Harga Terjun Bebas, Petani Tomat di Pagaralam Buang Hasil Panen | Detik Sumsel
Banner Iklan Diskominfo
Pemprov
Istimewa : Tampak seorang petani Dusun Jambat Akar, Kecamatan Dempo Utara , membuang hasil panennya ke jalan. 

Harga Terjun Bebas, Petani Tomat di Pagaralam Buang Hasil Panen

Pagaralam, Detik Sumsel – Bak sudah jatuh tertimpa tangga, beginilah nasib petani tomat di wilayah Kota Pagaralam. Pasalnya di masa pandemi Covid-19 semua sistem ekonomi tidak stabil cenderung menurun, kondisi ini diperparah dengan turunnya harga tomat di Pasaran.

Dengan kondisi ini, petani tomat di Kota Pagaralam membuang hasil panennya ke pinggir jalan. Pembuangan tersebut didasari kekecewaan terhadap harga jual yang anjlok drastis dipasarkan. Petani mengeluh harga jual tersebut tidak seimbang dengan modal yang dikeluarkan.

Maman, salah seorang petani Dusun Jambat Akar, Kecamatan Dempo Utara mengatakan, harga Tomat sekarang hanya dihargai sekitar Rp 3 ratus per kg. Harga ini sudah berlaku sejak seminggu terakhir padahal sebelumnya harga mencapai Rp 2 ribu per kilo.

Baca Juga :   Bupati Askolani Siapkan 40.000 Paket Pangan

“Jelas kondisi ini membuat kami kecewa karena sekarang harga tomat hanya Rp 3 ratus per kilo dengan para tengkulak membeli kepada petani hanya Rp 20 ribu per kotak dengan satu kotak berisi sekitar 60 kilo,” katanya, Jumat (7/8).

Ia mengaku harga sebesar itu tidak memberi keuntungan pada petani karena modal untuk penanaman buah tomat yang tergolong tinggi.

Ia menyebut, di lahan setengah hektar miliknya saja membutuhkan modal hingga Rp 70 juta hingga panen. Modal ini digunakan untuk pembelian pupuk, obat-obatan, pestisida, perawatan lahan, dan pembelian plastik. Untuk jenis yang ia tanam yakni tomat jenis Sirpo yang berumur delapan kali panen dan berlima hari sekali bisa dipetik.

Baca Juga :   KAD Anti Korupsi Sumsel dan KPK Beri Pemahaman Terkait Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Terintegrasi

“Untungnya kita tidak hanya menanam tomat saja, di sela tanaman tomat juga ditanam cabe merah yang saat ini harganya dianggap tinggi yaitu Rp 12 ribu per kilo, yang sebelumnya dihargai Rp 8 ribu per kilo,” terangnya.

Ia berharap pemerintah bisa memperhatikan petani dengan memberikan harga yang sepadan agar nasib petani dapat membaik. (rendi)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Alasan Sepele, Pemuda di Pagaralam Nekat Curi Kotak Amal Masjid

Pagaralam, Detik Sumsel- Entah apa yang ada di pikiran Johanes Riski Irawan (18) sehingga nekat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *