Pertahankan Market, Perluas Jaringan Hingga Pelosok | Detik Sumsel
Pemprov
PT Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) tetap menjadi pilihan dan mempertahankan market leadernya di Sumsel.

Pertahankan Market, Perluas Jaringan Hingga Pelosok

Dorong Ekonomi Pedesaan, Sasar UMKM Tak Tersentuh

Palembang, Detik Sumsel-  Melejitnya bisnis online menjadi ladang bisnis baru. Tak salah, jika persaingan usaha di jasa pengiriman semakin ketat dengan bermunculan jasa ekspedisi baru yang menghadirkan beragam kelebihan.

Meski begitu, PT Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) tetap menjadi pilihan dan mempertahankan market leadernya di Sumsel. Caranya, mengutamakan pelayanan kecepatan hingga memperluas jaringan dengan hadir hingga ke pelosok negeri.

Branch Manager JNE Palembang, Muhammad Daud mengatakan,  sejak awal pandemi seluruh sektor ekonomi terpukul dan jatuh termasuk jasa pengiriman. Secara overall jasa pengiriman turun 20-30 terutama pada saat penerapan Pemberlakuan Sosial Skala Besar (PSBB). Hampir semua paket pengiriman stop. “Berlahan, sejak Juni mulai menggeliat dan terus meningkat lantaran belanja online menjadi pilihan,” katanya kepada media ini.

Bahkan, kata dia, semakin banyak jasa kurir bermunculan baik lokal maupun nasional, berizin maupun belum pun mengambil porsi di dunia usaha ini.  Tak salah jika jasa pengiriman ini menghadapi tantangan yang besar. Mengingat, “Untuk bersaing dan menjadi pilihan maka perlu dilakukan inovasi untuk memudahkan konsumen dan tarif agar kompetitif. JNE masih mampu bertahan karena terus memberikan yang terbaik bagi pelanggan,” katanya.

Ia mengungkapkan, ada dua hal yang dijaga yakni harga terjangkau dan kecepatan. Selain itu, JNE hadir di setiap pelosok Sumsel . Hal ini lantaran pemesanan belanja online tidak hanya dari pusat kota tetapi juga dari sudah sampai ke pelosok hingga ke desa -desa terpencil. “Kemajuan teknologi sekarang ini membuat pemesanan sampai ke desa terpencil sebab belanja online dan market place sudah bisa di akses dimana pun dan kapan pun melalui gadget, makanya pemesanan online yang meningkat pun mengkerek jasa pengiriman. “Pada program belanja nasional 11.11, total ada paket 132 ribu paket dengan estimasi uang beredar mencapai ratusan miliar. Itu baru di JNE belum termasuk jasa kurir lain. Artinya sangat potensial,” paparnya.

Tantangan lain, lanjut dia, jasa kurir ini pada Cash On Delivery (COD) sebab dari 100 pemesanan hanya 80 persen yang sampai ke pelanggan. Selebihnya kembali lagi. Sangat jarang pemesanan COD itu 100 persen sampai ke pelanggan dan itu sudah menjadi resiko dari jasa pengiriman ketika barang tersebut tidak sampai.

Hal tersebut ketika kurir melakukan pengiriman konsumen tidak ada ditempat, mereka hnya coba coba, alamat tidak lengkap hingga ketika dihubungi tidak ada respon, uang tidak cukup  hingga beli tiga hanya satu barang yang diterima karena tidak sesuai dan banyak lagi. “SOP dari JNE ketika mengantarkan barang kepada konsumen maka petugas mengirimkan SMS terlebih dahulu, tapi tetap saja barang sering tidak sampai ke pelanggan,” ucap dia.

Selain, konsumen pula bisa mengecek dari Sistem Tracking Real Time”, yang memudahkan pihak-pihak yang terkait(seperti seller, reseller hingga konsumen dalam kegiatannya e-commerce) fasilitas ini dapat memantau keberadaan paket yang dikirim hingga mendapatkan estimasi waktu tiba ditujuan.

Untuk itu, agar tetap bertahan dan tetap menjadi market leader, Daud mengungkapkan, pihaknya harus terus melakukan inovasi dan memberikan kemudahan agar konsumen JNE tetap menjadi pilihan bagi para konsumen. Berdasarkan data,   JNE menguasai market share  hingga 40 persen kemudian disusul market jasa pengiriman lainnya. Dengan pengiriman tertinggi berada di kota Palembang dan daerah penyangah seperti Ogan Ilir, Banyuasin. Kemudian di susul kabupaten kota di Sumsel seperti Muara Enim, Musi Banyuasin dan daerah lainnya.

Total pengiriman mencapai 55 ribu per hari dengan 7 ribu paket yang di kirim (on going) selebihnya barang masuk. Mayoritas fashion dan souvenir dan elektronik serta kuliner. Paket yang menjadi pillihan konsumen Yes dan OK sebab waktu kirim cukup singkat hanya 3-4 hari. Ini sangat cocok untuk pengiriman makanan.  Total UMKM yang menjadi mitra mencapai 3 ribu dengan total agen) sekitar 100 unit yang tersebar.

Untuk itu, market potensial adalah UMKM. Ini juga sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah untuk mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional ditengah pandemi Covid-19. “Sektor UMKM jadi sektor yang potensial untuk digarap dan ini pula selaras dengan program pemerintah menggerakan sektor rill melalui UMKM  mengingat sektor ini menyerap lapangan pekerjaan yang cukup besar, ‘paparnya.

Saat ini, kata dia, UMKM yang sudah menjadi mitra mencapai 3000 di Sumsel, namun di Sumsel sebenarnya masih banyak UMKM yang belum tersentuh. Ia mencontohkan pengrajin perhiasan di Meranjat Inderalaya Selatan Kabupaten Ogan Ilir. “Hasil perhiasan pengrajin disana sangat bagus, namun pemasaran masih kurang. Nah, JNE hadir tidak hanya sebagai jasa pengiriman tetapi juga promosi produk tersebut di website hingga media sosial, sehingga kehadiran JNE berkontribusi lebih,” paparnya, selain pihaknya juga memberikan diskon untuk para UMKM.

Tahun depan pun pihaknya akan lebih fokus pada market di daerah. Hal tersebut bukan tanpa alasan, selain JNE sudah kuat di market dalam kota, untuk market di daerah ini punya potensi besar mengingat perkembangan teknologi digital mengiring pengiriman ke daerah tinggi. Disamping jaringan JNE di daerah yang sudah kuat dan hingag ke pelosok. Makanya, proyeksi kedepan pihaknya akan memaksimalkan market ini dengan memperluas jaringan dengan menambah mitra.

Apalagi, masih kata dia, saat ini pihaknya juga memaksimalkan jalur darat. Mengingat, jalur tol di Sumsel sudah operasional. Mana daerah di Sumsel yang memungkinan untuk dilakukan pengiriman via darat. Dengan begitu, pihaknya bisa menekan cost dan berimbas pula penyesuaian harga. “Penambahan mitra ini juga sebagai bagian penambahan jaringan JNE hingga ke pelosok dan menjaga waktu delivery dan biaya logistik sehingga lebih efisien dan efektif,” paparnya.

Lebih jauh ia mengatakan, jemput bola menjadi sangat penting agar tetap bertahan di bidang ini. “Soal harga sebenarnya sama saja, tidak ada perbedaan yang jauh. Yang penting itu mempertahankan waktu dan tanggung jawab. Alhamdulilah, kami sampai sekarang belum pernah dikomplain konsumen lantaran paketnya rusak dan ini kami tekankan kepada kurir agar komitmen,” ulasnya.

Terpisah,  Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, POS dan Logistik Indonesia (Asperindo) Sumsel, Haris Jumadi mengatakan, kemajuan teknologi dan semakin menjamurnya belanja online dengan kehadiran market place membikin semua serba mudah. “Untuk berbelanja barang kebutuhan apa pun cukup dengan gadget apalagi adanya penerapan COD sehingga konsumen merasa nyaman,” ucap dia.

Kondisi ini, kata dia, menjadikan usaha jasa kurir menjadi bisnis yang seksi dan diminati. Uang yang berada pun tak sedikit. Tak salah, jika mulai banyak bermunculan  new comers dibidang ini  yang  siap merebut market baik lokal maupun nasional. Bahkan, untuk bersaing mereka pun tidak segan jor joran dengan mengelar promo besar besaran. Disini, pemain lama dituntut untuk inovatif dan jemput bola agar mampu bersaing dan tidak tersingkir.

“Masyarakat Sumsel, khususnya kota Palembang warganya terbilang konsumtif. Paket yang masuk itu mencapai puluhan ribu paket. Namun yang paling penting adalah memperkuat jaringan, ketepatan waktu hingga pelayanan,” tukasnya. (Tet)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Merasa Terancam Saat Didatangi dan Ditantang Berkelahi, Joko Polisikan CN

Palembang, Detik Sumsel — Karena merasa dirinya terancam Joko (34) warga komplek Taman Bukit Raflesia, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *