Sejarah Pergerakan Taliban Di Afganistan | Detik Sumsel
Pemprov
Oleh : Dhimas Arya Fratama

Sejarah Pergerakan Taliban Di Afganistan

Gerakan Taliban, atau Taliban atau Taleban atau “murid” dalam bahasa Pashto, adalah gerakan nasionalis Islam Sunni pendukung Pashtun yang secara efektif menguasai hampir seluruh wilayah Afganistan sejak 1996 sampai 2001.

Kelompok Taliban dibentuk pada September 1994, mereka mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat dan Pakistan. Kelompok ini mendapat pengakuan diplomatik hanya dari tiga negara: Uni Emirat Arab, Pakistan, dan Arab Saudi, serta pemerintah Republik Chechnya Ichkeria yang tidak diakui dunia Dewan Keamanan PBB mengecam tindakan kelompok ini karena kejahatannya terhadap warga negara Iran dan Afghanistan.

Taliban melakukan berbagai aksi pelanggaran HAM di Afghanistan. Gerakan ini mulanya didominasi oleh orang-orang Pashtun dan pertama kali muncul di pesantren-pesantren kebanyakan dibiayai oleh Arab Saudi yang biasanya menganut aliran Sunni garis keras.

Anggota-anggota paling berpengaruh dari Taliban, termasuk Mullah Mohammed Omar, pemimpin gerakan ini, adalah mullah desa (pelajar yunior agama Islam), yang sebagian besar belajar di madrasah di Pakistan. Gerakan ini terutama berasal dari Pashtun di Afganistan, serta Provinsi Perbatasan Barat Laut (North-West Frontier Province, NWFP) di Pakistan, dan juga mencakup banyak sukarelawan dari Arab, Eurasia, serta Asia Selatan.

Kelompok Taliban digulingkan dari kekuasannya di Afghanistan oleh pasukan yang dipimpin oleh AS pada 2001, namun kelompok ini telah melakukan serangan dalam beberapa bulan terakhir dan kini nyaris menguasai kembali negara Afgganistan Tersebut.

Kelompok taliban melakukan pembicaraan dan negosiasi secara langsung dengan pemerintah Amerika Serikat di tahun 2018, dan pada Februari 2020, keduanya menandatangani kesepakatan damai di kota Doha yang berisi komitmen Amerika Serikat untuk menarik pasukannya dan Taliban berkomitmen untuk tidak melakukan serangan pada pasukan Amerika Serikat. Janji-janji lain yang termasuk didalamnya iyalah tidak mengizinkan al-Qaeda atau militer lain untuk beroperasi di area yang dikuasainya, dan melanjutkan perjanjian perdamaian nasional. Namun setahun setelah perjanjian itu diteken, Taliban terus menargetkan serangan ke pasukan keamanan Afghanistan dan dengan cepat menyerang berbagai wilayah di seluruh negeri.

Dari Afghanistan barat-daya, Taliban dengan cepat menyebarkan pengaruhnya. Pada September 1995, mereka merebut Provinsi Herat, di perbatasan Iran, dan tepat setahun kemudian mereka merebut ibu kota Afghanistan, Kabul.

Mereka menggulingkan kekuasaan rezim Presiden Burhanuddin Rabbani salah satu pendiri mujahidin Afghanistan yang menentang pendudukan Uni Soviet. Pada 1998, Taliban menguasai hampir 90% wilayah Afghanistan. Masyarakat Afghan, yang sudah lelah dengan ekses mujahidin dan pertikaian setelah Soviet terusir, secara umum menyambut kemunculan Taliban saat mereka pertama kali muncul.

Popularitas ini sebagian besar karena keberhasilan mereka memberantas korupsi, membatasi pelanggaran hukum, dan membuat jalan-jalan dan area-area di bawah kekuasaan mereka aman untuk perdagangan.

Namun Taliban juga memperkenalkan atau mendukung hukuman yang sejalan dengan penafsiran mereka akan hukum Syariah seperti eksekusi di depan umum terdakwa pembunuhan dan pezina, dan amputasi bagi mereka yang diputuskan bersalah karena pencurian. para pria diharuskan menumbuhkan jenggot, sementara para perempuan diwajibkan mengenakan burka yang penutup seluruh tubuh.

Taliban juga melarang televisi, musik dan bioskop, juga tidak memperbolehkan anak perempuan di atas sepuluh tahun untuk sekolah. Mereka dituduh melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia dan budaya. Salah satu yang paling terkenal adalah pada 2001, ketika Taliban melanjutkan penghancuran patung Buddha Bamiyan yang terkenal di Afghanistan tengah, meski muncul kemarahan internasional.

Pakistan telah berulang kali membantah sebagai arsitek berdirinya gerakan Taliban. Namun tak diragukan, banyak warga Afghanistan yang bergabung dengan gerakan ini adalah lulusan madrasah-madrasah di Pakistan.

Pakistan juga merupakan satu dari tiga negara, bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), yang mengakui Taliban saat mereka berkuasa di Afghanistan. Pakistan juga negara terakhir yang memutuskan hubungan diplomatik dengan kelompok tersebut. Di satu titik, Taliban mengancam akan merusak stabilisasi Pakistan dari area-area yang mereka kuasai di wilayah barat laut. Salah satu serangan Taliban di Pakistan yang paling terkenal dan dikecam dunia internasional terjadi di Oktober 2012, ketika Malala Yousafzai ditembak dalam perjalanan sepulang sekolah di Kota Mingora. Serangan militer besar-besaran dua tahun kemudian, menyusul pembantaian di sekolah Peshawar, mengurangi pengaruh kelompok ini di Pakistan.

Setidaknya tiga tokoh kunci Taliban di Pakistan tewas karena serangan udara AS pada 2013, termasuk pemimpin kelompok itu, Hakimullah Mehsud. Perhatian terhadap penguasa Taliban di Afghanistan makin besar setelah serangan di World Trade Centre, New York, September 2001. Mereka dituduh memberi perlindungan kepada Osama Bin laden dan gerakan al-Qaeda, yang dianggap bertanggungjawab atas serangan itu. Pada 7 Oktober 2001, koalisi yang dipimpin AS melancarkan serangan di Afghanistan, dan pada pekan pertama Desember tahun yang sama, Taliban runtuh. Pemimpin kelompok itu, Mullah Mohammad Omar, dan sejumlah tokoh senior lainnya, termasuk Bin Laden, lolos dari salah satu perburuan terbesar di dunia.

Banyak pemimpin senior Taliban dilaporkan berlindung di Kota Quetta di Pakistan, tempat di mana mereka memimpin Taliban. Namun keberadaan tempat yang dijuluki “Quetta Shura” disangkal oleh Islamabad. Meski dengan banyaknya pasukan asing, Taliban perlahan-lahan mengumpulkan kekuatan dan melebarkan pengaruh di Afghanistan, membuat banyak wilayah di negara itu tidak stabil, dan kekerasan meningkat ke tingkat yang tidak pernah terlihat lagi sejak 2001. Banyak serangan Taliban terjadi di Kabul, dan pada September 2012, kelompok tersebut melakukan serangan besar-besaran di pangkalan NATO, Kamp Bastion. Harapan untuk negosiasi perdamaian pertama kali diangkat pada 2013, saat Taliban mengumumkan akan membuka kantor di Qatar. Namun ketidakpercayaan antarpihak masih tinggi dan kekerasan terus berlanjut.

Pada Agustus 2015, Taliban mengakui mereka menutup-nutupi kematian Mullah Omar yang diberitakan karena masalah kesehatan di sebuah rumah sakit di Pakistan selama lebih dari dua tahun. Di bulan berikutnya, kelompok itu menyatakan telah mengesampingkan pertikaian selama beberapa minggu untuk memilih pemimpin mereka yang baru, Mullah Mansour, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil Mullah Omar. Pada waktu nyaris bersamaan, Taliban merebut kekuasan ibu kota provinsi untuk pertama kalinya sejak kekalahan mereka pada 2001. Mereka menguasai Kunduz, kota yang penting dan strategis. Mullah Mansour tewas dalam serangan udara AS pada Mei 2016 dan digantikan oleh wakilnya Mawlawi Hibatullah Akhundzada, yang hingga kini masih memimpin kelompok ini.

Hitung mundur penarikan pasukan

Pada tahun setelah kesepakatan damai AS-Taliban pada Februari 2020 yang merupakan puncak dari pembicaraan yang panjang Taliban tampaknya mengubah taktik, dari serangan kompleks di kota-kota besar dan pos-pos militer ke gelombang pembunuhan yang menargetkan masyarakat sipil Afghan. Namun dari targetnya jurnalis, hakim, aktivis perdamaian, perempuan dengan posisi kekuasaan tampaknya Taliban tidak mengubah ideologi ekstremisnya, melainkan hanya strategi mereka. Meskipun pemerintah Afghanistan telah menyatakan kekhawatirannya, Presidan AS Joe Bidan mengumumkan pada April 2021 bahwa semua pasukan Amerika akan meninggalkan negara tersebut pada 11 September. Dua dekade setelah jatuhnya World Trade Center. setelah berhasil menumbangkan kekuatan besar AS selama dua dekade perang, Taliban mulai merebut wilayah-wilayah Afghanistan. Kelompok ini diperkirakan kini memiliki lebih banyak jumlah daripada ketika mereka digulingkan pada 2001 NATO memperkirakan mereka memiliki sekitar 85.000 petarung penuh waktu.

Penulis : Dhimas Arya Fratama (Mahasiswa Program Study Politik Islam UIN Raden Fatah Palembang)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Merasa Terancam Saat Didatangi dan Ditantang Berkelahi, Joko Polisikan CN

Palembang, Detik Sumsel — Karena merasa dirinya terancam Joko (34) warga komplek Taman Bukit Raflesia, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *