Banyuasin Siap Sukseskan Asian Games Tahun 2018
Pasang Iklan di DetikSumsel.com
Diposting oleh : Red     Tanggal : 13 Maret 2018 09:14     Dibaca: 201 Pembaca

Zero Konflik di Sumsel Ternoda Jelang Asian Games

Pengrusakan Kapel Santo Zakaria di Rantau Alai, Kabupaten Ogan

Lipsus, Detik Sumsel- Pengrusakan Kapel Santo Zakaria di Rantau Alai, Kabupaten Ogan Ilir 8 Maret lalu menodai prestasi Sumsel sebagai wilayah zero konflik Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Terlepas motif apa sehingga terjadi pengrusakan tersebut, tapi yang menimbulkan tanda tanya mengapa justru rumah ibadah yang menjadi sasaran? tentunya ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah bersama pihak kepolisian mengingat sebentar lagi Sumsel (Palembang) bakal menjadi tuan rumah Asian Games. Ribuan  tamu, atlet dan official yang dipastikan multi etnis, agama dan suku bangsa akan datang ke bumi Sriwijaya. Sorot mata dunia internasional pun tertuju kepada keamanan dan kesiapan Sumsel sebagai tuan rumah, termasuk keramahan penduduk kota ini akan toleransi antar umat beragama.

Menanggapi ini, Gubernur Sumsel Alex Noerdin memastikan pengrusakan Kapel murni kriminal dan tidak ada kaitannya dengan konflik antar agama, sehingga ia mengajak untuk bersama meredam dan tidak dibesar-besarkan. "Mari kita redam, karena ini memang kejadian kriminal biasa. Saya pikir ini tidak akan berpengaruh pada Asian Games," ujarnya.

Baca juga: Ajak Jemaat Tidak Mudah Terprovokasi http://www.detiksumsel.com/ajak-jemaat-tidak-mudah-terprovokasi

Alex mengingatkan, bahwa mempertahankan dan menjaga zero konflik di Sumsel ini adalah tugas bersama. Sebab, bagaimana orang mau investasi, datang dan berusaha kalau daerahnya konflik. "Selama ini kita selalu membanggakan icon kita zero konflik. Jadi mungkin ada yang mau coba-coba rusak itu. Tapi saya tidak mau menduga terlalu jauh, nanti apa motifnya siapa pelakunya akan terbukti. Pasti dapat itu, soalnya ini jadi prioritas Kapolda. Pelakunya sedang dikejar," ujar Alex.

Bangun Enam Rumah Ibadah Berdampingan di Jakabaring

Alex pun menyebutkan contoh kenapa Sumsel disebut daerah zero konflik karena hanay did hanya di Provinsi ini ada enam rumah ibadah yang diakui pemerintah berdiri berdampingan. Rumah ibadah ini dibangun di areal Jakabaring Sport City yang juga akan digunakan atlet Asian Games nantinya dalam beribadah

“Lima bangunan sudah hampir selesai, tinggal yang agama Konghucu saja terakhiran, apakah ada di tempat lain? hanya di Sumsel dan berdampingan zero konflik ini bukan omdo (omong doang) tapi ada buktinya,” tukasnya.

Hal senada diungkapkan Sekretaris Forum Kerukunan Uma Beragama (FKUB) Sumsel, KH Hendra Zainuddin MPd.I. Ia memastikan pengrusakan kapel tak ada kaitannya dengan konflik agama. Hal ini berdasarkan pantauan langsung di lokasi kejadian bersama Kemenag dan FKUB Kabupaten OI.

“Hasilnya, tidak ada konflik keagamaan karena koordinasi antar lembaga di daerah itu sudah luar biasa bagus. Baik di tingkat kelurahan bahkan Babinsa dan tokoh agama. Ketika ada hal seperti ini semua cepat merapatkan barisan dan berkoordinasi. Bahu membahu menciptakan  keamanan dan kerukunan," tuturnya.

Diduga Persoalan Pribadi

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengatakan Polisi menduga motif pelaku perusakan Kapel Katolik Santo Zakaria di Rantau Alai, Kabupaten Ogan Ilir adalah masalah pribadi.

"Polisi sudah menemukan titik terang siapa pelaku, enam pelaku perusakan masih diburu karena identitasnya sudah dikantongi. Tindakan pelaku murni kriminal, untuk motif saat ini masalah pribadi,"katanya.

Ditambahkannya, permasalahan pribadi tersebut, diduga terkait ketidaksenangan salah seorang warga di daerah tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan adanya persoalan lain antara pelaku dengan Kepala Desa.

Baca Juga: Bukan Terorisme Agama http://www.detiksumsel.com/bukan-terorisme-agama

"Berdasarkan keterangan saksi menyebut bahwa pelaku adalah warga desa tetangga, tapi masih dalam proses. Karena saat ini Fokus petugas melokalisir dan ini bukan soal ketidakrukunan antar umat beragama. Tetapi lebih mengarah kepersoalan pribadi dengan kepala desa disana,"jelasnya.

Diketahui Kapel Katolik Santo Zakaria ini baru diresmikan (4 Maret) karena baru tahap renovasi. Bahkan saat itu umat muslim juga hadir sebagai bentuk syukuran, jadi memang tidak ada masalah kalau di daerah itu.

Perusakan Kapel dilakukan dengan cara merusak pintu, jendela dan memecahkan kaca. Bahkan beberapa kursi yang ada di dalam Kapel turut dirusak dan pelaku berencana akan membakarnya.

Beruntung api yang saat itu sudah mulai menyala berhasil dipadamkan warga. Sementara pelaku berhasil melarikan diri menggunakan 3 unit sepeda motor. (Tim)

H. Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan
  • Google+
  • Whatsapp

0 Comments

Tinggalkan Komentar

*) Harus diisi

Refleksi