Populasi Kerbau Rawa di Sumsel Terancam

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan

Lipsus, Detik Sumsel – Populasi kerbau rawa di Sumatera Selatan sejak 10 tahun terakhir berkurang hingga 30 persen. Tercatat ada sekitar 15 ribu ekor kerbau rawa pada tahun 2010 lalu yang tersebar di tiga wilayah di Sumsel diantaranya Kecamatan Pampangan OKI, Kecamatan Rambutan Banyuasin, dan Tanjung Senai Ogan Ilir namun di tahun 2019 ini populasi kerbau rawa di Sumsel tinggal sekitar 10 ribu ekor.

Menurunnya populasi kerbau rawa di Sumsel ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk salah satunya minimnya perhatian Pemerintah Provinsi dan Pemerintah daerah di tempat populasi kerbau rawa itu sendiri.

Peneliti Kerbau Rawa dari Universitas Sriwijaya, Arfan Abrar menyebutkan saat ini kondisi populasi kerbau rawa makin memprihatinkan, terlebih di Sumsel yang sejak 10 tahun terakhir berkurang hampir lima ribu kerbau rawa.

“Jelas dengan kondisi jumlah populasi yang ada saat ini keberadaan kerbau rawa di Sumsel sangat terancam,” ungkap Arfan yang juga Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.

Gerombolan kerbau rawa di Kecamatan Rambutan Banyuasin tepat di swamp buffalo center tampak sedang mencari makan di lahan rawa yang mengering karena sudah masuk musim kemarau. (Foto: BRG Pusat for Detik Sumsel)

Menurutnya, kondisi berkurangnya populasi kerbau rawa ini harus menjadi perhatian serius banyak pihak termasuk Pemerintah. “Banyak upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan populasi kerbau rawa di Sumsel,” ungkapnya.

Lanjutnya, keberadaan swamp buffalo center merupakan satu solusi untuk upaya peningkatan populasi kerbau rawa khususnya yang ada di wilayah Sumsel. “Ini yang saat ini digencarkan,” sebutnya.

Dikatakan, saat ini pola kegiatan di swamp buffalo center yang dilakukan di periode awal yakni diantaranya seleksi untuk populasi dasar, morfometrik, adaptasi perbaikan teknik budaya, dan aplikasi inKA dan IB.

Kemudian, di periode populasi dasar dilakukan rekording dan pengamatan performans melalui respons terhadap faktor lingkungan, dan analisa kekerabatan.

“Lalu di periode produksi dan kestabilan genetik dilakukan kestabilan mutu genetik dan bibit kerbau rawa pampangan,” jelasnya.

Komentar