Sidang Masjid Sriwijaya, Tim Verifikasi: ” Proposal Belum ada, Tapi Dana 50 M Sudah Cair “ | Detik Sumsel
Pemprov
11 pejabat teras Sumsel yang menjadi saksi di sumpah sebelum memberikan keterangan di persidangan kasus Dugaan korupsi dana hibah Masjid Sriwijaya, Selasa (7/9) Detik Sumsel.com,  M Mahendra Putra.
11 pejabat teras Sumsel yang menjadi saksi di sumpah sebelum memberikan keterangan di persidangan kasus Dugaan korupsi dana hibah Masjid Sriwijaya, Selasa (7/9) Detik Sumsel.com,  M Mahendra Putra.

Sidang Masjid Sriwijaya, Tim Verifikasi: ” Proposal Belum ada, Tapi Dana 50 M Sudah Cair “

Palembang, Detik Sumsel,- Kucuran dana hibah pembangunan masjid Raya Sriwijaya di Palembang banyak kejanggalan bahkan tak sesuai prosedur alias maladministrasi.

Fakta tersebut diungkap oleh salahsatu saksi dalam keterangannya pada persidangan dengan terdakwa Edi Hermanto, Syarifudin, Yudi Arminto, dan Dwi Krisdayani, yang digelar di PN Klas 1 A khusus Tipikor  Palembang, Selasa (7/9).

Selain tanpa adanya proposal, pengalokasian atau penerapan dana berjumlah fantastis ini diketahui tanpa pembahasan awal yang konkrit.

Dalam persidangan yang diketuai hakim Sahlan Effendi SH MH itu, dari sebelas saksi yang dihadirkan dan didengarkan keterangannya satu persatu, beberapa mengungkap fakta yang menarik.

Salah satunya Suwandi tim verifikasi dokumen Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Sumsel dalam kesaksiannya menegaskan, pemberian dana hibah pembangunan masjid itu dilakukan tanpa dibekali oleh proposal permohonan dari Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya selaku penyelenggara pembangunan, “ Tak ada proposalnya, tapi sudah cair dana hibah senilai Rp50 miliar, pada termin pertama, ” terangnya.

Itu lanjut Suwandi saat dirinya diperintah oleh Kepala Biro Kesra Ahmad Nasuhi (tersangka dalam berkas terpisah) guna melakukan verifikasi dokumen pencairan dana hibah pembangunan masjid tersebut tahun 2015.

Saat memverifikasi, didapati bahwa Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya sama sekali belum pernah menerbitkan atau memberikan selembar pun proposal permohonan pembangunan ke Pemprov Sumsel.

Sedangkan Agustinus Toni (mantan staf di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Sumsel) bersaksi menerangkan, jika ada dua tahap pencairan dana hibah untuk masjid.

Kedua kali pencairan, yaitu termin pertama pada tahun 2015 senilai Rp50 miliar, dan termin kedua pada tahun 2017 senilai Rp80 miliar.” Saya hanya menjalani perintah, yang mulia, semua usul selalu disetujui oleh ketua BPKAD atas nama Laoma L Tobing,” tegas saksi.

Sedangkan Akhmad Najib selaku Asisten III Bidang Kesra Pemprov Sumsel saat itu menganggap pemberian dana hibah tersebut sudah sesuai dengan aturan, yaitu Permendagri Nomor 32 Tahun 2012 tentang Pedoman Dana Hibah, SK Gubernur Sumsel, dan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13 Tahun 2014.“ Sudah saya pelajari dokumennya, perdanya ada, pergubnya ada, Terkait kelengkapan dokumen sebelumnya itu saya tidak tahu,” jelas najib.

Persidangan berjalan dengan lancar, saksi maupun terdakwa nampak kooperatif dan serius mengikuti sesi demi sesi jalannya persidangan yang memakan waktu dari pagi hingga malam hari ini, Usai mendengarkan ketarangan para saksi, majelis hakim menyatakan sidang ditutup dan akan dilanjutkan pada pekan depan dengan agenda masih keterangan saksi.

Sidang kali ini dihadiri sebelas orang saksi termasuk dua orang tersangka yang berkas perkaranya sudah dilimpahkan ke JPU.

Saksi itu ialah Richard Cahyadi (mantan Kaban Kesbangpol Sumsel), Agustinus Toni (Staf BPKAD Sumsel), Suwandi (tim verifikasi dokumen Setda Pemprov Sumsel), Rita Aryani, Joko Imam (mantan Asisten IV Administrasi dan Umum Setda Provinsi Sumsel).

Selain itu, MA Gantada (mantan Ketua DPRD Sumsel), Akhmad Najib (Asisisten III Kesejahteraan Rakyat Setda Sumsel), Mukti Sulaiman (tersangka), Ahmad Nasuhi (tersangka), Laoma L Tobing (Kepala BPKAD Sumsel), Toni Aguswara (Anggota Divisi Hukum dan Administrasi Lahan.

Ada beberapa pejabat sebagai saksi, yaitu Ardani (Kepala Divisi Hukum Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya sekaligus Kepala Biro Hukum Setda Provinsi Sumsel), Angga Ariansyah (Kabag Aset Pemprov Sumsel), dan Syahrullah (Wakil Ketua Divisi Hukum dan Lahan Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya), Lumassia (Sekretaris Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya), dan Zainal Effendi Berlian (Ketua Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya sejak 2020), Akmad Najib (Asisten III Bidang Kesra Setda Sumsel), Muddai Madang (mantan Bendahara Umum Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya).

Kasus ini pun menyeret mantan Gubernur Sumsel sekaligus Anggota Komisi VII DPR RI Alex Noerdin, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie.

Empat terdakwa disebut telah melanggar Pasal 2 juncto Pasal 18 UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 KUHP dan subsider Pasal 3 jo Pasal 18 UU No. 20/2001 jo Pasal 55 Ayat (1).(vot)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Hidupkan Sunnah Memanah, Pesantren Tahfizh Kiai Marogan Gelar Archery Tournament

Palembang, Detik Sumsel — Pesantren Tahfidz Kiai Marogan menggelar Marogan Archery Tournament Sumatera Open Ground …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *