Indosat Ooredoo, Gerakan Ekonomi Warga Desa Pili, Banyuasin | Detik Sumsel
BNI"
Perjuangan Arif Nur Rachman, CSM Banyuasin untuk menghadirkan Internet bagi warga Banyuasin. Ia harus menyeberangi sungai untuk sampai ke desa di Banyuasin .Foto : Debi Arianto / Detik Sumsel

Indosat Ooredoo, Gerakan Ekonomi Warga Desa Pili, Banyuasin

Bagi warga Desa Pili Kabupaten Banyuasin, Sumsel, kehadiran Indosat Ooredoo ibarat angin surga yang datang di kala gersang. Untuk sampai di desa yang masuk kategori 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) harus menempuh waktu 14 jam. Bisa dibayangkan sulit mendapatkan sinyal. Namun berkat Indosat Ooredoo, warga disana tidak lagi terisolir informasi dan perekonomian berkembang. Seperti apa ?

Deby Arianto – Banyuasin

MENDAPATKAN sinyal empat tahun lalu bagi warga desa yang paling jauh di wilayah Bumi Sedulang Setudung sesuatu hal yang tidak pernah dibayangkan. Untuk mencapai satu lokasi ke lokasi butuh waktu dan perjuangan. Seperti yang harus dilalui Detik Sumsel dan tim saat kunjungan ke Desa Pili beberapa waktu lalu.

Namun sejak kehadiran Indosat, kabupaten yang didominasi oleh perairan dan dihuni transmigran pulau jawa itu, kini berkembang pesat dengan segala potensi alamnya mulai dari pertanian, perkebunan hingga perikanan. Pemicunya, keterbukaan akses informasi.

Warga Desa Pili, Eska mengatakan, lokasi desa Pili memang berada sangat jauh. Tidak ada listrik, apalagi sinyal. Tapi semenjak dua tahun belakang sudah masuk listrik dan ini diikuti oleh operator. “Disini warga pakainya operator Indosat,” katanya.

Ia mengatakan, sinyal Indosat disini baik dan bahkan hampir menjangkau seluruh wilayah di Banyuasin.

Operator lain disini hilang sinyal. Alasan lain harga kuota sangat terjangkau. “Sebenarnya, kalau harga mahal tidak masalah asal ada sinyal. Kalau murah tidak ada sinyal kan tidak bisa dipakai juga,”

Apalagi, kata Eska, selain listrik, operator dengan sinyal baik pun tak kalah penting. Dengan operator ini mampu meningkatkan perekonomian warga disini. “Dulu kalau mau belanja harus ke lokasi. Sedangkan jarak tempuh satu lokasi ke lokasi lainnya jauh. Sekarang tinggal telpon nanti barang diantar,” paparnya.

Kades Pili Zainal Abidin mengatakan, Desa Pili merupakan desa yang paling jauh di Banyuasin. Desa ini berbatasan dengan Desa Sungai Benu Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi dan sejauh ini dari sisi infrastruktur memang masih cukup memprihatinkan.

Kemudian, Desa Pili juga sulit akses komunikasi karena tidak ada tower telekomunikasi menyebabkan sinyal tidak ada sehingga masyarakat selalu ketinggalan informasi. “Tapi dua tahu belakang mulai masuk Indosat dan ini sangat membantu warga untuk komunikasi,” ucap dia.

Kehadiran operator Indosat, lanjut Zainal, sangat membantu perekonomian warga di desa Pili. Warga bisa mengakses informasi secara luas, pendidikan dan lainnya. “Sejak ada internet ini terjadi percepatan pertumbuhan ekonomi warga disini, apalagi sejak pandemi Covid-19, warga harus belajar dari rumah,” ungkap dia.

CSM Banyuasin, Arif Nur Rachman mengatakan, jangkauan jaringan Indosat di 288 desa Banyuasin mencapai 100 persen baik darat, muara sungai hingga perairan. Sinyal disana sangat kuat, karena menggunakan piber optik sehingga layanan diberikan 4G. “Indosat tidak hanya memikirkan profit tapi juga sebagai bentuk kontribusi pengembangan dan kemajuan masyarakat,” paparnya.

Arif menambahkan, Banyuasin merupakan daerah yang kaya dan punya potensi ekonomi sangat besar. Namun hal itu tidak akan berkembang tanpa sinyal internet yang baik. Meski diakuinya, sambung dia, untuk memperluas jaringan tidak murah. Butuh investasi besar juga tantangan karena medan terjal. “Menuju lokasi satu desa butuh waktu berjam jam,” sebut dia.

Arif menceritakan, untuk sampai di Desa Pili butuh waktu 16 jam. Ada dua jalur yang bisa ditempuh. Lewat darat, dari Palembang ke Jambi dan ini butuh 6 jam. Setelah itu, dari Jambi ke Desa Nipa Panjang disambung menggunakan speed booat butuh 4 jam. Sampai dilanjutkan ke Tanah Pili ke dalam butuh 4 jam. Estimasi itu kalau tidak ada kendala seperti hujan sebab jalur dilalui masih tanah merah sehingga motor tidak bisa jalan. Belum lagi, hewan buas seperti buaya di sepanjang muara sungai. “

Sedangkan untuk jalur laut, kata dia, butuh waktu sekitar 8 jam dengan menggunakan speedboat. “Kalau ada ombak besar, kami harus stop dulu sampai ombak hilang dan ini bisa sampai satu hingga dua jam. ” ucap dia.

Tidak hanya itu, lanjut Arif, perjuangan untuk sampai di desa pun kerap kali menghadapi aksi kriminalitas seperti daerah Betung. Saat masuk ke Betung sering terjadi perampokan terutama di kawasan perkebunan. “Ada teman kita yang mengantar gaji dan kartu di stop di tengah jalan. Saat stop, pistol sudah berada di kepala,” ucap dia.

Tidak mudah memang, tapi Arif menilai pekerjaan ini menjadi tantangan dan pengabdian tersendiri bagi dirinya dan tim. “Kami dilapangan paham benar, bagaimana warga di desa bisa berkomunikasi dengan keluarga atau sekedar say hai melalui telpon. Tentu sinyal jadi kunci utama,” pungkasnya. (Tet)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL
Lakukan Penukaran Uang

Check Also

1700 Anak Di OKU Dapat Makanan Tambahan Sehat

Baturaja, Detik Sumsel – Sebanyak 1700 anak-anak PAUD menerima makanan tambahan sehat dalam kegiatan pemberian …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *