Kosmetik Kadaluarsa dan Ilegal Sasar Perempuan di Pedesaan | Detik Sumsel
BNI"
Grafis/Ilustrasi: Raam/Detik Sumsel

Kosmetik Kadaluarsa dan Ilegal Sasar Perempuan di Pedesaan

Lipsus, Detik Sumsel- Kasus kosmetik kadaluarsa dan ilegal belakangan ini sedang marak. Demi meraup untung besar, para pelaku penjual kosmetik berbahaya ini rela merogoh kocek besar dengan bekerjasama para artis dan selebgram untuk promo dan menarik perhatian konsumen.

Sasarannya pun beragam, mulai dari anak muda hingga kalangan perempuan di kawasan pedesaan, tak tanggung-tanggung omzet yang didapat dari penjualan kosmetik kadaluarsa dan ilegal tersebut bisa mencapai puluhan juta. Bahkan, sepanjang tahun 2018 BPOM Palembang berhasil mengamankan dan menertibkan penjualan kosmetik kadaluarsa di Sumsel sebanyak 235 pcs dengan total Rp.43 juta.

Meriyana (41), perempuan yang pernah menjadi penjual kosmetik kadaluarsa dan ilegal ini kepada Detik Sumsel mengaku sewaktu masih menggeluti bisnis tersebut dirinya lebih banyak berkunjung ke kawasan pedesaan di wilayah Sumsel untuk mencari pembeli. “Biasanya sasaran pembeli itu kami bidik perempuan-perempuan di kawasan pedesaan,” ungkapnya.

Menurutnya, konsumen kosmetik kadaluarsa dan ilegal di kawasan pedesaan menjadi sasaran empuk para penjual kosmetik berbahaya, selain dengan daya minat yang tinggi, perempuan-perempuan di kawasan pedesaan tidak banyak bertanya mengenai kosmetik yang dijual.

“Biasanya mereka hanya tanya harga, kalau cocok langsung dibeli bahkan dengan jumlah yang banyak. Mereka tidak banyak tanya, ini bahan apa, dari mana, beda dengan perempuan yang ada di perkotaan biasanya lebih detail,” ungkapnya lagi.

Lanjutnya, kosmetik yang dijual sudah tidak memiliki lagi tanggal dan tahun kadaluarsa. “Tanggal dan tahun kadaluarsa sudah dihapus dari kemasan kosmetik menggunakan soda cair, jadi saat dijual sudah tidak ada lagi tanggal dan tahun kadaluarsa,” bebernya.

Ia mengaku, kosmetik kadaluarsa dan ilegal tersebut diperolehnya bermula dari media sosial dengan sistem pengiriman paket yang setiap pengiriman alamat pengirim dan nama pengirim berbeda-beda. “Intens komunikasi lebih banyak melalui telepon, mereka saat mengirim paket pesanan alamatnya selalu berubah, kadang dari Surabaya, kadang dari Jakarta dan Semarang,” ucapnya.

Sementara itu, Yuliani (29) gadis yang pernah menjadi korban kosmetik kadaluarsa ini mengaku, awalnya dirinya tidak merasakan efek dari pemakaian kosmetik kadaluarsa, dan setelah dua bulan rutin memakai kosmetik kadaluarsa kulit muka mulai memerah dan muncul flek-flek hitam. “Sempat empat kali membeli, transaksi-nya hanya lewat telepon karena dapet di medsos, setelah dua bulan rutin memakai kulit muka saya menjadi perih dan timbul flek hitam,” ungkapnya.

Lanjutnya, saat mencoba komplain ke penjual dirinya hanya mendapatkan jawaban kalau kosmetik yang dipakai tidak cocok dengan kulit muka. “Kemudian, saya konsultasi ke dokter dan kata dokter kosmetik yang saya pakai itu sudah lewat masa kadaluarsa dua tahun lebih,” imbuhnya.

Kemudian, dirinya mencoba menghubungi kembali nomor telepon penjual kosmetik tersebut namun nomor yang dihubungi sudah tidak bisa dihubungi dan media sosial yang digunakan juga sudah tidak bisa terdeteksi. “Nomor telepon sudah tidak bisa lagi dihubungi, dan facebooknya sudah tidak ada lagi,” pungkasnya.(tet)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL
Lakukan Penukaran Uang

Check Also

Selain Kurang Kolam Retensi, Antoni Yuzar : Perda Rawa Masih Mandul

Palembang, Detik Sumsel – Di kegiatan reses anggota DPRD Sumsel dapil Sumsel II yang meliputi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *