Satu Hektare Hanya Dapat Rp 400 Ribu

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan

Petani Karet di Sumsel Makin Terpuruk

Lipsus, Detik Sumsel – Pendapatan petani karet di Sumatra Selatan makin merosot, beban para petani dalam kurun waktu tiga bulan terakhir ditambah lagi dihadapkan pada masa pandemi covid-19 membuat keadaan semakin sulit. Kini sudah memasuki puncaknya, bahkan Minggu pertama Juni 2020 petani merugi karena biaya produksi yang dikeluarkan lebih besar dibanding dengan hasil penjualan.

Sebagai ilustrasi rata rata kepemilikan Lahan Produktif petani Karet di Sumsel seluas 1,43 hektare per-KK. Jika Hasil produksi per hektar 227 Kg/bulan dengan harga Rp6.000 maka dengan lahan 1,43 Hektare petani berpenghasilan kotor Rp1.947.660, sementara upah sadap dan pupuk Rp1.000.950.

“Maka penghasilan bersih tiap Kepala Keluarga petani karet sebulan hanya Rp497.660, sangat jauh dari cukup dibandingkan dengan upah minimum Provinsi Sumatera Selatan tahun 2020 Rp3.043.111,” ungkap Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian SP MSi kepada detiksumsel.com.

Dikatakan, dengan merosotnya pendapatan petani karet, maka akan memberikan berbagai dampak terhadap kondisi sosial ekonomi petani karet di Sumatra Selatan  dikarenakan lebih dari 30 persen penduduk Sumsel menggantungkan hidup dari komoditi karet, dengan turunnya harga karet saat ini telah memberikan dampak yang mengakibatkan turunnya pendapatan petani per bulan, turunnya kemampuan investasi petani, turunnya daya beli petani, serta pengalihan sumber penghasilan petani kepada sumber penghasilan selain Usahatani karet.

“Bahkan juga telah terjadi pengalihan fungsi lahan dari Usaha tani karet ke tanaman lain yang dinilai petani lebih prospektif. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya agar bisa bertahan dalam kondisi harga karet yang rendah saat ini Kita meminta pemerintah pusat lebih memperhatikan nasib petani jika dibiarkan tanpa pemberian intensif kepada Petani, maka dikhawatirkan mereka akan melakukan alih fungsi lahan menjadi properti, atau tanaman lain yang dinilai lebih produktif,” imbuhnya.

Komentar