Hasil Panen Petani Kopi Pagaralam Berkurang

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan

Pagaralam, Detik Sumsel- Dengan kondisi cuaca saat ini, diduga kuat panen biji kopi di Pagaralam dibandingkan tahun sebelumnya akan sedikit membuat petani kopi kecewa. Padahal musim panen Kopi di Kota Pagaralam sebentar lagi akan dimulai.

Dugaan ini bukan tanpa dasar, sebabnya hampir sebagian besar kawasan di Kota Pagaralam beberapa bulan terakhir diserang hujan es. Hal ini membuat bunga kopi dam biji kopi menjadi busuk dan runtuh. Akibatnya hasil panen nanti dipastikan kurang.

Pasalnya saat ini saja buah kopi sudah mulai runtuh bahkan kering dipohonnya. Hal ini membuat petani kebingungan, pasalnya hal ini disebabkan oleh penomena alam bukan karena kurang pupuk atau racun.

Hamsah (43) salah satu petani Kopi di Pagaralam mengatakan, cuaca terus seperti ini dapat mempengaruhi pertumbuhan biji kopi sehingga hasil panen kopi tidak memuaskan. Pasalnya buahnya sedikit berkurang dibandingkan tahun lalu.

“Karena musim hujan yang belum juga berkurang membuat banyak buah muda atau cikal bakal buah sudah runtuh dan busuk bahkan kering dipohon,”katanya, rabu (16/3)

Kurangnya hasil panen kopi menurutnya disebabkan sejumlah kawasan di Pagaralam dan sekitarnya beberapa bulan lalu diserang hujan dengan itensitas tinggi bahkan beberapa kali hujan es.

“Jika kena hujan es pada saat kopi sedang berbunga maka dipastikan buahnya akan kurang. Karena akibat hujan es bunga kopi yang merupakan cikal bakal buah kopi menjadi busuk dan kering,”ujarnya.

Padahal saat ini harga jual biji kopi sedang membaik yaitu diatas Rp20.000 perkilogram. Petani berharap saat puncak panen harga kopi tetap stabil agar para petani kopi sedikit terbantu meskipun buahnya kurang namun harganya bagus.

Kepala Dinas Pertanian Pagaralam Gunsono melalui Kabid Perkebunan Diki Herlambang membenarkan jika musim panen tahun ini buah kopi sedikit berkurang jika dibandingkan tahun lalu.

“Kurang bukan gagal panen. Hal ini disebabkan karena hujan es ditambah saat ini curah hujan masih tinggi di Pagar Alam padahal harusnya sudah masuk musim kemarau,”pungkasnya.(rendi)

Komentar