Harga Gas Tak Sebanding Biaya Operasional Pemasangan Pipa | Detik Sumsel
BNI"
Petugas dari PGN tengah melakukan pemasangan pipa gas (Ist )

Harga Gas Tak Sebanding Biaya Operasional Pemasangan Pipa

Palembang, Detik Sumsel – Semakin panjang jaringan pipa yang dikelola oleh suatu badan usaha, maka biaya pengelolaan dan perawatannya menjadi besar.

Kondisi inilah yang membuat biaya hilirisasi yang dilaksanakan Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), sedikit lebih tinggi dari beberapa negara tetangga di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura.

Walau demikian jelas Corporate Secretary PGN, Rachmat Hutama memastikan jika harga gas yang disalurkan pihaknya, masih sangat kompetitif jika melihat perbandingan dari biaya pengelolaan kegiatan hilir di masing-masing negara tersebut, termasuk Cina.

“Harga gas bumi kepada sektor industri di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan harga di Singapura dan Cina. Meski harga gas di Malaysia lebih rendah, tapi jaringan gas milik Malaysia, jauh dibandingkan dengan jaringan gas bumi yang dimiliki Indonesia,” ungkapnya melalui rilis kepada detiksumsel.com, Jumat (04/10).

Rachmat menerangkan, saat ini Pemerintah melalui Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan kajian terhadap harga gas bumi ke pelanggan.

Karena, sejak tahun 2013, PGN belum pernah menaikkan harga gas kepada konsumen industri. Sementara biaya pengadaan gas, biaya operasional dan kurs USD terus meningkat. Secara akumulasi, sejak 2013 hingga saat ini kurs USD telah mengalami kenaikan hingga 50 persen. Biaya pengadaan gas selama ini menggunakan patokan USD.

Meski begitu, harga gas yang akan disalurkan PGN masih sangat kompetitif dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.

“Di Singapura konsumen industrinya membeli gas berkisar USD 12,5 – USD 14,5 per MMBtu, sedangkan industri di Cina harus membayar lebih mahal lagi yaitu mencapai USD 15 per MMBtu. Sementara PGN menjual gas kepada pelanggan akhir berkisar antara USD 8 – USD 10 per MMBtu, hal itu tidak sebanding dengan biaya pengelolaan kegiatan hilir Indonesia , mengingat rentang biaya distribusi dan niaga di negara cukup tinggi,” terangnya.

Saat ini, sebagai subholding gas bumi, PGN telah membangun jaringan gas hingga lebih dari 10 ribu kilometer. Panjang pipa gas PGN ini hampir dua kali lipat dibandingkan jaringan gas milik Malaysia dan Thailand, serta 4 kali lipat lebih panjang daripada jaringan gas di Singapura. Sedangkan di Cina jaringan pipa yang terbangun mencapai lebih dari 40 ribu kilometer.

Berdasarkan data sejumlah lembaga energi terkemuka seperti Woodmack (2018) dan Morgan Stanley (2016), harga gas bumi kepada sektor industri di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan harga di Singapura dan Cina.

Bahkan, dari fakta dan data di atas, biaya pengelolaan kegiatan hilir Indonesia masih bersaing dibanding negara-negara di Asia Tenggara. Rentang biaya distribusi dan niaga di Indonesia berkisar 2,8 – 4 USD/MMBTU. Bandingkan dengan negara Malaysia, Singapura, Thailand dengan rentang biaya hilir sebesar 2,8 -3 USD/MMBTU dengan panjang pipa setengah dari yang dimiliki Indonesia dengan segala tantangan wilayah geografis yang didominasi kepulauan.

Karena, semakin panjang jaringan pipa yang dikelola oleh suatu badan usaha, maka biaya pengelolaan dan perawatannya menjadi besar. Dan setiap tahun biaya dua komponen itu juga terus naik.

“Rencana penyesuaian harga gas yang akan dilakukan oleh PGN, lanjutnya, juga sudah dikaji secara matang dengan memperhitungkan banyak aspek. Termasuk dari sisi kemampuan konsumen industri sendiri,” tuturnya.

Untuk menjaga daya saing industry dan kepentingan konsumen, Kementerian ESDM juga telah mengeluarkan paket kebijakan dan perubahan tata kelola gas bumi yang cukup memwadahi semua kepentingan dari hulu sampai ke hilir melalui Permen ESDM 58 /2017 dan Permen 04/2018.

Semuanya bermuara pada transparansi dan rasionalisasi termasuk upaya menjaga sustainability penyediaan gas bumi domestik untuk seluruh kepentingan masyarakat dan pengembangan infrastruktur gas bumi ke seluruh wilayah di Indonesia.

Sebagai pionir pemanfaatan gas dan pembangunan infrastruktur gas bumi, PGN selama ini juga telah mengambil banyak risiko. Baik risiko pasokan maupun pasar yang cenderung fluktuatif dan tidak pasti. Sebagai agregator, untuk memastikan ketersediaan gas, PGN juga telah membangun terminal LNG di beberapa lokasi untuk meregasifikasi LNG yang berasal dari berbagai sumber.

“Perluasan pemanfaatan gas bumi merupakan tanggungjawab bersama. Apalagi kita punya tanggungjawab bersama untuk menjaga ketahanan energi nasional dan melayani kebutuhan gas bumi secara berkeadilan,”katanya.(May)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL
Lakukan Penukaran Uang

Check Also

Hadirkan Dunia Games Awards 2021, Apresiasi Capaian Prestasi Industri Game Indonesia

Palembang, Detiksumsel – Telkomsel sebagai digital ecosystem enabler terus berupaya mengakselerasi setiap aspek di ekosistem …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *