Kisah Pemulung di Palembang Tetap Berjuang Ditengah Pandemi Covid 19 | Detik Sumsel
Pemprov
Abdul Rozak salah satu pemulung di Jalan Ki Rangga Wiro Sentiko Kelurahan 30 Ilir Kecamatan Ilir Barat II Palembang

Kisah Pemulung di Palembang Tetap Berjuang Ditengah Pandemi Covid 19

Palembang, Detik Sumsel — Siang itu, matahari tepat diatas kepala. Panasnya terasa membakar kulit, meski topi dan topeng sudah dipakai untuk menutupi wajahnya agar terlindung dari sengatan matahari tetap saja teriknya sampai ke kulit namun tidak dirasakan Abdul Rozak (49) pencari barang bekas terus berjuang di tengah pandemi covid 19.

Abdul Rozak adalah pencari barang bekas yang setiap hari mangkal di kotak sampah di Jalan Ki Rangga Wiro Sentiko, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II Palembang.

Bau sampah yang menyengat menusuk hidung dan lalat beterbangan, lalu lalang kendaraan yang melintas. Rozak tampak semangat mengais – ngais tumpukan sampah, meski keringat bercucuran dari wajahnya dengan sebilah gancu besi mencari botol plastik, kardus dan barang bekas lainnya yang bisa ia kumpulkan untuk ia jual ke pengepul.

Karung plastik yang tergeletak di dalam gerobaknya baru terisi sekitar satu kilogram botol plastik yang ia dapat dari tumpukan sampah yang dikaisnya. Pria paruh baya ini berhenti sejenak disamping kotak sampah untuk menenggak air putih sambil menyekah keringatnya.

Sambil menyekah keringat Rozak mau berbagi cerita kepada wartawan detiksumsel.com yang menyambanginya Jumat (25/12/2020). Diakuinya, pandemi Covid 19 yang mewabah juga membawa dampak bagi dirinya yang berprofesi sebagai pencari barang bekas.

“Sehari paling tinggi dapat Rp 50 ribu, itupun sudah sulit, kadang lagi tidak dapat banyak barang cuma dapat Rp 20 ribu bahkan Rp 10 ribu dapat duit,”tuturnya kepada Detiksumsel.com.

Dikatakan Rozak, sudah hampir sepuluh  tahun ia mencari barang bekas. Tidak hanya di kawasan 30 Ilir saja ia mencari barang bekas. Namun ia keliling diwilayah lain di Kecamatan Ilir Barat II, bahkan sampai ke wilayah yang jauh dari tempat tinggalnya dengan mendorong gerobak kayu yang dibuatnya.

“Tidak hanya di tempat sampah disini (Kelurahan 30 Ilir), saja setelah selesai mencari bekas disini saya juga keliling ditempat lain sambil membeli kalau ada orang yang mau menjual barang bekas,”tuturnya.

Dikatakan Abdul Rozak, keuntungan yang diperoleh dari membeli barang bekas juga tidak menentukan tergantung dengan orang orang yang mau menjual. Itupun modal yang dibawa untuk membeli barang bekas tidak banyak berkisar Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.

“Kadang nasib lagi bagus modal Rp 100 ribu saya bawa habis untuk membeli barang bekas yang dijual orang, dari modal seratus ribu itu dapat Rp 180 ribu jadi untungnya Rp 80 ribu,”katanya lagi.

Diakui Abdul Rozak, selama pandemi Covid 19 ia tidak berhenti untuk mencari nafkah meski pendapatnya ikut menurun. Beruntung saja saat berada di jalan tidak jarang ia mendapat bagian nasi walaupun hanya satu bungkus.

“Alhamdulillah ya selama wabah Covid 19 ini, mungkin hampir setiap hari saya mendapat bagian nasi bungkus dari orang orang yang dermawan. Selain nasi bungkus ada juga sembako dan uang,”tuturnya.

Di balik perjuangan, Abdul Rozak masih menyimpan asa harapan yang besar bisa hidup lebih layak meski berprofesi sebagai pemulung.(oji)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Pelaku Pengeroyokan Supir Truk yang Viral, Rupanya Seorang ASN

Lahat, Detik Sumsel – Vidio pengeroyokan dialami sopir truk yang diungah oleh akun Facebook @Jon …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *