Perjuangan Sopir Angkot Ditengah Pandemi Covid 19, Bertahan Demi Keluarga | Detik Sumsel
Pemprov
Angkutan kota (Angkot) Ampera - Tangga Buntung saat menunggu penumpang dibawah jembatan Ampera 16 Ilir Palembang

Perjuangan Sopir Angkot Ditengah Pandemi Covid 19, Bertahan Demi Keluarga

Palembang, Detik Sumsel — Pandemi Covid 19 melanda dunia hampir dua tahun, mengubah tatanan kehidupan manusia. Jutaan nyawa manusia melayang akibat terinfeksi virus mematikan ini.

Dampak Covid 19 ini tidak hanya dari segi kesehatan yang paling terdampak adalah perekonomian dan pariwisata tidak terkecuali di Indonesia banyak pelaku usaha yang merumahkan karyawannya bahkan gulung tikar karena sepi tidak ada kunjungan wisata terkait kebijakan pemerintah yang menutup tempat tempat wisata.

Meski kasus Covid 19 cenderung menurun akhir – akhir ini, belum sepenuhnya membangkitkan perekonomian terutama masyarakat menengah kebawah yang masih harus berjuang mencari sesuap nasi untuk menghidupi anak istri.

Seperti yang dirasakan para sopir Angkutan Kota (Angkot) di kota Palembang. Salah satunya Iwan Saputra (33), sopir Angkot jurusan Ampera – Tangga Buntung ini mengeluh sepinya penumpang. Karena keluarga membuatnya bertahan menjadi sopir Angkot karena inilah salah satu profesi yang bisa dikerjakannya.

Menjadi sopir Angkot jurusan Ampera – Tangga Buntung sudah dijalani Iwan sepuluh tahun lalu. Sebelum ada pandemi Covid 19, penghasilan yang diperolehnya berkisar Rp 80.000 hingga Rp 100.000 per hari. Saat ini penghasilan yang diperolehnya hanya berkisar Rp 40.000 hingga Rp 50.000.

Penghasilan berkurang saat wabah Covid 19 melanda terutama saat pemerintah kota mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Bahkan ia hanya mendapat uang setoran saja yang harus ia berikan kepada touke yang Angkot yang ia jalankan.

“Penumpang sepi minta ampun, dari Tangga Buntung ke Ampera cuma dapat penumpang tiga sampai empat orang. Begitu juga dari Ampera ke Tangga Buntung. Bahkan tidak dapat penumpang sama sekali,”katanya kepada Detik Sumsel.com Selasa (5/10/2021)

Seperti biasa, Iwan setiap hari menarik Angkot keluar dari pool Angkot sekitar pukul 07.00 pagi hingga pukul 17.00 sore. Angkot yang dijalankannya harus membayar uang setoran sebesar Rp 80.000 ribu kepada pemilik Angkot.

“Kalau sebelum ada wabah Covid masih ada penumpang anak sekolah. Jurusan Ampera Tangga Buntung ini ada rute anak sekolah. Kalau sekarang ini hanya mengandalkan penumpang umum orang yang akan kepasar saja tapi tidak banyak mereka ada yang memakai motor diantar sama keluarganya,”kata pria dua anak ini.

Selama masa pandemi hampir dua tahun ini, penumpang sepi Iwan tidak patah semangat mencari nafkah meskipun hanya pas pasan untuk makan keluarganya sehari – hari.

“Kita kadang menunggu penumpang di Monpera di bawah jembatan Ampera sudah teriak – teriak tapi masih saja penumpangnya sepi,”ungkapnya.

Dikatakan Iwan, Angkot jurusan Ampera – Tangga Buntung adalah rute yang sangat singkat jarak tangga buntung ke Ampera hanya bisa ditempuh tidak kurang dari sepuluh menit. Ampera ini pusat kota yang terdapat pasar 16 Ilir pasar terbesar di kota Palembang.

“Jadi orang Tangga Buntung yang akan pergi ke pasar 16 Ilir lebih memilih menggunakan sepeda motor ataupun bentor. Kalau naik angkot bayar Rp 4 ribu pulang pergi jadi Rp 8 ribu jadi mereka pilih naik motor atau naik bentor. Inilah yang membuat penumpang bertambah sepi,”tuturnya.

Dibalik perjuangannya itu, Iwan masih menaruh asa dan berharap diberikan rezeki agar bisa mengkredit mobil yang bisa digunakan nya untuk taksi online meski pun harus membayar cicilan setiap bulannya.

“Kalau saya ada rezeki bisa untuk membayar uang muka. Saya kredit aja mobil untuk naksi online. Karena kalau nyopir angkot ini tau sendiri penghasilan nya. Saya juga pernah menjadi sopir barang gajinya kecil dan saya harus menunggu di gudang kan jenuh kita biasa nya berjalan,”ucapnya.

Masih dikatakan Iwan, istri dan anaknya tidak menuntut lebih dari dirinya bisa makan, bisa membayar kontrakan rumah sudah bersyukur. “Kalau istri saya itu tidak banyak minta ini itu, yang penting dapur bisa ngepul, ya syukur syukur ada lebih untuk disimpan, kalau tidak ya sudah yang penting saya dan dua anak saya bisa makan dan kami sehat selalu,”pungkasnya.(oji)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL
Lakukan Penukaran Uang

Check Also

Hafal 30 Juz, Al Qur’an, Pemuda OKI Diganjar Apresiasi 

Kayuagung, Detik Sumsel-Bertepatan dengan Peringatan Hari Santri Nasional 2021, Wakil Bupati (Wabup) Ogan Komering Ilir …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *