Lestarikan Ikan Belida, Pertamina Edukasi Masyarakat dan Gandeng BP PRPUPP | Detik Sumsel
BNI"

Lestarikan Ikan Belida, Pertamina Edukasi Masyarakat dan Gandeng BP PRPUPP

Palembang, Detik Sumsel – Menurunnya jumlah populasi ikan Belida di perairan Sumatera Selatan, khususnya Palembang menjadi perhatian serius dari Pertamina.

Guna melestarikan ikan Belida Sumatera (Chitala Hypselonotus) yang hampir punah ini, sejak 2020 lalu, Pertamina telah mengandeng masyarakat diwilayah ring 1 operasional perusahaan daerah Talang Bubuk Plaju

Melalui Kelompok Tani Ikan Mulia, Pertamina mulai mengerakkan untuk cinta Belida. Gerakan cinta Belida ini berupa edukasi kepada masyarakat, bila menemukan ikan Belida baik di pasar maupun saat memancing.

Agar langsung menitipkan ikan tersebut kekelompok tadi, untuk dikembangbiakkan guna mencegah kepunahan ikan yang menjadi landmark kota Palembang ,selain Jembatan Ampera.

Seiring dengan berjalanya waktu dan keluarnya Peraturan Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nomor 1 tahun 2021 tentang status ikan dilindungi, maka sejak 2021 awal sampai sekarang kolan yang dikelola masyarakat sebagai kolam riset dan konservasi ikan belida berubah menjadi kolam penampungan ikan sementara.

Peneliti Madya PRPUPP, Dr Dina Mithmainnah, S.SI, M.SI selaku peniliti ikan Belida mengatakan, sebenarnya ikan inj bukan ikan endemik Sumsel, karena ikan ini juga ada di pulau Jawa dan Kalimantan, bahkan di negara Thailand dan Filipina.

“Tapi karena diluar Sumsel ikan ini tidak ekonomis, jadi keberadaan masih banyak tidak seperti di Sumsel yang hampir punah,” terangnya.

Dia mengatakan, ditahun 1987 jumlah populasi ikan disumsel masih mencapai 1.055 ton, jumlah ini terus menurun draktis setiap tahunya, dan ditahun 2000 jumlah populasi turun menjadi 463 ton dan ditahun 2018 hanya tinggal 1,02 ton atau hampir 99 persen penurunan populasi ikan balida dan hanya tersisa 1 persen yang beredar diperairan Sumsel.

Kondisi inilah yang membuat Pertamina melalui progran Corporate Sosial Responsibilty (CSR) bekerjasama dengan Balai Penelitian PRPUPP Sumsel melakukan budidaya ikan belida mulai dari pembibitan hingga pembudidayaan ikan Belida.

Kerusakan habitat, kurangnya rawa tempat ia bertelur dan sulitnya dan mahalnya harga pakam menjadi salah satu faktor juga semakin punahnya ikan yang banyak digunakan untuk bahan baku makana khas palembang seperti Pempek, model dan tekwan ini.

Ia sangat bersyukur karena sejak tahun 2020 lalu, mendapatkan bantuan dari Pertamina dalam bentuk pembibitan ikan, kolam dan makanan ikan dan tenaga peneliti, bagaimana caranya agar ikan indukan yang diberikan bisa dikembang biakkan.

“Kita optimis pelestarian ikan Belida ini bisa berhasil karena sejak dibuka sampai saat ini atau selama 6 bulan terakhir bibit ikan tersebut sudah mulai menunjukkan perkembanganya,” ucapnya.

Area Managee Communication, Relation & CSR PF KPI RU III Plaju, Siti Rachmi mengatakan, sebenarnya Pertamina sudah bekerjasama dengan balai riset sejak 2019 lalu, dalam menyelamatan ikan Belida.

Sebagai bentuk keperdulia, pihaknya memberikan bantuan berupa sarana prasarana untuk indukan Belida.

“Usaha yang dilakukan pertamina selama lebih kurang 2 tahun bekerjasama dengan balai riset perikanan ini masih menemukan kendala. Terutama dalam hal pembibitan, ini terlihat dari hasil pembenihan dari 134 ekor lebih bibit ikan yang bertahab hingga saat ini hanya 63 ekor ikan dengan ukuran 20 sampao 30 cm belida indukan pertama (F1),” paparnya.

Indukan pertama (FI) inilah, yang nantinya akan dibibitkan kembali untuk dikembangbiaknya sebelum nantinya akan ditebar kembali ke Sungai Musi.

“Kami sangat peduli terhadap kelestarian ikan Belida ini dan untuk mendukung hal tersebut, tidak tangung tangung anggaran yang digelontorkan melalui Coorporate Sosial Responsibility (CSR) ditahun ini sebesar Rp 1 miliar. Dana tersebut diperuntukkan untuk 6 program dan salah satunya pembibitan ikan belida,” jelad Rahmi.

Ditambahkannya, program pembibitan yang dilakukan Pertamina ini, merupakan bentuk tangung jawab terutama untuk penyelamatan ekosistem. Salah satunya fauna yang dinyatakan langka dan kondisinya sudah sangat sulit ditemukan diperairan Sumsel. Ini merupakan upaya Pertamina dalam perkembangbiakan ikan Belida.

Harapan besar ditananamkan pibaknya, agar kedepan pembibitan yang bisa menelurkab keturunan pertama (F1) bisa terus berkembang biak sehingga indukan pertama (F1) yang dilindungi Pemerintah ini, bisa memberikan anakkan lagi yang dalam istilahnya (F2) atau turunan kedua.

“Kami menaruh harapan besar dari pembibitan kedua (F2) bisa berkembang biak. Jika ia berkembang biak kita bisa kembali merasakan olahan ikan belida, karena ikan ini sudah bisa dibudidayakab dimasyarakat dan dikonsumsi kembali,” ujarnya.

Memang untuk merealisasikan hal tersebut katabya, butuh kesabaran dan ketelitian karena untuk ikan belida ini perawatan sangat sulit.Itulah program ini dicanangkan selama 5 tahun dan untuk menuju F2 belida yang bisa dibudidayakan di masyarakat membutuhka waktu 2 tahun kedepan.

Kedepan kalau sudah bisa mebelurkan keturunan pertama F1 dan bisa keturunan F2 yang bisa dibudidayakan dimasyarakat, ikan konsumsi ini bisa kembali normal. Program ini sampai 5 tabun dan untuk menuju F2 butuh waktu 2 tahun kedepan.

Sementara itu Tumiran, Teknisi Lapangan Balai Riset Perimanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan mengakui, banyak kendala yang dihadapi untuk pembibitan ikan Belida.

Selama kerjasama dengan Pertamina, pihaknya sudah melakukan pembenihan dengan menaburkan benih ikan Belida sebanyak dua kali, yakni pada awal tahun dan pertegahan 2021 ini.

Diakuinya, dari total bibit ikan Belida yang dibenihkan, hanya 25 persen yang menjadi bibitan. Kecilnya persentase benih menjadi bibitan ini, karena ikan ini sangat sulit dalam pemeliharaanya, selain karena makanan ikan ini agak special yakni udang, ikan sepat merah dan benur, tempat ia aka bertelur atau membesarkan anakkanya membutuhkan tempat khusus dan harus benar benar dibuat sealami mungkin seperti di alan bebas.

Disini kami hanya mempersiapkan kolam, sedangkan bibit ikan, pakan dan kebutuhan lainya semuanya diberikan pertamina. Untuk saat ini ada 5 kolam yang menjadi sentral pembenihan ikan Belida.

“Kita mengharapkan 5 kolam yang dijadikab pembenihan tersebut, akan menghasilkan ikan belida yang bisa dikembang biakkan untuk nantinya dikembalikan kehabitatnya,” harapnya.(May)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL
Lakukan Penukaran Uang

Check Also

Aplikasi Kuncie dan Fita dari Telkomsel Raih Google Play Awards 2021

Palembang, Detik Sumsel – Dua aplikasi besutan Telkomsel, yakni Kuncie dan Fita, berhasil meraih penghargaan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *