Tarif Ojol Naik, Pengamat Ingatkan Pemerintah Kaji Mendalam Wacana Kenaikan Tarif

Iklan detik Sumsel

Palembang, DetikSumsel.com –  Tarif Ojek Online per 10 September 2022 mengalami kenaikkan, hal ini merupakan keputusan Kementerian Perhubungan seiring dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Pengamat Ingatkan Pemerintah Kaji Mendalam Wacana Kenaikan Tarif dari Universitas Muhammadiyah Palembang Sumatera Selatan Dr. Sri Rahayu mengatakan dalam menentukan besaran tarif transportasi online, pemerintah sebaiknya melakukan beberapa tahapan, mulai dari survei, pembahasan dengan pihak terkait, evaluasi, penetapan kebijakan, hingga sosialisasi.

“Pembahasan terkait tarif transportasi online ini harus komprehensif, tidak sekadar pembahasan di OPD (Organisasi Perangkat Daerah) dan langsung ditetapkan, jelas itu akan menimbulkan gejolak,” ujar Sri Rahayu, Rabu (28/9/2022)

Ia menjelaskan, tahapan pertama pemerintah harus melakukan survei terlebih dahulu ke masyarakat dan pengemudi taksi online dengan menggandeng lembaga yang kompeten dan netral, seperti perguruan tinggi. Setelah data diperoleh, dirumuskan dahulu apakah harus ada kenaikan tarif.

Setelah proses penelitian, pemerintah perlu mengundang seluruh komponen terkait untuk mendiskusikan hal tersebut, kalau memang pembahasannya sudah dirasa pas, usulan tarif dapat ditetapkan.

“Kemudian kebijakan itu harus disosialisasikan dengan menjelaskan kepada masyarakat bahwa berdasarkan hasil riset yang dilakukan pemerintah bersama lembaga penelitian dan mempertimbangkan kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), serta kondisi tarif sudah lama belum mengalami kenaikan, maka tarif taksi online harus ditetapkan sebesar sekian. Jelaskan pula apa keuntungan dari kenaikan tarif ini bagi masyarakat dan pengemudi,” jelas Sri Rahayu.

Menurut Sri Rahayu, pemerintah juga perlu banyak berdiskusi dengan perusahaan aplikator penyedia jasa taksi online.

Jika ternyata pihak aplikator sendiri sudah menyesuaikan tarifnya, maka usulan tarif yang ditetapkan pemerintah harus ditinjau kembali. Jangan-jangan pemerintah nanti terlalu tinggi menetapkan tarif.

“Selama ini pemerintah cenderung menetapkan harga lebih tinggi. Akibatnya, ketika harga tinggi masyarakat akan mencari barang substitusi dan meninggalkan permintaan terhadap taksi online. Masyarakat kemungkinan mencari produk pengganti dengan membeli kendaraan sendiri meski harus menyicil,” ungkapnya.

Terkait masalah transportasi, Sri Rahayu menyebut yang lebih penting dilakukan pemerintah saat ini adalah membenahi layanan angkutan umum. Pasalnya, transportasi online dipilih karena dinilai lebih praktis dan nyaman dibandingkan angkutan umum.

“Misalnya di Sumsel ada fasilitas MRT, tapi MRT ini tidak menyelesaikan masalah transportasi mayarakat secara umum, misal rutenya hanya dari Bandara ke Jaka Baring. Sementara yang hendak ke Plaju daerah yang banyak perguruan tinggi, mahasiswa harus menggunakan transportasi tambahan lagi,” jelasnya.

Selain itu, tingkat keamanan dan kenyamanan angkutan kota (angkot) dan bus masih sangat kurang. Mulai dari tempat menunggu yang tidak nyaman, begitu pula kondisi dalam angkot yang kurang aman, kadang supir pun tidak memberikan kembalian pembayaran sesuai tarif.

“Kalau misal angkutan umum nyaman, aman, pelayanan bagus, jelas masyarakat akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan memilih menggunakan kendaraan umum. Pemerintah harus lebih fokus perbaiki layanan angkutan umum, kalau taksi online ini kan kendaraan pribadi atau usaha individu,”tutupnya (May)

Komentar