LRT Sumsel Berbiaya Rp 180 Miliar Sedangkan Pendapatan Hanya Rp14 Miliar, Simak Penjelasannya

Iklan detik Sumsel

Palembang, Detiksumsel.com – Light Rail Transit (LRT) Sumatera Selatan menggelontorkan dana operasional hingga Rp180 miliar setiap tahunnya. Sedangkan pendapatan dari penjualan tiket baru sebesar Rp14 miliar setiap tahunnya. Dirincikan dana Rp180 miliar tersebut diperuntukkan untuk membayar listrik ke PLN Rp60 miliar dan subsidi perintis Rp120 miliar.

Dari data tersebut dapat dipastikan LRT pertama di Indonesia ini belum bisa menghidupi dirinya sendiri. Meskipun demikian Dedik Tri Istiantara, Kepala Balai Pengelola Kereta Api Ringan (BPKAR) Sumsel menuturkan Badan Layanan Umum atau BLU ini tidak mengalami kerugian lantaran LRT dengan panjang lintasan 22.3 KM tersebut belum beroperasi secara komersil. Sehingga seluruh biaya operasional ditanggung negara dalam rangka memenuhi kebutuhan transportasi masal murah dan modern.

“Kami tidak bicara untung rugi bahkan pendapatan dari penjualan tiket kami kembalikan lagi ke masyarakat diantaranya dengan pengadaan angkutan Feeder,” ujarnya, Jumat, (11/11/2022).

Angkot feeder diperuntukan bagi warga yang ada di sekitar koridor 1 meliputi Talang Kelapa-Talang Buruk via stasiun Asrama Haji dan koridor 2 rute Asrama Haji-Sematang Borang via stasiun Asrama Haji dan stasiun Punti Kayu.

Lebih lanjut diselah-selah taping podcast di kantor Detiksumsel.com, ia menjelaskan kedepannya untuk menambah pendapatan diluar tiket, pengelola akan memanfaatkan sekitar 700 pilar rel sebagai media promosi komersil.

Sebelumnya Komisi V DPR RI saat melakukan peninjauanel menyatakan bahwa LRT Sumsel masih membebani APBN sehingga diperlukan solusi untuk mengatasinya. Anggota komisi, Ishak Mekki meminta agar pemerintah daerah untuk memperbanyak kegiatan di Jakabaring Sport City agar penggunaan LRT bisa meningkat.

Dalam keterangan Dedik, LRT Sumatera Selatan dibangun mulai Tahun 2015-2018 dan pertama beroperasi ketika perhelatan Asian Games yaitu pada bulan Juli 2018. Adanya LRT ini mendorong perekonomian di Palembang mulai dari tenaga kerja, UMKM yang berjualan di Stasiun-Stasiun, sampai dengan efisiensi mobilisasi masyarakat dari yang sebelumnya mengeluarkan biaya yang lebih mahal sekitar Rp50 ribu (PP) dan sekarang hanya mengeluarkan Biaya Rp5 ribu 10 Rb (PP) salain dari dan/atau ke Bandara. Sedangkan di Bandara cukup Rp10 ribu dan Rp20 ribu (PP).Sehingga, secara hitung-hitunganan setiap orang dapat mengefisiensi Rp30-Rp 40 ribu per trip (PP).

Komentar