Pentolan Teater Potlot dan Wartawan, Conie Sema Tutup Usia

Dikebumikan di TPU Kamboja, Bada Jumat

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan

Palembang, Detiksumsel.com--Innalillahi wa Innailaihi Rojiun. Kalangan wartawan dan seniman berduka menyusul kabar tutup usianya Conie Sema bin Semai Sadan. Rencananya akan di kebumikan hari  ini Jumat (9/9/2022) bada salat Jumat di TPU Kamboja. Saat ini jenazah disemayamkan di rumah duka yang juga markas Teater Potlot Palembang di Jalan Trikora, Lorong Serasan No. 3133, Lorok Pakjo, Palembang.

Berita wafatnya sosok jurnalis yang dikenal sabar, pekerja keras dan tangguh ini disampaikan keluarga melalui WhatsApp Group (WAG). Conie menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Hermina Palembang, Kamis, 8  September 2022 pukul 17.20 WIB.

Sebelumnya, melalui akun Facebook-nya Conie menulis status dirinya pada 15 Agustus 2022 akan menjalani operasi laparascopy, penyedotan cairan di sekitar hati di RSUD Muhamad Husein Palembang. Namun terakhir diketahui Conie melanjutkan perawatan di Rumah Sakit Hermina Palembang.

Selasa (6/9/2022) Inug Dongeng sempat menulis informasi di Grup WA Dulur Seniman bahwa  Conie membutuhkan darah A+. Itu diposting pada pukul 12.49 dan banyak mendapat respon anggota grup yang berisi 233 member ini. Lalu  Kamis (9/9/2022) berita duka pun terkabar di grup para seniman itu pukul 17.26 menginfokan bahwa telah berpulang Conie Sema di RS Hermina  sekitar pukul 17.00 WIB.

Info yang sama juga tentu tersebar di grup-grup lain, karena selama hidupnya almarhum ini berkecimpung di dunia seni dan jurnalis.

Seperti Grup Wartawan Sumsel 789 yang beranggotakan wartawan Sumsel angkatan 1970, 1980, dan 1990-an. Pukul 18.44, berita duka pun tersebar diawali dari Mursalin Yaslan (Wartawan Republika di Lampung) yang mempertanyakan kebenaran info duka  yang tentu membuat suasana sedih pun larut dalam grup wartawan ini.

Wartawan Sumatera Ekspres

Karier di dunia jurnalistiknya diawali dari bergabung di Sumatera Express (Surya Persindo Group) di Palembang. Lalu pindah ke Lampung menjadi koresponden RCTI, dan pernah bergabung di Lampung Post pada tahun 1999-2000. Kini, setelah gantung kamera  di RCTI,  lebih banyak ‘tenggelam’ di dunia teater.

Semasa hidupnya Conie adalah mantan wartawan Sumatera Express era 80-90’an. Ia pernah menggeluti beberapa penerbitan media di Sumsel. Beliau juga tergabung dalam Forum  Wartawan 789, dimana beberapa tahun lalu secara kolektif mendapat penghargaan dari Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru. Sejak menikahi Bisri Merduani, juga seorang wartawan SCTV, Conie lama menetap di Lampung, dan menjadi koresponden RCTI. Almarhum sehari-harinya menetap di Jalan Randu No. 13-B, Kemiling, Bandar Lampung.

Namun, dalam aktivitasnya juga banyak juga berda di kediamannnya di Belakang Rumah Sakit Bunda yang juga markas Terater Potlot menggebrak dunia seni. Kalau di Google Maps bisa di-searching di Rumah Sema.

Selain sebagai jurnalis, Conie Sema dikenal sebagai pekerja seni yang produktif. Dia pun banyak menulis karya sastra, esai, dan naskah panggung. Salah satu  naskah dramanya, Rawa Gambut mendapat Anugerah Rawayan Award 2017 oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Di tahun 2009 dia menerbitkan novel pertamanya berjudul Perahu yang diterbitkan Pustaka Melayu, kemudian cetak ulang tahun 2018.

Bicara Conie maka lekat dengan Teater Potlot. Dari teater inilah, proses kreatifitas Conie bermula, hingga menjadi teaterawan yang banyak berkonstribusi  di dunia kesenian Indonesia, khususnya di Sumatera Bagian Selatan. Terakhir ide-ide liar Teater Potlot banyak mengusung tema kerusakan lingkungan hidup.

Rumah

Menurut Taufik Wijaya di rumah duka tadi malam,  sebelum meninggal, Conie dan Teater Potlot tengah menyiapkan pertemuan teater se-Sumatera di Taman Budaya Sriwijaya yang akan digelar pada 29 September 2022 – 1 Oktober 2022.

“Kami akan lanjutkan. Tak ada kata berhenti,” kata Tewe, panggilan akrab Taufik Wijaya dalam bincang-bincangnya bersama Toton Dai Permana dan Yudi Syarofi.

Menurut Toton Dai Permana, dalam waktu-waktu terakhir ini, almarhum tengah menuntaskan naskah drama yang berbicara tentang rumah. “Rumah, tempat masa kecil rumah tempat kita dibesarkan, dan rumah-rumah di sekitar kita. Termasuk juga, rumah di sana nanti,” tambahnya sembari menyebutkan, mungkin rumah itulah pertanda yang tidak disadari  sebagai pesan darinya.

Cita-citanya jadi KKO

Dalam obrolannya di Ngoran, channel youtube: Nasirlubay, diketahui Conie Sema, pernah duduk di bangku STM Tamansiswa Palembang dan bergabung di teater Potlot sejak seragam abu-abu. Sempat ragu mau kuliah musik atau  jadi arsitek. Akhirnya  kuliah di Teknik Sipil Universitas Tridinanti. Tenggelam jadi jurnalis meski sempat bercita-cita jadi KKO. Lalu kembali nyeni dan terpentaslah Rawa Gambut, Glasorium, dan Antrpogenik. Lalu Lagu  “Kerbau Rawa” dan “Kita Harus Menang” pun lahir dari tangan dinginnya.

Almarhum meninggalkan seorang istri, Bisri Merduani, dan tiga orang anak. Yakni, Sema Milenia, Sema Giga Ramadan, dan Sema Epik Revolika.

Conie Sema, lahir di Palembang 24 April 1965. Mulai menulis sastra, esai, dan naskah panggung, saat bergabung dengan komunitas Teater Potlot. Karya cerpen, puisi, esai, dan dramanya dipublikasikan media antara lain, Lampung Post, Koran Tempo, Media Indonesia, Majalah Sastra Horison, Sriwijaya Post, Mongabay Indonesia, Berita Pagi, Sumatera Ekspres, Haluan Padang, Majalah Kebudayaan Dinamika, dan Lorong Arkeologi.

Puisinya terhimpun dalam antologi bersama: Antologi Rainy Day: A Skyful of Rain (2018), Sebutir Garam di Secangkir Air (2018), Selasa di Pekuburan Ma’la (2019), When The Days Were Raining – Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival (2019). Salah satu naskah dramanya, Rawa Gambut  mendapat Anugerah Rawayan Award 2017 oleh Dewan Kesenian Jakarta. Perahu, adalah novel pertama (2009, cetak ulang 2018).

Selamat Jalan, Om Conie. Semoga semua yang telah dikaryakannya menjadi hal-hal yang bermanfaat. Semua amal kebaikannya mendapat imbalan yang setimpal. Dan, semua dosa dan kesalahannya diampuni oleh Allah SWT. (mn)

Komentar