Kejar Poin Sopir Taksol Berujung Maut | Detik Sumsel
Pemprov
Ilustrasi: Raam/Detik Sumsel

Kejar Poin Sopir Taksol Berujung Maut

Lipsus, Detik Sumsel- Mengejar poin untuk mendapat bonus dari aplikasi taksi online (taksol) menjadi motivasi para driver untuk berjibaku mengantar dan menjemput penumpang. Tak memandang waktu dan jauh dekatnya lokasi, hal tersebut seakan bukan ancaman serius untuk menghalangi mendapatkan pundi-pundi poin yang ditawarkan si aplikasi, meski nyawa jadi taruhan.

Sepanjang tahun 2017-2018, Polda Sumsel mencatat telah terjadi sebanyak empat kejadian perampokan disertai pembunuhan terhadap sopir taksol. Bahkan modus yang dilakukan pun hampir sama. Meski demikian, aparat kepolisian khususnya Polda Sumsel berhasil meringkus semua pelaku.

Edwar Limba misalnya, sopir taksol satu ini merupakan korban pertama di Palembang yang menjadi korban perampokan dan pembunuhan. Warga Lorong Kedukan Kelurahan Seberang Ulu Palembang ini pada Agustus 2017 lalu dan pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIB ditemukan warga tidak bernyawa di pinggir jalan Balai Penelitian Sembawa Kabupaten Banyuasin.

Korban ditemukan pertama kali oleh Karyawan Balai Penelitian Sembawa, Feriansyah, Warga Desa Mainan Sembawa saat hendak pulang Kerja dari Balai Penelitian. Dari hasil penyelidikan polisi, Edward dibunuh dan mobilnya dibawa oleh penumpangnya sendiri yang berjumlah empat orang. Keempatnya bernama Iwan, Aldo, Ari dan Ucok,

“Pada saat almarhum menerima order itu orderan terakhir, jadi meski malam hari tetap dikejar almarhum demi mendapatkan poin dari aplikasi Go-Jek,” ungkap Fitri, keluarga almarhum Edward Limba.

Kemudian, Tri Widiyantoro (44). Ia ditemukan dengan kondisi sudah meninggal. Tragisnya Tri Widiyantoro ditemukan hanya tinggal tulang belulang di kawasan Tanjung Api-api.

Korban Tri dihabisi kawanan pelaku dengan cara leher dijerat dengan seutas tali pada 15 Februari 2018 lalu. Kronologi ini berdasarkan pengakuan Bayu Irmansyah (20), salah satu pelaku.Pelaku Bayu dan Poniman adalah dua dari empat pelaku yang berhasil dibekuk petugas.

Bahkan pelaku atas nama Poniman tewas ditembak petugas lantaran berusaha melawan dan melarikan diri saat penangkapan di Lalan Kabupaten Muba. “Matinya karena dijerat pakai tali di lehernya. Yang menjerat leher itu Poniman saat sedang di dalam mobil waktu jalan ke arah Kenten Laut,” ujar Bayu.

Bayu menjelaskan, perbuatannya dan peran pelaku lainnya. Pelaku berjumlah empat orang yakni Bayu, Poniman, Hengki, dan Tyas. Meskipun korban Tri sempat pasrah dan menyerahkan apa yang diminta pelaku, namun kawanan pelaku yang berjumlah empat orang ini tetap nekat menghabisi korban Tri guna menghilangkan jejak.
Bahkan korban Tri berkata kepada kawanan pelaku, silakan untuk mengambil mobilnya, tapi jangan dibunuh.

Selain itu, pada 14 Juni 2018, jasad atas nama M Aji Saputra (26) sopir Grabcar ini ditemukan di bawah jembatan Bruge, Kelurahan Mangun Jaya, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin.

Tiga pelaku perampokan dan pembunuhan terhadap Aji berhasil diringkus, yaitu bernama Bambang Kurniawan (25), warga Jl Mayor Zein, Kalidoni. Dua pelaku lainnya Willy (warga desa Palih Rawas, Muratara) dan Yogi Arfiansyah (warga Desa Pabuaran, Lampung).

Mobil korban jenis Datsun Go+ Panca warna Abu-Abu dengan nopol BG-1922-RM, sebelumnya hendak dijual kepada polisi yang melakukan penyamaran dan kemudian meringkus pelaku.

Kemudian, yang masih hangat di ingatan, Sofyan (43) pada 29 Oktober 2018 menerima orderan dari seorang penumpang dengan akun atasnama TY. Penumpang itu memesan GrabCar dari SPBU KM 5 tujuan KFC bandara SMB II Palembang.

Setelah menerima orderan, korban pun langsung menuju titik penjemputan. Di lokasi, ternyata ada empat penumpang laki-laki yang mengaku memesan GrabCar atas nama TY.

Korban mempersilahkan penumpang itu naik dan mengantarnya ke lokasi tujuan. Di perjalanan, korban merasa curiga dan mengirim pesan singkat lewat grup WA.

Dalam pesan singkatnya, korban minta rekan-rekan se-profesinya untuk dapat memantau menuju lokasi pengantaran. Korban mengaku mendapatkan orderan dari akun wanita, tapi yang naik malah laki-laki.

Pada malam harinya, keluarga menunggu kepulangan Sofyan. Namun tak kunjung pulang. Bahkan nomor handphone tidak lagi aktif saat dihubungi. 15 hari kemudian barulah jasad Sofyan yang sudah jadi tulang belulang ditemukan Subdit III Jatanras Ditreskrium Polda Sumsel di Kabupaten Muratara.

Diketahui, Sofyan dirampok dan dibunuh oleh tiga pelaku, yakni Ridwan (45) yang ditangkap lebih dulu. Sementara FR (16) dan Acundra (21) menyerahkan diri ke polisi lantaran takut ditembak.

Terkait kasus ini, Kapolda Sumsel, Irjel Pol Zulkarnain Adinegara memastikan pihaknya akan menangkap pelaku dengan cepat bahkan akan mengejar pelaku hingga ke liang kubur. “Kita tidak main-main, pelaku pembunuhan sopir taksi online ini harus dikejar sampai dapat,” tegasnya.

Jenderal bintang dua ini juga mengimbau sopir taksol di Palembang khususnya untuk meminimalisir orderan yang mencurigakan. “Harus diwaspadai, hindari pemesanan yang membahayakan nyawa,” pungkasnya.(Tet/DP)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Kantor Dinas Perkim Pagaralam Diserbu Ulat Bulu

Pagaralam, Detik Sumsel- Pemandangan tak seperti biasanya tampak di Kantor Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *