Ramai-ramai Petani Pagaralam Beralih Pupuk dari Kotoran Ayam | Detik Sumsel
Pemprov
Kotoran ayam yang dijadikan pupuk untuk lahan pertanian kopi di Kota Pagaralam

Ramai-ramai Petani Pagaralam Beralih Pupuk dari Kotoran Ayam

Pagaralam, Detik Sumsel- Sebagai daerah yang sebagian masyarakatnya merupakan petani, sudah barang tentu hasil pertanian merupakan sumber ekonomi bagi warga Kota Pagaralam.

Namun sejak meroketnya harga Pupuk non subsidi di pasaran, membuat para petani beberapa daerah melesuh, tak terkecuali para petani Kota Pagaralam. Karena biaya produksi membengkak.

Namun, beberapa petani di Kota Pagaralam tak mati akal untuk menanggulangi mahalnya harga Pupuk tersebut. Dengan mengganti pupuk kimia dengan pupuk kompos yaitu kotoran ayam.

Salah satunya yang dilakukan petani kopi yaitu Peri Patriansyah yang mengakui sejak melambungnya harga pupuk di pasaran. Dirinya bersama petani kopi lainya harus memutar otak untuk mengatasi masalah ini dengan mengganti pupuk yang biasa di beli di pasaran dengan pupuk kotoran ayam.

“Sempat bingung dengan melonjaknya harga pupuk, namun dengan banyak bertanya kepada petani lainya akhirnya kami menemukan solusi dengan mengganti pupuk kotoran ayam untuk memupuk lahan kopi,”katanya, Minggu (20/2)

Ia menjelaskan, bergantinya kotoran ayam tersebut sebagai pupuk, salah satu alasanya karena harga yang jauh lebih terjangkau di bandingkan dengan harga pupuk yang di jual dipasaran.

“Jika pupuk yang biasa kita beli di pasaran harganya saat ini sangat mahal, namun untuk harga kotoran ayam hanya berkisar Rp 6000 sampai Rp 12.000 perkarungnya. Ini jelas sangat membantu petani seperti kami untuk menghemat biaya produksi pertanian,”ujarnya.

Namun banyak juga petani yang masih enggan memaki kotoran ayan sebagai pupuk, karena dapat merusak tanaman sebab dinilai lebih keras dari pupuk biasanya.

“Namun Alhamdulillah, lahan saya yang saya garap tidak terjadi apa-apa malah masih normal seperti memakai pupuk lainya,”terangnya.

Hal yang yang sama di katakan Najam Petani Kopi di kawasan Kecamatan Dempo Tengah yang menuturkan jika Ia sudah sejak lama beralih ke pupuk kotoran ayam tersebut.

“Jauh sebelum pupuk non subsidi naik harga, saya dan beberapa petani di kawasan Dempo Tengah sudah memakai kotoran ayam untuk pupuk, hal tersebut karena lebih hemat biaya. Sedangkan hasil produksi tidak begitu berbeda jauh,” ungkapnya.

Hal ini dibenarkan salah satu peternak ayam potong di kawasan Pagaralam Pungki yang mengatakan, sejak harga pupuk non subsidi mahal permintaan akan kotoran ayam cukup meningkat terutama permintaan dari petani kopi.

“Harga yang kita jual juga tidak begitu mahal, sehingga banyak petani beralih ke kotoran ayam sebagai pengganti pupuk yang biasanya petani pakai,”jelasnya.(rendi)


H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

DPRD Palembang Berduka, Azhari Haris Tutup Usia

Palembang, Detik Sumsel – Innalilahi wainailaihi rojiun, kabar duka menyelimuti Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.