anak ini mengungkapkan, ingin melanjutkan kuliah ke Yogjakarta. Alasannya, pada waktu itu, para pemuda Palembang memimpikan kuliah di kota pelajar itu, bukan Jakarta. “Kala itu, peradaban maju itu ya Yogya,” kata pria penggemar Pindang Ikan Patin ini. Namun, takdir tuhan berkehendak lain, belum sampai ke Yogyakarta, ia kecopetan di Stasiun Kereta Api di Kawasan Panjang, Lampung. “Yang tersisa hanya Rp. 75,- di saku dan surat-surat saja,” kenangnya.

Kendati demikian, ia tidak berfikir pulang, di tengah kebingunan ia justru mendpat pertolongan dari seorang polisi yang mengasihaninya. Akhirnya, ia diperbolehkan menumpang naik kapal Fery gratis menuju merak. Bahkan saat naik bus Merak ke Jakarta pun ia mengaku tidak bayar karena gentolan di belakang. “Sampai Jakarta uang saya tetap utuh,” ungkapnya.

Karena tak bisa melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, Jimly singgah di rumah keluarganya di Kawasan Cililitan, Jakarta Selatan. Di sanalah tanpa sengaja ia membaca koran bekas yang menginformasikan lowongan pekerjaan sebagai staf penerjemah di Kedutaan Pakistan. “Gaji pertama saya Rp. 35.000,- per bulan, bagi anak daerah macam saya saat itu, sudah lumayan banyak itu,” kenangnya sambil tertawa.

Tak lama di Kedutaan Pakistan, Jimly pindah ke Kedutaan Mesir dengan gaji Rp 75.000,- per bulan. Di masa perantauan awal inilah ia menerima kabar bahwa ibundanya meninggal. Belum hilang sedihnya kehilangan sang ibunda, tak lama kemudian ayahnya juga meninggal. Dua tahun belum genap di Jakarta, dua orang yang paling dicintanya pergi untuk selamanya. Cobaan terberat dialami dalam hidupnya. “Niatan kuliah pun tertunda karena terbentur biaya,” keluhnya.

Ketika masih bekerja di Kedutaan Besar Mesir, Jimly sesekali berdiskusi dengan sang Duta Besar. Kebetulan, latar belakang ambassador itu adalah seorang lawyer (pengacara). Di situlah ia mulai mengenal dunia hukum. Namun, keputusan mengambil kuliah di Fakultas Hukum di UI setelah itu, lebih didasari pada kebetulan semata. Sebab, waktu itu ia sambil bekerja di LP3ES sementara yang ada kuliah sore hanya Fakultas hukum. “Akhirnya saya ambil hukum,” paparnya.

Pelan tapi pasti, ia makin tertarik dengan studi hukum tata negara. Walaupun saat itu bidang ini paling tidak diminati karena dianggap tidak ekonomis dan berbahaya secara politis, Jimly tidak berpindah ke jurusan lain. Akhirnya, gelar sarjana hukum ia sandang pada tahun 1982. “Tapi kuliah belum tamat, saya sudah diangkat aisisten dosen di UI,” katanya dengan logat Palembang.

Jimly melanjutkan Pendidikan S-2 di Fakultas Hukum UI tahun 1987 dan gelar Doktor Ilmu Hukum diraih dari Fakultas Pasca Sarjana UI, Sandwich Program kerja sama dengan Recht­ssfaculteit Rijks-Universiteit dan Van Voolen­hoven Institute, Leiden (1990). Tahun 1998, ia diangkat menjadi Guru Besar Penuh Ilmu Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UI dan dipercaya sebagai Ketua dan Penanggungjawab Program Pasca Sarjana Bidang Ilmu Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UI. “Semua ini atas izin Allah,” tuturnya..

Selama menjadi ketua MK dan ketua DKPP, Jimly mengaku sangat enjoy, meskipun banyak intimidasi tetap saja tak terbebani. Kalau duka ada, tak usah disebutkan, tak usah dirasakan. “Yang penting kita tak terpengaruh,” katanya. Masing-masing punya posisi untuk mempengaruhi, dan semua orang punya hak untuk dipengaruhi dan tidak. “Jadi tidak usah takut, sepanjang positif,” ungkapnya.

Diakhir perbincangan, Jimly mengingatkan generasi sekarang harus memiliki pondasi kuat agar tidak terjebak dalam arus kenegatifan. Salah satunya dengan belajar menanamkan ruh keberagamaan dalam jiwa, bukan sekedar dalam pengetahuan tapi semangat beragama. Belum tentu orang paham agama pondasinya kuat, pengetahuannya boleh lebih tinggi, sebab pondasi itu jiwa bukan pengetahuan. “Semua orang harus punya pondasi, tapi pondasi itu bukan pengetahuan saja tapi amal,” pungkasnya. (Abdul Malik)

  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Leave a Comment

*) Harus diisi

Refleksi