Pendamping Desa: Dugaan Pemotongan Didasar Hasil Musyawarah | Detik Sumsel
Detik
Pendamping desa Ali didampingi Aksi, UPKK dan kades Tanjung Serang, Kayuagung melakukan sidak, Selasa (17/12/2019).

Pendamping Desa: Dugaan Pemotongan Didasar Hasil Musyawarah

Kayuagung, Detik Sumsel — Mencuatnya pemberitaan terkait dugaan pemotongan uang yang diduga dilakukan oknum kepala desa (kades) dengan dalih untuk pembelian kelengkapan kandang berupa tempat pakan, tempat minum hand spray, pendamping desa kegiatan bekerja Desa Tanjung Serang, Ali dan Kades Tanjung Serang, Hermayani angkat bicara.

Pendamping desa kegiatan bekerja Desa Tanjung Serang, Ali mengklaim tidak ada pemotongan uang pembelian kelengkapan kandang yang dilakukan kades setempat. Kades hanya memfasilitasi musyawarah saja.

“Kami pendamping desa dengan koordinator kecamatan bekerja, Pak Yusuf bersama kades dan UPKK melakukan insoeksi mendadak (sidak) dan pemantauan,”kata Pendamping desa Ali didampingi Aksi, Selasa (17/12/2019).

Hanya saja, masih kata Ali, berdasar musyawarah pada 31 Oktober 2019 lalu ada tiga hasil disepakati, yakni kandang ayam dibuat secara kelompok disatu lokasi dan perorangan. Kedua pembelian kelengkapan kandang berupa wadah makan dan minum serta lainnya dikoordinir Unit Pengelolaan Kegiatan Kelompok (UPKK), dimana uang Rp110.000 dari Rp500.000 itu disetorkan lagi ke UPKK untuk pembelian kelengkapan kandang.

“Jika kelengkapan kandang dibeli perorangan tentu harganya lebih tinggi. Makanya beli secara kelompok jauh lebih murah. Per Rumah Tangga Miskin Pertanian (RTMP) dipotong Rp110.000,.”jelas Ali.

Selanjutnya, hasil kesepakatan terakhir ialah satu RTMP menggandeng dua KK, dimana hasilnya akan dibagi tiga ke RTMP yang tidak terdaftar.

Sementara itu, Kades Tanjung Serang Hermayani juga membantah tidak ada pemotongan uang pembelian kelengkapan kandang.

Dia mengklaim hanya memfasilitasi saja musyawarah tersebut. Soal pemotongan uang pembelian krlrngkapan kandang itu dikoordinir UPKK.

“Tidak benar itu adanya pemotongan. Pemotongan uang kandng dikoordinir UPKK melalui musyawarah bersama dengan penerima,” jelasnya.

Diketahui, bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) atas uang pembelian kelengkapan kandang sebesar Rp500.000 per Rumah Tangga Miskin (RTM) disejumlah desa diduga disunat.

Pemotongan uang tersebut bervariasi, mulai dari Rp80.000 hingga Rp190.000 dari bantuan yang diberikan Kementan sebesar Rp500.000 dengan dalih untuk pembelian wadah pakan dan wadah minum.

Selain pemotongan, penerima juga mengeluhkan kuantitas bantuan ekor ayam. Semestinya satu KK menerima 50 ekor ayam, namun realitanya tiga KK hanya menerima 50 ekor ayam.

Sebagian besar penerima bantuan berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKI, dalam hal ini Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) OKI dapat kooferatif dan profesional dalam mengawasi pemberian bantuan tersebut.

“Disini kami (3 KK) menerima 50 ayam petelur maupun pejantan, termasuk uang untuk membuat kandang. Tapi, kena potong untuk pembelian wadah pakan dan minum sebesar Rp190.000. Ya, kami hanya menerima Rp310.000 per KK,” ujar Har, salah satu warga Tanjung Serang, Kecamatan Kayuagung, OKI, belum lama ini.

Menurut dia, pemotongan uang pembelian kelengkapan kandang itu jelas dinilai sangat memberatkan. Menginggat pembuatan kandang ayam memerlukan biaya cukup besar.

Rata-rata, kata dia, bantuan ternak ayam petelur itu tak berlangsung lama dan para penerima kembali melakukan aktivitas seperti biasa.

Menyikapi hal itu, Kepala Disbunak OKI, Aris Panani, S.IP., M.Si., mengklaim pemotongan uang pembelian kelengkaan kandang itu tergantung kesepakatan.

“Kalau mau dikoordinir, ya silakan. Uang Rp500.000 itu kan untuk pembelian kelengkapan kandang. Kita tanya, mau dibelikan wadah minum dan makan. Tergantung kesepakatan,” terangnya.

Dia mengklaim pihaknya sebatas mengecek keberadaan penerima saja, aakah berhak menerima bantuan ini atau tidak. Sementara penerima itu mengacu pada data dari Kementerian Sosial.

Disinggung fenomena tidak berkembangnya usaha atas bantuan ini dan masyarakat kerap menjual ayam itu, sambung Aris, dalam aturannya, ayam itu dijual tidak apa-apa karena ini bantuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Ayam bertelur itu memproduksi telur selama 280 hari. Kami harap bantuan ini dapat berkelanjutan,” kata Aris seraya mengatakan tercatat tahun ini ada sekitar 300.000 ekor ayam petelur yang diperuntukkan bagi sekitar 5.900 KK yang tersebar di desa dalam Kabupaten OKI.(Iyan)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Eks Kapolres OKU Timur Ditahan, Diduga Terima Suap dari Bupati Muba Non Aktif 

Jakarta, Detik Sumsel — AKBP Dalizon eks Kapolres OKU Timur akhirnya resmi ditahan, setelah menjalani …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *