Cukai Rokok naik 12,5 Persen, Waspadai Rokok Ilegal | Detik Sumsel
Pemprov
Kepala Ditjen Bea Cukai Sumbagtim, Dwijo Murjono. (Maya/detiksumsel.com)

Cukai Rokok naik 12,5 Persen, Waspadai Rokok Ilegal

Palembang, Detik Sumsel – Pekerjaan Direktorat Jendral (Ditjen) Bea Cukai Sumbagtim bakal penuh tantangan ditahun depan, seiring dengan naiknya cukai rokok mencapai 12, 5 persen di 2021.

Kepala Ditjen Bea Cukai Sumbagtim, Dwijo Muryono mengatakan, kenaikan cukai rokok akan meningkatkan pula permintaan rokok ilegal, sebab naiknya harga rokok legal dengan adanya kenaikan cukai rokok.

“Tujuan dinaikannya cukai rokok agar terjadi penurunan permintaan rokok legal, tapi dengan turunnya permintaan rokok legal sisi lainnnya meningatkan permintaan rokok ilegal,” terangnya saat ekspose media di Kantor Ditjen Keuangan Negara, kemarin, Rabu (23/12).

Oleh karena itu, Cukai naik 12, 5 persen membuat pihaknya jadi lebih waspada. Apalagi tahun depan target ditekan peredaran rokok ilegal mencapai 1 persen. Sementara ditahun ini peredaran rokok ilegal di wilayah sumbagtim masih 2, 5 persen.

“Wilayah sumbagtim untuk Palembang kota 0 persen, tapi daerah – daerah jauh dari perkotaan, seperti perkebunan masih tinggi. Paling tinggi wilayah sumbagtim di Jambi sampai 4 persen, tapi kalau di rata – rata 2, 5 persen,” ungkapnya.

Dengan kondisi krisis, orang didaerah jauh dari perkotaan ini cendrung memilih rokok ilegal. “Kalau beli yang ada cukainyakan mahal, mereka yang penting ngebul (merokok), sehingga permintaan rokok ilegalnya akan tinggi,” ujarnya.

Mengenai resiko peningkatan peredaran rokok ilegal, maka pihaknya melakukan pemetaan potensi daerah titik rawan, kemudian melakukan Operasi pasar ke warung – warung rokok yang dijual di test, kemudian dicek pita cukai, ada yang benar – benar tidak pakai, ada yang pakai tapi salah gunakan seperti kualitas rokok tinggi menggunakan pita cukai kualitas ke rendah sehingga harga jual dapat rendah, dan ada juga yang menggunakan pita cukai bekas, ini banyak ditemukan di miras.

“Rokok ilegal ini bermacam – macam, bahkan rasanya ada yang disesuaikan dengan yang asli (bermerk) ataupun disamakan gambarnya tapi pada dasarnya berbeda. Asalnya juga ada yang dari luar negeri, seperti vietnam, dan untuk didalam negeri biasanya di daerah – daerah sentra produksi rokok,” jelasnya.

Dalam menekan peredaran rokok ilegal dilakukan dalam fungsi Pengawasan mulai dari Daerah produksi (jadi target penerimaan cukai) – daerah distribusi – daerah konsumsi. Jika dapat, maka ini ada dua opsi, yakni sanksi Pidana atau sanksi admin (dipilih yang paling menguntungkan bagi negara).

“Dalam pengawasan sebagai upaya menekan peredaran rokok ilegal Pemda juga berperan, sebab Daerah ini dapat share dari penerimaan cukai yang digunakan diantaranya pencegahan.
Dana sosialissi menekan peredaran rokok ilegal, kita bisa evaluasi hasil penekanan menentukan share yang diberikan ke pemda,” ulasnya.

Sementara Kinerja Direktorat Jendral (Ditjen) Bea Cukai Sumbagtim membukukan hasil positif dengan realisasi melampui 100 persen baik dari penerimaan bea keluar dan cukai.

Target APBN – P 2020 untuk Bea Masuk (BM) sebesar 102.945.600 mampu terealisasi 98. 825.509, Bea keluar/PE sebesar 84.489.650 dengan realisasi 150.593.003 dan cukai dengan target 0 tapi realisasi 2.118. 400 jadi total keseluruhan realisasi 251. 536. 912 atau 134, 20 persen.

“Lonjakan bea penerimaan dari cpo
Bea masuk turun, meski tidak besar sedangkan cukai naik 700 persen, ini karena untuk sumbagtim targetnya 0 sebab bukan daerah produksi,” tutupnya. (May)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Telkomsel dan Zoom Kalaborasi Hadirkan Pengalaman Premium Interaksi Virtual

Palembang, Detik Sumsel – Telkomsel bersama Zoom Video Communications, Inc. (Zoom) hari ini mengumumkan kolaborasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *